Tasbih Cinta Arumi

Tasbih Cinta Arumi
Bab. 18 Tempat tinggal baru


__ADS_3

Arif sampai di rumah tepat pukul tiga pagi, dia menguap dan sesekali mengucek matanya. Saat dia membuka pintu, ternyata Aisyah masih setia menunggunya di sofa ruang tamu. Sungguh sebagai seorang suami Arif merasa bersalah. Dia pun menghampiri istrinya itu dan mengangkat ala bride style. Namun, perbuatan Arif disadari oleh istrinya.


Aisyah membuka kelopak mata dan dia menatap wajah Arif yang sangat dekat dengannya.


"Mas, kau Mas Arif? Aku tidak sedang bermimpi 'kan?'' tanya Aisyah bergumam.


"Ini aku, kau sama sekali tidak mimpi, Aisyah. Maaf karena aku pulang terlambat," ujar Arif tidak enak hati.


"Turunkan aku!" pinta Aisyah sedikit menekan ucapannya.


Arif menuruti permintaan sang istri, dia menatap istrinya itu dengan tatapan lembut. Dia menduga jika Aisyah saat ini sedang marah, tetapi semua di luar dugaan, wanita itu ternyata menangkup wajah Arif secara perlahan.


"Mas, apa yang terjadi? Kenapa kau bisa terlambat sampai di rumah?"


Keduanya saling tatap.


"Maaf, Aisyah. Tadi, di perjalanan aku mengalami musibah."


"Apa!" pekik Aisyah cepat dan kaget. "Lalu, bagaimana keadaanmu?" lanjutnya sambil mengecek tubuh Arif.


"Aisyah, aku baik-baik saja. Hanya —" Arif menggantung ucapannya karena Aisyah menyela dengan cepat.


"Hanya apa, Mas? Kau mengalami luka dalam, hah? Mana yang sakit? Musibah apa yang menimpamu?" Aisyah memberondongkan pertanyaan yang banyak hingga membuat Arif bingung menjawab mana terlebih dahulu.


"Aisyah, tenanglah! Aku baik-baik saja, cuma tadi aku hampir menabrak seseorang."


Aisyah melongo, dia mengedipkan mata berulangkali. "Menabrak? Lalu, keadaan orang yang ingin kau tabrak itu bagaimana, Mas?"


"Dia baik-baik saja, aku juga sudah membawanya ke rumah sakit dan Dokter mengatakan jika dia hanya syok karena sesuatu kejadian."


"Syukurlah jika dia dalam keadaan baik, tapi kenapa ponselmu juga tidak bisa di hubungi? Itu membuat aku semakin khawatir dan terus menunggumu di ruang tamu ini."

__ADS_1


"Tidak bisa di hubungi? Yang benar?" Arif merogoh kantong celananya, dia mengambil ponsel dan mengecek. Ternyata baterai ponsel miliknya lowbat.


"Kenapa?" tanya Aisyah penasaran melihat diamnya Arif.


"Baterainya lowbat, pantas saja tidak bisa di hubungi. Maafkan aku yang sudah membuatmu khawatir, Aisyah."


Aisyah menghela napas, dia menggeleng dan memberanikan diri untuk menggenggam tangan Arif. "Tidak masalah, Mas. Ini bukan salahmu, kau sudah mau bertanggungjawab atas segala perbuatanmu."


"Tapi, Aisyah. Gadis itu tinggal satu kompleks dengan kita."


Deg!


Seketika detak jantung Aisyah bertalu dengan kencang, dianya tersenyum tipis sambil menatap Arif dengan secara lekat setelah mendengar kata gadis. Aisyah peka, dia sudah tahu dari ucapan Arif jika seseorang yang ingin dia tabrak adalah seorang gadis.


"Maksudmu?"


Arif mulai menceritakan semuanya pada Aisyah, dia ingin istrinya itu berpikir positif dan membuang pikiran buruk sangka. Ya, meskipun dia tahu jika Aisyah pasti tidak berpikiran jauh kesana.


"Mas, aku ingin bertemu dengannya. Ya, gadis itu. Aku ingin melihat keadaannya, kasian dia." ucap Aisyah sedih.


"Besok kita akan pergi ke rumah kontrakannya, kebetulan Widya sudah membantu aku untuk mencarikan gadis itu tempat tinggal."


Aisyah pun mengangguk setuju dan mereka pergi menuju kamar untuk segera beristirahat.


****


Keesokan paginya


Matahari sudah terbit sangat tinggi, cahaya begitu cerah menerangi seluruh isi bumi. Sepasang suami-istri yakni Arif dan Aisyah sudah selesai untuk pergi ke rumah kontrakan Arumi. Mereka memutuskan untuk menaiki motor karena jarak rumah itu tidak jauh dari tempat tinggal mereka.


Tak lupa Aisyah membawa rantang susun berisi makanan dan lauk pauknya, dia sengaja memasak cukup banyak untuk di bawa ke rumah Arumi. Hingga beberapa menit kemudian, sampailah mereka di halaman rumah Arumi.

__ADS_1


"Mas, ini rumahnya?"


Arif mengangguk. "Ayo, kau ketik pintunya."


Mereka berdua berdiri tepat di depan pintu rumah.


"Assalamualaikum! Permisi!" teriak Aisyah seraya mengetuk pintu itu.


Arumi yang kala itu baru saja bangun tidur langsung berjalan keluar dari kamar. Dia mengucek matanya dan berjalan untuk membuka pintu.


"Sebentar!' teriaknya membalas.


Pintu rumah terbuka dan sontak Arif langsung membalikkan tubuhnya sambil menunduk. Bagaimana tidak, Arumi saat ini hanya memakai hotpants pendek berwarna hitam dan juga baju satu jari berwarna putih. Lekuk tubuh indahnya tercetak jelas hingga membuat aura kecantikannya semakin berlipat, meski dia baru bangun tidur.


Arumi spontan kembali menutup pintunya, dia menyadarkan badan di daun pintu sambil menepuk dahinya. "Ck, dasar ceroboh! Ternyata Tuan itu, aku pikir hanya seorang wanita saja."


"Nona!" panggul Aisyah yang heran dengan sikap Arumi.


"Iya, tunggu sebentar!" Arumi bergegas lari menunju kamarnya untuk memakai pakaian yang layak. Dia baru saja bangun tidur maka dari itu dirinya masih memakai pakaian seksi.


Setelah selesai memakai pakaian lengkap, Arumi kembali membuka pintu dan dia tersenyum canggung.


"Maafkan saya, Nyonya, Tuan. Tadi, saya pikir hanya perempuan saja ternyata ada prianya."


"Tidak masalah, apa kami boleh masuk?" pinta Aisyah sopan, hal itu disambut ramah oleh Arumi.


Saat sudah berada di dalam dan Aisyah pun telah memberikan rantang kepada Arumi. Dia menatap wajah gadis itu dan tatapan matanya terhenti di dahi Rumi yang masih di perban.



__ADS_1


Tbc


__ADS_2