
Sore pun tiba, syukuran di rumah Arif telah selesai dan semuanya pun pulang ke rumah masing-masing. Namun, disana masih ada Arumi yang berbincang dengan kedua orang tua Arif. Mereka sangat cepat akrab dan hal itu membuat Arumi senang.
"Umi, berhubung sudah sore, saya pamit pulang dulu, ya?
"Kenapa tidak berbuka puasa disini saja?" tanya Umi.
"Maaf, Umi. Bukannya menolak rezeki tetapi saya sudah terlanjur masak banyak di rumah. Ya, untuk berbuka sekalian. Sayang jika masakan itu tidak dimakan dan dibuang percuma, mubazir 'kan jadinya?"
Seketika Umi pun mengiyakan ucapan Arumi. "Ya sudah, hati-hati, ya?"
Arumi berdiri dari tempat duduk dan berpamitan pada semua orang. Dirinya di antar ke depan oleh Umi.
"Nak, kapan-kapan main ke rumah Umi, ya? Umi ada banyak hijab yang masih baru dan tidak terpakai, bahkan pakaian juga banyak yang sudah tidak muat di tubuh Umi. Bukannya bermaksud untuk merendahkanmu, tetapi sayang saja jika pakaian yang masih bagus harus rusak dimakan tikus." ucap sang Umi meminta maaf agar Arumi tidak tersinggung.
"Umi sudah memberikan beberapa pada Aisyah dan adiknya Arif, tetapi masih banyak lagi yang tidak terpakai di rumah. Masih bagus semuanya,"
"Insyaallah saya akan datang, Umi. Tapi, belum tahu kapan waktunya."
"Tidak pa-pa, Umi akan menunggu kedatanganmu." ujarnya sambil mengelus kepala Arumi yang tertutup hijab.
Mereka baru saja kenal tetapi sudah sangat dekat seperti ibu dan anak. Arumi pergi berlalu dari rumah Arif dan Umi masuk ke dalam rumah.
Saat di perjalanan, Ahmad memanggil Arumi dan seketika langkahnya pun terhenti.
"Bang Ahmad, ada apa?"
"Mau pulang, ya?" tanya Ahmad berbasa-basi.
"Enggak, bang. Aku mau ke pasar," sahut Arumi dengan tertawa kecil hingga menular ke Ahmad.
"Oh ya, kau puasa tidak?"
"Tentu saja aku berpuasa, kau sepertinya sepele denganku." Arumi memicing kesal.
__ADS_1
Ahmad tergelak, dia memegangi perutnya yang terasa kram karena melihat wajah imut Arumi. "Bagaimana, jika kita ngabuburit? Berbuka bersama, mau tidak?"
Arumi terdiam sambil berpikir. "Maaf, bang. Aku tidak—"
"Aku mohon, tidak harus ada penolakan." pinta Ahmad memelas.
Gadis itu mematung, dia heran mengapa Ahmad sangat manja seperti ini. Dirinya berpikir cukup lama hingga tanpa sadar kumandang Adzan Ashar terdengar di telinga mereka.
"Nah, sudah Adzan, bang. Sebaiknya bang Ahmad pulang, aku akan memberikan kabar nanti."
"Benar, ya? Tapi aku tidak mau kau menolaknya,"
"Hei, kau memaksaku, ya? Dasar!" decih Arumi membuang muka.
Ahmad terkekeh. "Aku hanya sedikit memaksa, jika kau tidak mau pergi bersamaku. Maka aku akan datang ke rumahmu, menarik tanganmu dan menggendongmu supaya mau ikut bersamaku." lanjutnya tertawa, itu hanyalah gurauan ancaman.
Arumi menggeleng, dia pergi meninggalkan Ahmad yang semakin menjadi kelucuannya.
"Hei, jangan lupa pukul setengah enam aku akan menjemputmu!" teriak Ahmad tidak di hiraukan oleh gadis itu.
Malam pun tiba, Arumi akhirnya mau pergi bersama dengan Ahmad. Dia kasihan pada pria itu yang selalu ada untuknya disaat dia susah ataupun senang. Arumi sama sekali tidak tahu jika Ahmad akan dijodohkan, entah apa yang terjadi kalau dia sampai mengetahui semuanya.
Saat mereka hendak pulang, tiba-tiba seorang wanita cantik menghampiri meja mereka. Wanita itu menggebrak meja dan menatap keduanya dengan tajam. Sontak hal tersebut membuat Ahmad kaget dan melotot geram.
"Maaf, Anda si—" belum selesai pertanyaan dari Arumi, wanita itu sudah membuka suaranya terlebih dahulu.
"Apa-apaan ini, Mas? Kau pergi bersama dengan wanita lain sementara kita sebentar lagi ingin bertunangan?"
Deg.
Jantung Arumi sangat sesak mendengar penuturan wanita itu, dia menatap Ahmad dengan rasa tidak percaya sementara pria itu hanya diam saja tanpa mengekspresikan wajahnya. Ya, dia tidak ingin menjelaskan apa pun karena dirinya tidak setuju dengan perjodohan ini.
"Mas, kenapa kau hanya diam saja? Jawab aku!" wanita itu melirik ke arah Arumi. "Apa yang sudah kau berikan pada calon suamiku, hah!" bentaknya dengan mata melotot.
__ADS_1
Ahmad berdiri dan tangannya memukul meja dengan kuat, sehingga atensi mata para pengunjung cafe menatap ke arah mereka. Tanpa basa-basi, pria itu menggenggam jemari Arumi dan mengajaknya pergi.
"Mas, Mas Ahmad!" teriak wanita tersebut tanpa rasa malu. Dia mengejar Ahmad yang sudah keluar dari cafe.
Setelah berada di luar, Ahmad melepaskan genggaman tangannya. Sementara Arumi, dia menatap pria itu sebagai tanda meminta penjelasan.
"Bang, apa kau bisa menjelaskan semuanya padaku? Apa yang kau sembunyikan dariku, siapa wanita itu?"
"Aku adalah calon istrinya!" sahut wanita tersebut dengan cepat.
Ahmad menatap tidak suka ke arah wanita itu, dia mengepalkan kedua tangannya dan mengeraskan rahang.
"Kami akan menikah—"
"Tutup mulutmu, Bunga! Sudah berapa kali aku katakan pada kalian jika aku menolak perjodohan ini, kenapa kau masih bersikeras bermimpi untuk menjadi istriku? Apa kau tidak paham dengan yang ku ucapkan?" ucap Ahmad ketus dan tegas.
Suaranya begitu bariton hingga membuat Arumi terkejut begitupun dengan Bunga.
"Mas, apa kurangnya aku? Aku mencintaimu dengan tulus, apa yang sudah wanita ini berikan padamu sehingga kau jadi seperti ini?" lirih Bunga supaya Ahmad bersimpati.
"Cukup, Bunga! Hentikan air mata buayamu itu, aku tidak akan percaya dengan ucapanmu karena aku sudah mengetahui siapa kau sebenarnya." tujuk Ahmad tepat di wajah Bunga.
Gadis itu menelan air ludah, jujur dia sangat menyesal dengan perbuatan masa lalunya. Ya, dia adalah seorang play girls dan entah sudah berapa banyak pria yang mencicipi tubuhnya. Pria-pria itu ialah kekasih dari Bunga. Namun, hal tersebut terjadi di luar negeri sewaktu Bunga masih melanjutkan pendidikan kuliah disana.
Kedua orang tuanya malu dan membawa Bunga ke Indonesia, bahkan kedua orang tua Bunga kembali mengoperasi selaput darah anak mereka itu agar bisa terlihat seperti per*aw*an kembali. Ahmad bukanlah pria bodoh, dia mencari semua informasi tentang Bunga sampai ke akar-akarnya. Hanya saja, orang tua Ahmad tidak percaya dengan perkataannya.
•
•
**TBC
NOTE**:
__ADS_1
Operasi selaput dara adalah prosedur bedah plastik yang bertujuan untuk memperbaiki atau merekonstruksi kembali selaput dara yang telah robek. Dalam istilah kedokteran, prosedur ini dikenal dengan sebutan hymenorrhaphy atau hymenoplasty.