
" mas kamu kemana aja??, aku udah telpon kamu berulang kali. kenapa baru sekarang kamu angkat?? " tanya Nisa beruntun saat panggilannya tersambung karena kesal padahal jam makan siang sudah hampir habis
" maaf sayang, handphone nya mas silent. tadi habis rapat mas lupa buat dering. maaf ya " ujar Azka dengan nada menyesal di ujung telepon
" tumben kamu buat silent, biasa mau rapat ataupun bertemu clien kamu enggak pernah aktifin mode silent. kamu enggak lagi menyembunyikan sesuatu kan mas " jawab Nisa yang merasa tingkah laku suaminya aneh
" apaan sih nis, kamu kok malah nuduh-nuduh aku yang enggak-enggak " sentak Azka di ujung telepon lalu detik selanjutnya panggilan telepon mati.
" kamu kenapa mas?? kenapa kamu bisa sekasar itu bicara sama aku?? aku bertanya juga karena kamu aneh Minggu ini mas " ujar Nisa menutup wajahnya dengan kedua tangannya agar air matanya tidak nampak bila menetes. takut-takut anak sambungnya tiba-tiba masuk kamar
sementara Azka sendiri tengah menyesal karena marah-marah tidak jelas pada istrinya. saat ini ia dalam keadaan kalut, ia bingung harus berbuat apa. Azka berharap Nisa tidak akan marah padanya.
" pak tolong tanda tangani surat-surat yang harus di lengkapi " ucapan itu membuatnya tersadar setelah memikirkan banyaknya masalah
" sebentar" sahutnya singkat
" saya sarankan, bapak harus jujur pada ibu. sebelum semuanya terlambat pak, jangan sampai menyesal di kemudian hari " ucap sang asisten yang selalu di sampingnya, sedangkan Azka terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari mulut asistennya. tapi ia harus mulai dari mana, ia bingung dengan yang terjadi pada rumah tangganya
" Hem " jawaban singkat Azka
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
" ma, mama kenapa " suara qila memenuhi pendengaran Nisa yang masih menutup wajahnya.dan dengan cepat Nisa mengusap sisa-sisa air matanya
" enggak apa-apa saya, tadi mama baca novel. sedih banget ceritanya sampai mama nangis sendirian gini" ujar Nisa mencoba tersenyum meski hatinya tengah merasa sakit
" oh gitu " sahut qila menganggukkan kepalanya karena memang Mama nya sering nangis sendiri kalau baca novel online
" taman yuk ma, kakak bosan nih " pintanya setelah mendudukkan diri di samping Nisa
" emmttt..... taman ya " ujar Nisa pura-pura berpikir
" iihhh...... Mama " rengek qila memeluk Nisa dari samping
" baiklah, kamu siap-siap dulu sana. terus bilang sama pak supir supaya siapin mobilnya " ujar Nisa tersenyum sambil membalas pelukan dan mengusap rambut panjang qila
" cup udah buruan sana, mama juga mau siap-siap nih " ujar Nisa tersenyum setelah memberikan kecupan singkat di kening anaknya
" ok ma " sahut qila berlari kecil menuju kamarnya " bik ... bibik tolong bilangin sama pak supir untuk siapin mobil. qila mau ke taman sama mama " teriakan Qila terdengar hingga kamar Nisa
sedangkan Nisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar teriakkan itu
" daripada mikirin macem-macem mending aku keluar" ujar Nisa yang tengah bersiap " kita jalan-jalan ya Dede, kita ke taman sama kakak "ujarnya tersenyum mengelus perutnya lalu merasakan tendangan dari respon sang bayi
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
" ma, kakak beli itu ya " ujar Qila menunjukkan tukang es krim
" baiklah tapi jangan banyak-banyak. hati-hati jalannya, kalau sudah langsung balik ke sini ya " pinta Nisa tersenyum
" ok ma "sahut qila tersenyum lalu berjalan cepat menuju penjual es krim
tring tring.....
mendengar ponsel genggam nya berbunyi, dengan segera Nisa mengambil dari dalam tasnya.
" Rara, ada apa kok dia kirim pesan gambar" ujar Nisa hendak membuka pesan itu namun ia urungkan karena mendapatkan telpon dari sahabatnya
" Loe di mana?? di taman mana??" tanya Rara dengan nada cemas
" taman indah Sari Ra, ada apa sih kok suara loe kayak cemas gitu " tanya Nisa bingung
" tungguin gue di sana ok, dan jangan buka pesan gambar gue dulu ok " titah Rara langsung mematikan panggilan teleponnya
" aneh, kok semua orang pada aneh ya. ini lagi kenapa aku enggak boleh buka coba. penasaran gambar apaan, buka aja deh dari pada penasaran " gumam Nisa yang langsung membuka pesan gambar tersebut
__ADS_1
" enggak, enggak mungkin. enggak mungkin, ini pasti salah " ujar Nisa yang langsung membuang ponselnya beriringan dengan air mata yang menetes