
Dua bulan kemudian, Arumi berubah menjadi gadis yang pendiam. Dia lebih suka menyendiri dan bahkan menjauhi Amran. Dirinya tidak tahu bagaimana sifat pria itu yang sebenarnya. Jujur Arumi benar-benar bingung harus pergi kemana saat ini, dia tinggal di kota itu karena adanya Almarhum Ahmad yang selalu menemani hari-harinya. Sementara Arif, dia jarang melihat keadaan Arumi karena isu jelek bertebaran di komplek itu.
"Hiks, aku harus bagaimana?" lirih Arumi di atas sajadah, dia terus saja bertasbih hingga air matanya terasa kering mengingat setiap kejadian dalam hidupnya.
"Ya Allah, orang yang ku cintai telah tiada. Apa ini hukuman untukku karena aku dulunya suka merebut suami orang?" gumam Arumi menghentikan dzikirnya. Dia menutup wajah menggunakan kedua telapak tangan yang masih berbalut mukenah.
Ketika dia membuka mata, dirinya tersentak karena ada bayangan putih di depannya. Disana dia dapat melihat seorang pria tengah tersenyum manis menatapnya yang sedang terduduk di atas sajadah. Pria itu seperti Ahmad, wajahnya, matanya, semuanya persis sama.
Arumi ingin berdiri menghampiri bayangan itu, tetapi sedetik kemudian bayangan tersebut hilang di telan angin. Napas Arumi naik turun, dia menahan rasa sesak yang sangat dalam di dadanya.
"MAS AHMAD!'' teriak Arumi menangis, dia bersimpuh di bawah lantai.
"Mas, kenapa kau meninggalkanku?" isaknya tertunduk.
Setelah di rasa lelah menangis, Arumi kembali ke ranjang karena ini masih pukul dua malam. Dia sengaja bangun karena ingin menunaikan ibadah sholat tahajjud yaitu meminta petunjuk harus berbuat apa setelah ini, dirinya memejamkan mata dan kemudian terjun ke alam mimpi.
****
Pagi harinya, Arumi terbangun dengan keringat yang membasahi dahinya. Dia mengucek mata dan melihat ke sekeliling, dirinya beristighfar lalu menghembuskan napas perlahan.
"Astaghfirullah, ternyata cuma mimpi." ucap Arumi mengelus dadanya.
Dia menurunkan sebelah kakinya dan pergi melangkah ke kamar mandi. Beberapa menit kemudian, dirinya selesai membersihkan diri dan berganti pakaian. Dia juga sudah wangi, Arumi melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul tujuh pagi, dia harus segera berangkat sebelum terlambat.
Arumi terus melangkah pergi menuju gang, dia biasanya mencari taksi atau angkutan umum untuk pergi ke tempat kerja. Senyumnya terbit ketika melihat angkutan umum lewat, dia melambaikan tangan sebelah kanan dan angkutan tersebut pun berhenti tepat di depannya.
__ADS_1
Gadis itu melangkah guna masuk ke dalam sana, tetapi dia mengurungkan niat karena melihat seorang wanita yang ingin menyeberang dan sebuah mobil hendak melintas tepat dari arah kanannya.
"Ibu, awas!" teriak Arumi melihat semua mata menatap ke arahnya kecuali wanita yang hendak menyeberang itu.
Arumi berlari kencang dan dia dengan cepat menarik tangan sang wanita hingga keduanya terjatuh di pinggir jalan.
Bugh!
"Aw." Arumi meringis sebab tangannya terbentur batu besar. Darah keluar dari sikunya dan dia mencoba untuk meredam rasa sakit itu.
Tak di sangka, setelah wanita itu menoleh ternyata mereka saling mengenal.
"T—tante." panggil Arumi bersuara pelan.
"Arumi?" ujar Mama Ahmad.
Mama Ahmad melihat ke arah siku Arumi yang berdarah, dia bergegas meminta bantuan pada warga sekitar untuk membawa gadis itu ke puskesmas.
"Tidak perlu, Tante. Ini hanya luka kecil, nanti juga akan membaik." tolak Arumi ketika Mama Ahmad memaksanya untuk ke puskesmas.
"Jangan berkata begitu, kau mau jika terjadi infeksi pada tanganmu? Kau tidak boleh menganggapnya sepele."
Arumi hanya diam dan menuruti perkataan Mama Ahmad.
Mereka sudah sampai di puskesmas dan bidan langsung mengobati luka Arumi. Tidak cukup parah, mungkin nanti akan membengkak saja karena terkena benturan keras.
__ADS_1
Setelah selesai berobat, mereka keluar dari puskesmas.
"Arumi, terima kasih karena kau sudah menyelamatkan nyawa saya."
"Sama-sama, Tante. Lain kali Tante harus berhati-hati jika berjalan, usahakan melihat ke sekeliling terlebih dahulu untuk keselamatan Tante sendiri."
Mama Ahmad hanya mengangguk, dia tidak marah kali ini karena apa yang Arumi katakan itu benar.
"Kau ingin pergi bekerja?" tanya Mama Ahmad membuat Arumi mengangguk.
"Tapi, sepertinya hari ini saya akan ambil cuti. Tangan saya tidak bisa di paksa untuk bekerja." lanjut Arumi.
"Istirahatlah, maafkan saya yang sudah membuatmu seperti ini." ujar Mama Ahmad dan di balas gelengan cepat oleh Arumi.
"Ini hanya musibah, Tante. Tidak ada yang bisa menebaknya karena rahasia Allah. Besok atau lusa mungkin juga akan sembuh dan saya bisa bekerja lagi."
"Ya sudah, mari saya antar pulang."
Keduanya berjalan bersamaan ke rumah Arumi, tangan gadis itu di gendong saya ini karena mengalami luka dalam dan bidan menyarankan jangan terlalu banyak digunakan gerak terlebih dahulu.
•
•
TBC
__ADS_1