Tasbih Cinta Arumi

Tasbih Cinta Arumi
Bab. 30 Kondisi Ahmad


__ADS_3

Dua Minggu kemudian, kabar baik terdengar di telinga Arumi yang mana ternyata Ahmad sudah pulih dan tiga hari lalu dia sudah pulang ke rumah. Sungguh hati Arumi sangat bahagia dan dia bersyukur sebab sang kekasih masih diberikan kesehatan oleh Allah. Sejujurnya, dia ingin sekali menjenguk Ahmad tetapi apalah daya, dirinya pasti akan di cegah oleh kedua orang tua sang kekasih.


Hari ini Arumi berangkat kerja seperti biasa, dia memilih untuk menaiki motor barunya yang satu Minggu lalu dia beli seken. Gadis itu mengendarai sepeda motor dengan santai sambil bersenandung ria. Tak terasa dirinya sampai di tempat kerja dan semangatnya untuk mencari uang kembali berkobar. Apalagi setelah mendengar kesehatan Ahmad.


"Mbak!"


Baru juga datang dan membereskan toko, terdengar suara seorang wanita yang memanggilnya.


"Iya sebentar!'' balas Arumi berteriak pula dan membuat sang pembeli menunggu sambil memilih.


Gadis itu menghampiri sang pembeli, dia tersenyum manis sambil bertanya. "Ada yang bisa saya bantu?"


"Mbak, saya sedang mencari sepatu olahraga. Khususnya sepak bola, bisa tolong bantu pilihkan?" tanya wanita itu.


Arumi dengan cekatan mengambil beberapa model sepatu bola, dia bahkan menjelaskan pada wanita itu apa-apa saja perbedaan dan harganya. Beberapa saat kemudian, terjual lah satu pasang sepatu bola yang cukup mahal. Arumi tersenyum, dia berterima kasih dan mengucap syukur.


Dua jam kemudian, Arumi di kagetkan dengan kedatangan Ahmad di tempat kerjanya. Dia tersenyum sekaligus heran kenapa sang kekasih bisa berada di sana. Gadis itu menghampiri Ahmad yang berdiri di depan teras toko.


"Mas, kau ada disini? Aku tau, kau pasti merindukan aku, ya? Maaf aku belum menghubungimu, aku takut jika orang tuamu memarahiku lagi dan mereka akan menjauhkan kita—" ucapan Arumi terhenti karena suara Ahmad.


"Kau siapa?" tanya Ahmad spontan.

__ADS_1


Arumi mengerutkan dahinya, dia melongo dan menggeleng. "Mas apa yang kau katakan? Aku ini Arumi, kau lupa denganku?" tanyanya sambil menggoyangkan lengan Ahmad.


Tak lama kemudian, Bunga datang dari arah belakang mereka.


"Sayang, maaf aku lama." ucapnya seraya menggandeng lengan Ahmad dengan mesra dan melirik Arumi sinis.


'Sayang? Apa-apaan ini, kenapa dia memanggil Mas Ahmad dengan sebutan sayang?' batin Arumi bertanya.


"Hei, gadis miskin! Kenapa kau hanya diam saja? Kami berdua datang ke tempat ini untuk membeli sepatu, bukan ingin melihat dirimu yang seperti patung begini!" bentak Bunga sombong.


Ahmad hanya diam saja, dia mengelus lengan Bunga dan mencoba untuk menenangkannya.


"Mas, lihatlah dia! Aku rasa kita salah cari toko, bagaimana kalau kita pergi ke tempat lain saja?" Bunga berkata manja.


"Mas, tunggu!" Arumi ingin mencekal lengan Ahmad tetapi di cegah oleh Bunga.


''Jangan menyentuh calon suamiku!" ujarnya ketus. "Mas, kau pergilah ke mobil terlebih dahulu. Aku akan menyusulmu nanti, ada yang ingin ku bicarakan dengan penjaga toko ini." lanjutnya lemah lembut.


"Tapi —" perkataan Ahmad terpotong.


"Mas, hanya sebentar saja." pintu Bunga sekali lagi.

__ADS_1


Pria itu pun akhirnya menyetujui perkataan Bunga, dia pergi meninggalkan Arumi yang masih dipenuhi oleh begitu banyak pertanyaan di dalam kepalanya. Setelah Ahmad menjauh, Bunga langsung berjalan mendekati Arumi.


"Kenapa? Kau pasti heran dengan apa yang terjadi pada Mas Ahmad. Benar begitu bukan?" Bunga bersidekap. "Baiklah, biar aku jelaskan dan kau harus memasang telinga baik-baik."


"Dokter mengatakan jika Mas Ahmad mengalami Amnesia karena benturan di kepala saat kecelakaan waktu itu. Ya, dia memang tidak akan selamanya menjadi seperti itu, tetapi sebelum dia ingat dengan hubungannya dan kau, maka aku akan meresmikan hubungan kami terlebih dahulu." ujar Bunga tersenyum menang.


"Apa maksudmu?"


"Aku dan Mas Ahmad akan segera menikah, jadi kau carilah pria lain yang bisa menemani hari-harimu. Jujur aku sangat kasihan padamu, Arumi. Tetapi inilah kenyataan dan kau tidak bisa berbuat apa-apa. Kau tau bukan, jika kedua orang tua Mas Ahmad sama sekali tidak menyukaimu? Jadi, sudah bisa di pastikan bahwa akulah pemenangnya." Bunga berbicara sombong dan tertawa lebar, bahkan dia mengibaskan rambutnya seperti sedang iklan shampo.


"Kau keterlaluan, aku pasti akan merebut cintaku kembali! Kau bersaing dengan akal licik, Bunga." Arumi menatap wanita di depannya itu dengan tajam.


"Terima saja nasibmu, Arumi. Dasar wanita sia*lan!" Bunga ingin pergi tetapi dia kembali membalikkan badannya menghadap Arumi. "Oh ya satu lagi, aku bisa pastikan jika sebentar lagi kau akan di pecat dari pekerjaanmu ini. Lihat saja, wanita malang, kau salah berurusan dengan Bunga." dirinya tertawa menang lalu pergi dari sana meninggalkan Arumi yang kebingungan dan tidak tahu harus berbuat apa.


Arumi berjalan masuk ke dalam toko, dia mendudukkan dirinya dan tanpa terasa air mata pun menetes di kedua pipinya.


"Apa ini? Kenapa Allah memberikan cobaan lagi padaku? Padahal aku berpikir jika Mas Ahmad adalah cinta terakhirku. Tetapi, hiks—" Arumi tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya terisak dalam diam.



__ADS_1


TBC.


__ADS_2