
Arumi terkejut ketika seorang pengendara mobil itu keluar untuk menghampiri Arumi. Gadis itu memundurkan langkahnya perlahan dan menatap takut ke arah sang pria.
"Arumi! Benarkah ini kau?" pria itu berbinar dan ingin menyentuh Arumi, tetapi gadis itu mengelak.
"Jangan menyentuhku!" tegas Arumi sambil mengacungkan jarinya. "Lupakan semua tentang kita, Om Angga. Aku mohon jangan ganggu aku lagi, sudah cukup istrimu ingin mencoba melenyapkan nyawaku." jelasnya kemudian.
Angga heran, dia benar-benar tidak mengetahui apa-apa. Dirinya hanya tahu jika Arumi pergi tanpa jejak dan tidak tahu rimbanya.
"Arumi, aku tidak mengetahui apa pun. Kenapa kau bisa berpikir jika itu semua adalah rencana istriku?"
"Tentu saja aku yakin! Kau tau, para pria berbadan besar itu mengatakan padaku jika mereka ingin menghabisiku karena perintah dari seseorang yang suaminya memiliki berhubungan denganku. Siapa lagi jika bukan dirimu? Hah!" teriaknya marah.
Angga diam seketika, dia mematung mendengar apa yang Arumi katakan. Dirinya tidak menyangka jika Fitri sangat nekad dan jahat. Sebagai seorang suami dan sudah beberapa tahun hidup bersama dengan Fitri, Angga sedikit tidak percaya pada ucapan gadis di depannya itu. Dia memicing tajam dan membuat Arumi takut.
"Aku ragu dengan tuduhanmu itu, Arumi. Jangan-jangan kau berbohong dan dirimu pergi karena kau sudah bosan denganku, sementara kontrak kita belum habis? Jawab!" bentak Angga melotot, dia tidak peduli jika saat ini posisi mereka ada di ruang terbuka.
Arumi pun menggeleng cepat. "Kau pikir aku semurah itu? Kau keterlaluan, Om!"
Arumi berlalu meninggalkan Angga begitu saja, pria tersebut tidak terima karena permasalahan mereka yang belum selesai. Dia memutuskan untuk mengejar Arumi, dan gadis itu pun berlari karena bingung.
"Mau apa dia mengejarku?" gumam Arumi dengan napas yang tidak beraturan.
Saat hendak menyeberang jalan, Arumi kaget dengan kendaraan yang kembali hampir menabraknya.
"Aaaa!" teriak Arumi sambil menutup kepala.
Mobil itu berhenti dan sang pengendara keluar dari sana. Dia mendekati Arumi dan menepuk pundak gadis itu pelan.
__ADS_1
"Nona, Anda baik-baik saja?" tanya pria itu lembut.
Arumi sangat mengenal suara pria tersebut, dia mendongak dan menatap sang pria. "K—kak Arif,"
Arif mengerutkan dahi, dia heran kenapa Arumi bisa berada di tempat itu. Dirinya membantu gadis itu berdiri.
"Arumi, apa yang kau lakukan disini?"
"Kak, aku, aku—" belum selesai bicara, Angga muncul dari arah yang berlawanan dengan mereka. Pria itu berteriak memanggil nama Arumi.
Sementara Arumi dan Arif, mereka menoleh ke arah yang sama. Arumi ketakutan, dia bersembunyi di belakang tubuh Arif seakan-akan meminta pertolongan dan perlindungan.
"Dia siapa?" tanya Arif setengah berbisik.
"Kak, bantu aku. Aku takut dengannya, nanti akan ku ceritakan semuanya pada kakak yang penting tolong buat dia pergi dari sini dan menjauhiku." pinta Arumi takut.
Arif paham, dia menatap Angga dengan berani.
"Mohon maaf, Tuan. Menurut saya, tidak sepantasnya Anda berbuat kasar kepada seorang wanita. Meski sebesar apa pun masalah kalian, tetapi setidaknya bisa di bicarakan baik-baik bukan?"
"Tidak perlu sok menasehatiku! Minggir dari sana karena aku ingin menyelesaikan urusan dengannya."
"Jika Anda masih bersikeras kasar seperti ini, maka jangan harap saya akan minggir, Tuan."
Angga mengepalkan kedua tangannya dengan erat, dia mengeraskan rahang dan urat-urat disekitar leher mulai menegang. Emosi telah sampai di ubun-ubun dan rasanya saat ini, Angga ingin sekali menghajar pria di depannya itu habis-habisan. Namun, dia masih memiliki kesadaran karena tidak mungkin melakukan kekerasan di wilayah orang.
"Kenapa kau menolongnya? Dia memiliki masalah besar denganku, jangan tertipu oleh wanita ular dan ja*la*ng sepertinya!" Angga menunjuk Arumi.
__ADS_1
Arif melirik ke belakang sejenak, dia minta pada Arumi agar gadis itu tenang dan jangan khawatir. "Saya tidak peduli dengan semua itu, yang saya tahu dia ini adalah gadis baik-baik."
"Cih, kau sudah termakan oleh buaiannya!" Angga berdecih kesal.
''Saya mohon segera pergi dari sini dan jauhi dia."
"Siapa kau berani memberikan perintah seperti itu padaku? Aku tidak akan menjauhi dia sebelum permasalahan kami sele—"
"Dia adalah suamiku!" potong Arumi cepat dan membuat kedua pria itu kaget.
"Arumi," Arif menatap Arumi dengan raut tidak suka.
Arumi memohon, dia meminta agar Arif mau menyetujui perkataannya. "Aku sudah menikah, jadi kau tidak perlu mengganggu hidupku lagi!" ujarnya sambil menggandeng mesra lengan Arif, sementara pria yang dia gandeng itu terlihat risih dan tidak nyaman.
Angga sudah kehabisan kata-kata, dia tampak sangat kesal dan ingin sekali memukul kedua insan di depannya saat ini. Pria itu pun pergi dari sana sebelum dia kehilangan kendali.
Setelah Angga pergi, Arumi masih memeluk lengan Arif sambil berderai air mata.
"Apa kau bisa menceritakan semuanya padaku?"
Arumi reflek memeluk tubuh Arif dan meletakkan kepalanya di dada bidang pria itu. "Hiks, Kak. Aku, aku akan menceritakan semuanya tetapi tolong jangan menjauhiku. Aku tidak mempunyai siapapun di dunia ini selain dirimu," tangisnya pecah dan membuat Arif yang ingin melepaskan pelukan itu langsung mengurungkan niatnya.
•
•
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL KARYA DARI TEMAN OTHOR 🤗