
Hari ini Arumi akan pergi menjemput Angga ke luar kota, pria itu sedang ada pekerjaan disana dan dia meminta Arumi agar menemaninya. Dia berkata jika dirinya kesepian dan butuh seorang teman. Tentu saja sebagai seorang wanita simpanan, Arumi mau memenuhi permintaan Angga.
Gadis itu pergi ke luar kota dengan mengendarai mobil yang Angga berikan untuknya. Namun, cuaca sudah gelap tetapi dia belum juga sampai tempat tujuan. Gadis cantik itu berdecak kesal, dia berulangkali menggerutu karena lamanya perjalanan menuju kota B.
"Kenapa harus aku? Bukankah dia banyak uang? Seharusnya dia bisa mencari wanita lain disana untuk menemani hari-harinya, menyebalkan!" gerutunya sambil memukul stir mobil.
Tepat pukul sembilan malam, Arumi telah sampai di kota tujuan. Dia menghela napas lega karena tugu selamat datang telah dilihatnya.
"Hah, akhirnya sampai juga. Melelahkan!" ucapnya sedikit lega. Dia menghentikan mobilnya dan mencoba untuk menghubungi Angga.
Tut Tut Tut
Cukup lama panggilan itu terhubung barulah Angga menjawabnya.
"Mas, dimana hotelmu? Aku sudah sampai di kota B dan akan segera menuju ke hotel."
Angga menyebutkan nama hotelnya dan dia pun memberitahu nomor kamarnya. Setelah itu, Arumi menjawab iya dan panggilan langsung terputus. Dia meletakkan ponselnya ke dalam dashboard mobil lalu kembali melaju pergi.
Gadis itu bersenandung ria, dia tidak sadar jika ada sebuah mobil yang mengejarnya dari belakang. Saat ada sorotan lampu yang memantul di kaca spion mobilnya, barulah dia sadar jika mobil berwarna hitam kilat itu mengikutinya.
"Astaga, apa mungkin mobil itu memang mengikutiku? Tapi untuk apa? Bahkan aku tidak tahu itu mobil siapa," Arumi mencoba untuk berpikir positif.
"Tidak-tidak! Mungkin saja itu kebetulan hanya kendaraan ingin lewat saja, tetapi kenapa dia tidak mau melaju duluan?" gumam Arumi masih memperhatikan laju mobil di belakangnya. Dia sengaja memelankan laju kendaraannya untuk memastikan dugaan.
Namun, siapa sangka ternyata mobil itu bener mengikuti Arumi. Dia yang bingung langsung menancap gas dan pada akhirnya mobil di belakang berhasil mengejar dia dan menghadang jalannya.
Cit!
__ADS_1
Arumi menginjak pedal rem dengan sangat dalam, napasnya memburu dan pikirannya sangat kacau.
"B—bagaimana ini?" Arumi melihat ke sekeliling lewat jendela mobil.
Ternyata jalanan itu sangat sepi, sepertinya jarang ada kendaraan yang lewat dari sana.
"Apa maps ini membohongiku? Matilah aku!"
Arumi memiliki ide, dia segera mengambil ponselnya dan menghubungi Angga untuk meminta bala bantuan. Tetapi, belum sempat bicara dengan Angga, kaca jendela mobilnya sudah di ketuk dan semakin membuat Arumi ketar-ketir. Dia gugup sekaligus takut, bingung harus melakukan apa.
"BUKA PINTUNYA! KALAU KAU TIDAK INGIN MEMBUKA, MAKA KAMI AKAN BERBUAT KASAR!" ancam pria bertopeng yang tubuhnya tinggi besar.
Mau tidak mau Arumi keluar dari mobil karena dia melihat pria itu membawa tongkat golf, dia yakin jika ancaman pria itu bukan hanya sekedar gertakan semata. Dirinya menutup pintu mobil dengan pelan sambil mengangkat kedua tangan ke atas.
"K—kalian siapa?" tanya Arumi berusaha bersikap tenang.
Kedua pria itu tersenyum sinis, mereka saling tatap dan memandang Arumi dengan lapar.
"Ya, kau memang tidak punya masalah dengan kamu tetapi kau, kau memiliki masalah dengan bos kami." kedua pria tertawa bersamaan.
"Apa maksudmu? Siapa bos kalian, katakan padaku!" bentak Arumi mulai terpancing emosi.
"Wah wah wah, ternyata kau adalah wanita yang keras, ya? Kami suka itu," sambung pria itu bukan menjawab malah semakin menggoda Arumi.
Arumi menggelengkan kepalanya. "Biarkan aku pergi! Berapa pun uang yang kalian minta pasti aku berikan, tapi intinya aku harus pergi dari sini."
"Hei, tidak semudah itu, cantik! Kami berdua tidak mungkin mengkhianati bos kami dan membiarkanmu pergi begitu saja. Bos kami meminta agar kau lenyap dari dunia ini, tetapi sebelum itu, kita akan bersenang-senang terlebih dahulu. Bukankah kau suka bermain dengan para pria?" ejek pria tersebut dengan tawa keras.
__ADS_1
"Cih!" Arumi meludah jijik. "Jangan harap aku mau melayani kalian berdua, dasar br*en*ng*sek!" lawannya dengan berani.
"Jadi kau tidak mau menuruti permintaan kami? Baiklah, kalau begitu kami terpaksa melakukan kekasaran."
Kedua pria itu berjalan mendekati Arumi yang mulai ketakutan, dia cukup lama mengulur waktu namun tidak ada bantuan yang datang. Dirinya mulai frustasi, dia akan menyerahkan nyawanya tetapi tidak untuk melayani kedua pria itu.
"Menjauh! Jangan pernah berani menyentuhku atau kalian akan tahu akibatnya." teriak Arumi memberikan ancaman.
Tentu saja ucapannya tersebut hanya menjadi candaan semata untuk kedua pria itu, mereka malah semakin mendekat ke arah Arumi hingga gadis itu pun memutuskan untuk berlari sekencang mungkin. Hari ini mengingatkan dia sewaktu pertama kalinya dia di lecehkan oleh kedua preman sewaktu dirinya pulang bekerja.
Arumi berhenti, dia melepaskan heelsnya dan kembali berlari.
"Mau lari kemana, cantik? Kau tidak akan bisa kabur semudah itu dari kami,"
Arumi menoleh kebelakang dan tanpa sadar di depannya ada tiang lampu jalan. Dirinya terjatuh karena kepalanya terbentur, dia memegangi dahi yang terasa mengeluarkan darah segar.
"Argh, sakit sekali." lirihnya seraya memejamkan mata sejenak.
Arumi mendengar suara langkah kaki yang semakin dekat, dia membuka mata dan ternyata kedua pria itu sudah berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Sekuat tenaga, gadis itu berdiri dari duduknya. Dia berjalan dengan langkah gontai dan sesekali menoleh kebelakang.
"Tolong aku, Tuhan." ucapnya berdoa dan saat dia melihat ke depan ternyata ada sorot lampu yang membuat matanya sakit.
"Argh!" teriak Arumi kencang dan dia jatuh pingsan.
Sementara kedua pria itu, mereka berhenti dan menatap tubuh Arumi yang tergeletak lemas di atas aspal.
•
__ADS_1
•
TBC