
Dua bulan kemudian, hari demi hari Arumi jalani sebagai seorang wanita peng*hi*bur. Ya, dia menikmati pekerjaannya itu karena mendapatkan upah yang sangat besar. Belum lagi semua keinginannya pun terpenuhi dan dia saat ini sudah memiliki apartemen yang cukup megah.
Saat ini Arumi masih berada di kampus, sebentar lagi dia akan pulang dan kembali bekerja. Dirinya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan, sudah lima belas menit tetapi kelas belum juga selesai.
'Padahal sudah waktunya pulang, tetapi kenapa Miss Nana masih terus mengajar? Aku tidak sabar untuk segera bertemu dengan On Angga, dia janji hari ini akan membelikan aku cincin berlian.' ucap Rumi dalam hati hingga dia tidak fokus dengan pelajaran saat ini.
Hal tersebut di sadari oleh Miss Nana, dia menegur Arumi dan meminta kepada gadis itu agar mengulang pelajaran yang tadi dia jelaskan. Tentu saja Arumi bingung, dirinya hanya melihat ke sekeliling dan para Mahasiswa/i lain menatapnya dengan tawa mengejek.
'Cih, si*al*an!' batin Rumi merutuki kebodohannya dan kesal dengan teman satu kelasnya itu.
"Arumi, kenapa hanya diam saja? Apa kau tidak menyimak apa yang saya jelaskan?"
Saat Arumi ingin membuka mulut, tiba-tiba waktu pun habis dan Miss Nana mengatakan jika pelajaran telah selesai, selanjutnya akan di teruskan besok.
Arumi bisa bernafas lega, dia menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Akhirnya aku selamat," gumamnya pelan seraya mengelus dada.
Arumi selalu keluar paling akhir karena dia tidak ingin berdesakan dengan pelajar lainnya. Saat dia hendak berdiri dari tempat duduknya, seorang pemuda seusia Arumi menghampiri Rumi.
"Kau, kau Arumi bukan?" tanya pemuda itu sambil menatap Arumi.
Arumi pun mengangguk cepat. "Ya, ada yang bisa aku ban—" ucapannya terhenti karena pemuda itu mengebrak mejanya dan tentu saja dia sangat terkejut.
__ADS_1
"Oh, berarti kau yang selama ini menjadi simpanan Om ku, ya?''
Arumi mengerutkan dahinya. "Om? Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.''
"Jangan pura-pura polos, wanita ma*la*m! Kau pasti mengenal Angga, benar begitu bukan?"
"Angga? Angga siapa? Ada banyak nama Angga dan kau tidak bisa asal menuduhku seperti ini!" Arumi berdiri dari tempat duduk sambil memukul mejanya.
Pemuda tampan itu melotot tajam. ''Kau masih pura-pura tidak mengerti apa pun? Angga Prayudha, dia adalah Om ku dan dirinya juga kekasih gelapmu!" lanjutnya sambil menudingkan jari ke wajah Arumi.
Arumi menelan ludah, dia tahu benar siapa itu Angga Prayudha.
"Kau, apa hubunganmu dengan Angga?"
Arumi tidak terima, dia mencengkeram kerah baju pemuda tersebut.
"Jika memang benar adanya, kau mau apa? Hm?" tanya Rumi sambil tersenyum tipis.
Pemuda tersebut yang bernama Aldo langsung menggenggam pergelangan tangan Arumi dengan kencang.
"Menjauhlah dari Omku dan keluarganya! Kau bisa mencari pria lain yang belum memiliki pasangan," ucap Aldo menurunkan nada bicaranya.
Arumi berpura-pura tidak merasakan sakit di area pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Dengarkan aku, Aldo. Aku sudah nyaman bersama dengan Om Angga. Lalu aku bisa apa? Menurutmu, aku harus menjadi kekasih dari pria yang seperti dirimu? Oh tidak! Kau tidak memiliki apa pun, meski ada pasti itu harta milik orang tuamu bukan milikmu sendiri! Jadi aku tekankan sekali lagi, aku hanya menginginkan seorang pria yang mapan, tampan, dan bisa memenuhi segala kebutuhanku." Arumi melepaskan genggaman tangan Aldo.
Aldo mengepalkan tangannya dengan erat, rahangnya mengeras dan matanya menatap tajam. Dia benar-benar terpancing emosi atas apa yang Arumi katakan barusan.
"Kau—" Aldo ingin memukul wajah Arumi, tetapi sedetik kemudian dirinya sadar jika mahkluk di hadapannya saat ini adalah seorang perempuan.
"Hei, kenapa kau ingin bersikap kasar padaku? Aldo, jika kau menginginkan diriku maka kau harus memilki penghasilan sendiri. Dan tentu saja pemasukan yang sangat besar." ejek Arumi dengan tawa renyah.
Dirinya pergi meninggalkan Aldo yang diam mematung sambil terus mengepalkan kedua tangan dengan erat. Setelah tubuh Arumi hilang di balik pintu, pemuda itu pun memukul udara.
"Sh*it! Si*l! Dia pikir dia siapa bisa meremehkanku seperti itu? Cih, dasar perempuan mu*ra*han!" Aldo berdecih dan meludah ketika mengingat sikap sombong Arumi.
•
•
•
TBC
VISUAL Arumi
__ADS_1