
Seiring berjalannya waktu, hari yang di nanti-nanti pun akhirnya tiba. Saat ini sedang di gelar pesta mewah untuk merayakan pernikahan Arumi juga Amran, penantian gadis itu yang selama ini dia hanya di temani oleh tasbih telah terjawab sudah. Dirinya mendapatkan suami yang baik dan Sholeh seperti Amran, tentu saja dia sangat bahagia.
Kedua mempelai menatap lurus ke depan, dimana banyak tamu dan kerabat yang datang tetapi tidak satu orang pun kerabat dari Arumi yang berada disana. Sedih? Pasti, gadis itu mengasihani dirinya sendiri. Namun, Amran mengerti perasaan gadis itu dan langsung menggenggam jemarinya.
"Aku mohon jangan pikirkan apa pun. Saat ini kau sudah menjadi istriku, aku tidak akan membiarkannya dirimu bersedih." Amran tersenyum manis.
Dari kejauhan, Bunga terlihat geram menatap ke arah sepasang pengantin baru itu. Dia mengepalkan kedua tangannya tetapi dia ketahui oleh Mamanya, wanita paruh baya itu berjalan menghampiri Bunga.
"Bunga, Mama mohon jangan memaksa kehendak atau menumbuhkan kebencian di hatimu untuk Amran dan Arumi. Mama tahu kau itu adalah gadis yang baik dan sangat pintar, jangan membuat masalah dan pada akhirnya akan merugikan keluarga kita." jelas Mama Bunga membuat gadis itu sedikit tenang.
Bunga berlalu pergi, ketika dia hendak mengambil air minum, seseorang tak sengaja menubruknya hingga baju Bunga basah karena terkena tumpahan air minum itu.
"Hei, dasar bu*ta! Kau tidak punya mata, ya?" bentaknya marah.
Pria itu hanya melihat reaksi Bunga saja lalu dia pergi dari sana tanpa meminta maaf terlebih dahulu.
"Ck, dasar pria son*go*ng!" bantah gadis itu dan berjalan menuju ke kamar mandi.
****
Malam harinya, pesta telah usai dan sepasang pengantin baru itu sudah ada di dalam kamar. Tempat itu sangat indah dan elegan karena di dekorasi dengan begitu cantiknya. Arumi terpesona melihat ke setiap sudut, bahkan dia juga merasakan ketenangan di dalam sana. Dia terjingkat karena seseorang melingkarkan tangan di perutnya. Gadis itu menoleh, dia tersenyum tipis ketika hidungnya dan Amran saling bersentuhan.
"Kau ingin mandi?" tanya Amran pada istrinya.
__ADS_1
"Ya, aku merasa gerah." jawab Arumi yang memang tidak nyaman dengan keadaan tubuhnya saat ini.
"Baiklah, boleh aku membantumu?"
"Hah?" sontak Arumi melongo dan heran.
"Tidak! Kau jangan salah sangka dulu. Maksudnya, apa aku bisa membantumu untuk membuka pernak-pernik yang ada di kepalamu itu?" Amran menunjuk dan istrinya tersipu malu.
Arumi mengangguk, dia duduk di kursi meja rias dan suaminya langsung mencopot satu persatu pernak-pernik itu. Terlihat mereka saling melempar senyum dari arah cermin, hati Arumi benar-benar berdebar karena dia belum terlalu dekat dengan Amran. Ya, baru beberapa bulan mereka mengenal dan pada akhirnya pria itulah yang menjadi imam Arumi.
"Apa sudah selesai?" Arumi bertanya ketika tangan Amran tidak lepas dari kepalanya.
"Sudah, maaf." ujar Amran gugup tetapi di balas senyuman oleh Arumi.
Gadis itu beranjak dari kursi, dia berjalan menuju kamar mandi dan tak lupa membawa handuk. Setelah istrinya pergi, Amran menghela napas kasar. Jantungnya benar-benar tidak bisa di kontrol jika berdekatan dengan gadis itu.
Tak lama kemudian, Arumi keluar dari kamar mandi. Dia tersenyum melihat suaminya yang masih duduk di atas ranjang menunggu giliran ke kamar mandi.
"Mas, cepat mandi dan setelah itu beristirahatlah." pinta Arumi dengan nada lembut.
Amran hanya mengangguk sambil berdiri dari ranjang. 'Arumi, aku tidak ingin beristirahat. Padahal tadi aku berharap kau mengatakan, mandilah, Mas. Setelah itu kita akan melakukan malam pertama. Astaga, sepertinya malam ini aku gagal bergadang dengan Arumi.' batinnya menggerutu.
*****
__ADS_1
Keesokan harinya, sepasang suami istri itu mengunjungi makam milik Ahmad. Mereka berdua berjongkok dan Arumi memenangi batu nisan milik pria yang pernah dia cintai itu.
"Mas, kau pasti sudah melihat kami berdua bukan? Saat ini aku dan kakakmu sudah resmi menjadi suami-istri. Aku ingin kau selalu mendoakan kami agar bahagia Sampai ke Jannah. Kami juga akan selalu mendoakan dirimu agar tenang di alam sana." isak Arumi pelan.
Dari kejauhan, Arif dan sang istri datang dan merasa berjalan mendekati sepasang pengantin baru itu. Sementara Arumi, dia menghapus air mata dan secepat mungkin tersenyum tipis.
"Kau harus sabar, Arumi." ucap istri Arif sambil mengelus punggung Arumi.
Gadis tersebut mengangguk sambil tersenyum, mencoba untuk menguatkan dirinya sendiri. Mereka menatap makam milik Ahmad dengan sejuta kerinduan dan Kesedihan. Ahmad adalah pria yang baik, dia selalu membantu sesama dan tidak pernah sombong. Tetapi, takdir berkata lain. Maut menjemputnya hingga semua orang di sekelilingnya merasa kehilangan.
************* TAMAT ***************
Maut, Rezeki, Jodoh, itu semua sudah menjadi rahasia Allah. Sebagai seorang Hamba, kita hanya perlu berdoa dan meminta agar di panjangkan usia, di dekatkan dengan rezeki, dan segera di pertemukan dengan jodoh.
Takdir memang tidak bisa diubah, tapi jika kau berusaha untuk mencobanya, maka semua itu pasti bisa berubah kecuali MAUT yang entah kapan datangnya. Manusia patut bertaubat, itulah yang Allah inginkan dari kita semua.
Mohon maaf apabila ada kesalahan dalam bertutur kata, jangan lupa mampir ke novel terbaru dari Othor yang berjudul DURI DALAM RUMAH TANGGAKU.
Cukup sekian kalimat ini, Othor ucapkan terima kasih untuk para pembaca setia semuanya. ❤️
Othor akhir dengan ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH 🙏
•
__ADS_1
•
TBC