
Satu bulan kemudian, Amran datang ke rumah Arumi bersama dengan kedua orang tuanya. Dia sudah memutuskan untuk melamar gadis itu untuk dijadikan pendamping hidupnya. Ya, meksipun orang tuanya mengatakan jika Arumi adalah mantan wanita malam, tetapi Amran tidak peduli.
"Allah membenci perbuatan maksiat, tetapi Allah juga akan senang melihat hamba-Nya mau bertaubat dengan tulus dan ikhlas. Setiap manusia tidak ada yang luput dari namanya kesalahan, kita ini hanyalah makhluk biasa yang di selimuti oleh dosa. Tetapi harus tetap mengingat untuk bertaubat, karena pada akhirnya kau akan mendapatkan hidayah yang indah jika kau mau bertaubat dengan serius."
Itulah ucapan yang Amran katakan pada orang tuanya. Dia tidak mempermasalahkan tentang masa lalu Arumi, karena semua orang memiliki masa lalu yang berbeda-beda. Intinya Arumi sudah mau bertaubat dan pembuktian itu sudah cukup bagi Amran.
Kedua orang tua tersebut akhirnya menyetujui keputusan putra mereka, hingga keduanya rela menanggung malu karena Amran tidak jadi menikah dengan Bunga.
Di rumah Arumi, gadis itu sedang mengemasi pakaian karena dia berniat untuk pulang ke kampung halaman dan membuka usaha kecil-kecilan disana. Biar bagaimanapun, dia disini hanyalah menumpang. Namun, ketika dia hendak masuk ke kamar mandi, dirinya menghentikan langkah kaki karena suara ketukan pintu.
Arumi bergegas berjalan keluar dari kamar, dia bingung siapa yang datang malam-malam seperti ini. Setelah dia membuka pintu, dirinya terkejut mendapati Amran beserta kedua orang tuanya yang sudah berdiri disana.
"Tante, om?" panggil Arumi pelan.
Kedua orang tua Amran tersenyum tipis, mereka masuk ke dalam rumah dan langsung duduk di kursi rotan .
__ADS_1
"Maaf, Tante. Saya baru pulang bekerja, jadi rumah masih berantakan." ucap Arumi tidak enak karena memang rumahnya sedikit berantakan.
"Tidak pa-pa, Arumi. Santai saja," balas Mama Amran tersenyum ramah.
"Oh ya, boleh saya tau ada keperluan apa Tante dan om datang ke rumah ini?"
"Ehem, begini Arumi." Papa Amran mulai membuka suara. "Kami sengaja datang kesini untuk melamarmu agar menjadi istri Amran. Apa kau setuju menerima lamaran ini?"
Arumi terdiam untuk sesaat, ini semua benar-benar sangat mendadak. Bahkan, beberapa Minggu ini dia dan Amran jarang bertemu, maka dari itu Arumi berpikir jika Amran hanya ingin bermain-main dengannya.
"Tapi, saya belum tahu bagaimana sifat Mas Amran." ujar Arumi jujur.
"Kau tidak perlu takut, sifatnya dan Ahmad itu sebelas dua belas."
Arumi menatap Amran yang juga ikut menatapnya.
__ADS_1
"Kau tidak perlu memikirkan apa pun lagi , Arumi. Untuk masalah siapa kau di masa lalumu, aku bisa menerimamu apa adanya. Jangan pernah mengungkit masa lalu dan lupakan semua hal jelek sudah-sudah. Mari kita lihat ke masa depan untuk menjalani bahtera rumah tangga yang sakinah, mawadah, warohmah."
Arumi benar-benar terharu dengan perkataan pria itu, sedetik kemudian senyumnya terbit dan dia mengangguk perlahan.
"Aku akan menerima lamaranmu, Mas. Mungkin inilah jawaban atas doaku selama ini."
Mereka semua tersenyum bahagia dan mengucapkan rasa syukur.
"Baiklah, kalau begitu kita akan mencari tanggal pernikahan yang bagus untuk kalian berdua. Jika bisa semuanya harus dilakukan secepat mungkin, karena lebih cepat lebih baik."
Kedua calon pengantin mengangguk setuju, Arumi memang sudah berpikir jika dia akan menerima Amran sebagai suaminya jika saja pria itu melamarnya. Dan ternyata semua terbukti benar, Amran akhirnya melamar dia dan mereka sebentar lagi akan menjadi pasangan suami-istri.
•
•
__ADS_1
Tbc