
Angga telah sampai di rumah, dia masuk ke dalam dengan raut wajah memerah dan penuh emosi. Bahkan, dirinya membuka pintu rumah sangat kencang hingga bunyi benturan terdengar menggema di seluruh penjuru rumah. Tentu saja hal itu membuat Fanny segera bergegas keluar dari kamarnya. Dia melihat sang suami yang menatap ke arahnya dengan tajam dan melotot.
"Mas, ada ap—" belum selesai bicara, ucapan Fanny sudah terpotong dengan pukulan tangan Angga.
Fanny terkejut, dia menatap Angga sambil memegang pipinya yang terasa memanas.
"Mas, apa yang kau lakukan?" teriak Fanny emosi dan nanar.
"Diam! Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu!" bentak Angga tak mau kalah.
Fanny menggeleng dan dia menatap Angga lekat-lekat.
"Kenapa kau harus sibuk mencari informasi tentang keseharianku selama ini? Kau mencurigaiku, iya!" tukas Angga marah.
"Mas, itu semua tidak seperti yang kau pikirkan. Aku, aku hanya ingin tahu penyebab perubahan sikapmu. Kau tidak seperti Angga yang ku kenal dulu. Tapi, ternyata benarkan jika kau bermain api di belakangku! Maka dari itu sikapmu berbeda, apa yang kau cari dari wanita ja*la*ng itu, Mas?" Fanny menitikkan air matanya.
"Semua yang tidak kau miliki, aku mencari itu darinya. Puas!" maki Angga di depan wajah Fanny.
__ADS_1
Sungguh sakit dan sesak rasanya dada Fanny di maki seperti ini, istri mana yang rela dan diam saja jika suaminya bermain gila di belakang. Seorang suami yang harusnya bisa menjadi tempat berkeluh-kesah, bersandar dan berlindung saat ini malah sebaliknya.
Ya, Angga kerap kali melakukan kekerasan fisik pada Fanny. Bahkan, dia beberapa bulan ini tidak memberikan jatah wajib untuk istrinya itu. Tentu saja Fanny sedih, dia pun merasa tidak terima dengan apa yang Angga lakukan padanya.
"Mas, aku minta jauhi wanita itu! Aku tahu jika diriku belum memberikanmu keturunan, tetapi percayalah jika Allah pasti sedang menyiapkan hal terindah untuk kita berdua. Berapa kali aku mengatakan itu padamu, Mas? Aku mohon tinggalkan wanita itu." isak tangis Fanny semakin menjadi, dia memegang jas yang Angga gunakan.
Angga pun tidak terima dengan ucapan Fanny, dia melepaskan genggaman itu dengan kasar dan bahkan dirinya bergantian mencengkeram dagu sang istri sekuat tenaganya.
"M—mas, s-sa-kit," ucap Fanny terbata karena memang dia susah bernapas.
"Dengarkan aku, Fanny! Sampai kapanpun aku tidak akan meninggalkan Arumi, dia itu lebih segala-galanya daripada dirimu. Kau harus introspeksi diri tentang kondisimu, jika kau tidak suka dengan caraku maka baiklah, kita akan bercerai." tegas Angga serius sambil melepaskan cengkeramannya.
"Tidak, aku tidak akan mau bercerai darimu. Kau harus ingat, Mas Angga! Aku yang sudah menemanimu dari nol, aku yang selalu ada untukmu disaat kau sedang terjatuh dan dalam masa sulit! Tetapi, ketika kau sudah sukses seperti sekarang, dengan seenaknya saja kau ingin mencampakkan aku?" Fanny berkata lirih.
"Tidak! Itu semua tidak akan pernah terjadi. Aku tidak rela jika wanita ja*la*ng itu menjadi ratu di rumah ini, dan dia tinggal enaknya saja menikmati jerih payahku selama ini yang selalu mendampingimu disaat kau susah." jawab Fanny panjang lebar.
Angga tidak bisa berkata apa pun karena yang Fanny katakan itu adalah benar. Dia bungkam hingga dirinya kembali melayangkan pukulan di wajah Fanny.
__ADS_1
"Apa yang kau inginkan, hah? Kau ingin harta, uang, saham atau lainnya sebagai tanda balas budi karena kau sudah menemaniku dari nol hingga sekarang?" tawar Angga tanpa memikirkan perasaan Fanny.
"Aku tidak menginginkan apa pun, aku hanya ingin suamiku, aku hanya ingin Angga yang dulu lagi! Angga si penyayang dan penyabar, tidak seperti sekarang!" pungkas Fanny kesal.
Angga tersenyum miring. ''Jangan mimpi, Fanny! Angga yang dulu sudah mati dan kau harus selalu berhadapan dengan Angga yang sekarang." balasnya tak kalah sengit.
Angga memilih untuk pergi dari rumah karena Fanny sudah tidak lagi menjawab perdebatan itu. Namun, saat dia hendak keluar dari rumah, dirinya kembali berbalik dan menatap Fanny dari kejauhan.
"Ingat satu hal lagi! Jika kau masih mau bersamaku, maka kau tidak perlu ikut campur antara urusanku dan Arumi, kau harus terima semua yang aku lakukan padamu! Tidak perlu mengekangku atau pun melarangku untuk melakukan apa pun di luaran sana. Kau jangan mengatur hidupku atau hubungan kita akan berakhir secepat mungkin.'' ucap Angga diselingi senyum sinis lalu dirinya pergi dari rumah.
Sementara Fanny, tubuhnya lunglai ke lantai dan dia berteriak sekencang mungkin untuk meluapkan segala rasa sakit hatinya. Dia bahkan menjambak rambutnya sendiri karena merasa bodoh.
''Bodoh, bodoh, bodoh! Aku adalah istri paling bodoh di dunia ini, suamiku terang-terangan bermain wanita di belakangku dan aku malah tetap mau bersamanya? Hiks, apa yang harus ku lakukan? Argh!'' teriak Fanny frustasi.
•
•
__ADS_1
TBC