
Satu bulan kemudian, menghilangnya Arumi menjadi pembicaraan hangat di seluruh klub malam. Mereka semua bertanya apa yang sebenarnya terjadi dan menduga jika ada seseorang dengan sengaja menginginkan kepergian Arumi. Semuanya sudah mencari informasi tentang gadis itu tetapi sama sekali tidak mendapatkan petunjuk. Bahkan, Angga sangat frustasi karena gadis yang dia cintai sudah satu bulan ini tidak ada kabarnya.
Hal itu membuat istri Angga senang, dia berpikir jika gadis itu pasti sudah pergi jauh dari kota tersebut.
Kembali ke kompleks, Arumi pun menyapu halaman dan saat ini pakaiannya cukup tertutup. Dia tidak lagi menggunakan baju seksi atau ngepas di badan, dirinya baru menyadari jika selama ini apa yang dia lakukan itu salah. Pekerjaannya sangat haram dan tentu saja itu dibenci oleh Allah.
"Assalamualaikum, Kak Arumi." sapa gadis berusia sembilan belas tahun yang kala itu lewat di depan rumah Arumi.
"Waalaikumsalam, Naira dari mana?" tanya Arumi.
"Dari warung, kak. Habis beli sabun,''
Arumi mengangguk. "Mampir dulu, dek."
"Terima kasih, kak. Saya harus segera pulang, takut Ibu menunggu. Assalamualaikum," Naira tersenyum manis dan dia pergi berlalu setelah Arumi menjawab salamnya.
Setelah gadis itu pergi, Arumi pun bergegas masuk ke dalam rumah. Dia harus membersihkan rumah karena besok sudah menjelang bulan puasa. Ya, tentu saja dia harus puasa seperti tahun lalu. Namun, kali ini sangat berbeda. Dia harus berpuasa di tempat barunya dan bahkan tanpa ditemani oleh siapapun.
Tentu hati Arumi sangat sedih, tetapi dia harus bisa menjadi wanita tangguh dan tidak cengeng.
__ADS_1
"Kau harus kuat, Arumi! Huft, ingat kau tidak sendirian saat ini." dia menatap ke atas, dirinya seakan mengatakan jika Allah selalu ada bersamanya dan juga kedua orang tuanya yang sudah bahagia di surga.
Pukul sembilan pagi, Arumi telah selesai membersihkan rumah dan mencuci pakaian. Dia pun bergegas mandi lalu ingin menunaikan sholat Dhuha. Setelah selesai mandi, dia memakai pakaian sopan lalu mukenah. Dirinya membentang sajadah yang akan menjadi tempat berdirinya ketika sholat.
Tujuh menit kemudian, Arumi sudah selesai menunaikan ibadah sholat Dhuha. Dia mengambil tasbih dan mulai berdzikir. Sesudah itu, dia menengadahkan keduanya tangannya, meminta ampun kepada Allah SWT.
"Ya Allah, maafkan segala dosa-dosaku. Engkau Maha Pengasih dan Maha segala-galanya, aku yakin Engkau pasti mengampuni segala perbuatanku selama ini. Aku baru sadar jika aku melakukan hal yang salah dengan menjadi seorang wanita malam. Aku ingin bertobat, aku juga ingin hidup normal seperti yang lainnya. Memiliki suami, anak dan membentuk keluarga bahagia. Tolong kabulkan permohonan baikku, Ya Allah." Arumi menyudahi doanya dengan mengusapkan kedua telapak tangan di wajah.
Dia melipat kembali sajadah dan mukenahnya, lalu dia pergi keluar dari kamar. Hari ini Arumi mendapatkan shift siang, itu berarti dia akan pulang pukul sepuluh malam. Pekerjaannya saat ini adalah sebagai seorang waiters di salah satu cafe, gaji yabg didapatkan tidak terlalu besar tetapi cukup untuk menanggung semua biaya hidupnya.
Arumi harus belajar bersyukur, dia akan melupakan pendapatan besar dari seorang wanita malam. Dirinya bergegas keluar dari rumah dan mengunci pintu, lalu dia jalan pergi dan akan menunggu angkutan umum di dekat gang.
Dirinya menghentikan langkah dan tersenyum tipis. "Eh, bang Ahmad. Ada apa?"
"Kau ingin pergi bekerja, ya? Bagaimana jika aku mengantarmu, kebetulan aku juga ingin pergi ke kota. Ada yang ingin aku beli,"
Arumi terdiam sejenak, dia tidak enak jika menyetujui tawaran dari Ahmad.
"Gimana? Daripada kau kesiangan, lagian cuaca juga sangat panas."
__ADS_1
"Em, gak usah deh, bang. Aku bisa naik angkot saja,"
"Kenapa, Arumi? Kau takut jika orang-orang akan berpikir buruk? Halah, tidak perlu dihiraukan! Toh kita hanya pergi bersama dan tidak melakukan hal apa pun,"
Arumi kembali berpikir, jika dia mau pergi bersama dengan Ahmad, tentu akan mengurangi biaya angkotnya. Uang angkot bisa dia tabung untuk tambahan membeli motor.
"Ya udah deh," Arumi pun akhirnya setuju dan Ahmad kegirangan seperti mendapat bongkahan emas.
Mereka pergi setelah Arumi naik ke atas motor Ahmad.
Ahmad Bakhri, dia adalah pria berusia dua puluh delapan tahun yang memiliki kebun kopi tak jauh dari kompleks yang Arumi tinggali. Dia terbilang kaya karena orang tuanya juga mempunyai toko emas yang cukup besar. Namun, diusianya saat ini, Ahmad belum menikah tetapi orang tuanya sudah menjodohkan dia dengan gadis cantik yaitu anak dari sahabat Ayah Ahmad.
Ahmad sudah menolak tetapi para orang tua tetap bersikeras menginginkan anak-anak mereka bersatu.
•
•
TBC
__ADS_1