
Kedekatan Arumi dan Ahmad semakin terlihat, bahkan Ahmad sering sekali datang ke tempat kerja Arumi dengan alasan makan. Tetapi, hari ini puasa dan cafe hanya buka pukul empat sore sampai pukul sebelas malam. Tentu saja hal itu membuat Arumi sedikit keberatan karena dia takut jika dirinya harus pulang sendirian malam-malam seperti itu. Dia yakin akan ada banyak bahaya nantinya dan dia tidak ingin menanggung resiko.
Arumi pun memutuskan resign dari cafe, dia ingin melamar pekerjaan di toko sepatu karena ada tertera lowongan kerja disana. Dia mengucap bismillah dan masuk ke dalam toko sepatu itu.
"Assalamualaikum," ucapnya saat sudah berada di dalam.
Sang pemilik toko keluar, ternyata dia adalah muslim karena terlihat dari cara berpakaian yang sangat tertutup.
"Permisi, mohon maaf, Nyonya. Apa disini membuka lowongan pekerjaan? Kebetulan saya sedang mencari kerja,"
"Wah, pas sekali. Kau memang benar, disini sedang mencari pekerja karena karyawati yang lama sudah keluar."
Arumi seperti mendapatkan sebuah lampu hijau, dia pun mengatakan pada sang pemilik toko jika dirinya siap bekerja hingga malam dan tentu saja tidak terlalu larut.
"Benarkah? Apa rumahmu tidak jauh dari sini?"
"Rumah saya kurang lebih tiga puluh menit dari sini, Nyonya. Jadi, apa saya boleh bekerja disini?"
Wanita berhijab abu-abu itu memperhatikan Arumi dari atas sampai ke bawah, dia masih sedikit ragu karena baru mengenal Arumi hari ini. Namun, dirinya mencoba untuk berpikir positif sebab gadis di depannya saat ini terlihat baik.
"Baiklah, kau bisa bekerja hari ini juga. Masalah gaji, saya akan memberimu upah dua juta perbulan, makan saya tanggung dan untuk bonus, kau bisa mendapatkannya jika penjualanmu melebihi target yang di inginkan. Bagaimana?"
Arumi langsung mengangguk setuju, jika tidak bekerja disini maka dia harus mencari pekerjaan dimana lagi?
Setelah deal, Arumi pun mulai mengerjakan rutinitas barunya. Dia melayani pembeli dengan ramah sebisa mungkin, bahkan senyum di bibir manisnya tidak pernah surut. Lelah? Pasti, tapi Arumi tidak akan menyerah karena dia yakin jika dirinya bisa.
****
Pukul sepuluh malam, Arumi sudah pulang bekerja. Dia menunggu angkutan umum di pinggir jalan raya.
__ADS_1
"Sudah jam segini, mana ada angkutan umum. Kalau begitu, aku akan memesan taksi online saja. Semoga datangnya cepat karena cuaca juga sedikit mendung." Arumi melihat ke atas langit.
Benar saja, cuaca mendung gelap hingga bintang tidak terlihat di atas sana. Bahkan, bulan pun ikut tertutup oleh awan hitam. Air hujan mulai jatuh ke bumi dan terjadilah gerimis halus. Arumi menutupi kepalanya menggunakan tas yang dia pegang.
"Ya Allah, tolong jangan hujan dulu." gumam Arumi berdoa, dia melihat ke sekeliling. Cukup banyak kendaraan yang berlalu lalang di jalan itu.
Hampir lima belas menit Arumi menunggu tetapi taksi online pesanannya tidak kunjung datang, dia sudah bosan dan lelah terus berdiri di pinggir jalan seperti itu. Hingga pada akhirnya, Arumi berniat untuk jalan kaki saja dan membatalkan pesanan taksi onlinenya.
Saat sudah berjalan sejauh tiga ratus meter, seseorang memanggil Arumi dan sontak gadis itu menoleh ke belakang. Seketika senyumnya terbit kala melihat orang yang memanggilnya tadi.
"Kak Arif!" seru Arumi terus menatap Arif yang berseberangan dengannya.
Arumi melihat ke kanan dan kiri hingga dia memutuskan berlari kecil untuk menghampiri Arif. Tetapi, saat dia hendak sampai di dekat pria itu, sebuah motor melaju kencang sampai membuat Arumi kaget dan refleks Arif menarik lengan gadis itu.
Posisi keduanya saat ini adalah tubuh Arumi yang bersandar di badan mobil dan tangan Arif yang memegang kedua pundaknya. Arumi ada dalam kuasa Arif, bahkan jarak keduanya sangat dekat, hembusan napas Arif terasa menyapu kulit wajah Arumi dan itu membuat gadis tersebut memejamkan mata sejenak lalu kembali membukanya. Mereka saling bertatapan.
Arumi merasakan ada desiran aneh yang menjalar di tubuhnya, dia terus menatap Arif tanpa berkedip sedikitpun. Rasa kagum semakin menjadi karena dia melihat wajah pria itu dari dekat seperti sekarang.
Arif tersadar dari posisi itu, dia segera menjauh dan beristighfar. "Astaghfirullah, maaf, Arumi." ucapnya tidak enak."
Arumi hanya tersenyum tipis. "Tidak pa-pa, Kak. Kau tidak perlu minta maaf karena harusnya akulah yang mengatakannya terima kasih. Jika kau tadi tidak ada, maka mungkin aku sudah terseret motor itu."
"Kau baru pulang bekerja?" tanya Arif sambil menunduk.
"Ya, kebetulan aku ingin pulang ke rumah. Kak Arif sendiri sedang apa disini? Apa Kam Aisyah tidak ikut?"
Arif menggeleng. "Aku sendirian, Aisyah meminta cemilan maka dari itu aku membelinya ke supermarket sekaligus mencari kebutuhan rumah yang sudah habis." Lanjutnya membuat Arumi semakin kagum.
"Kak Arif belanja?"
__ADS_1
Arif mengedikkan bahunya. "Aisyah sedang hamil, aku tidak ingin membuatnya repot dan kelelahan." jelas Arif membuat Arumi tercengang.
''Apa! Kak Aisyah hamil? Wah, selamat kak."
"Alhamdulillah, Arumi. Terima kasih,"
Arumi mengangguk. "Baiklah, aku harus segera pulang karena hari sudah hampir larut. Besok aku harus bekerja lagi," sambungnya bergegas pergi meninggalkan Arif.
Arif melihat kepergian Arumi, dia masuk ke dalam mobil tapi baru saja membuka pintu, dia mendengar suara petir yang menyambar. Bahkan, gerimis pun mulai turun. Dia melihat kembali ke arah Arumi yang sudah tidak terlihat, dia sebenarnya ingin mengajak Arumi pulang bersama tetapi dirinya bingung dengan semua itu.
"Jika aku tidak mengajaknya, maka dia pasti akan terjebak hujan. Tetapi, jika aku mengajaknya, maka itu diriku sudah berani berada di dalam satu mobil bersama dengan gadis lain yang bukan muhrimku. Bagaimana ini?" Arif berpikir sejenak hingga suara petir pun kembali terdengar lebih kuat.
Rasa kemanusiaan membuat Arif berniat untuk mengajak Arumi pulang bersama, dia masuk ke dalam mobil dan melajukannya pergi dari sana. Setelah beberapa meter, dirinya melihat Arumi yang berjalan cepat, mungkin gadis tersebut ingin menghindari hujan dan dia berharap bisa sampai di rumah sebelum hujan turun.
Arif mengklaskon membuat Arumi menoleh dan berhenti.
"Arumi! Ayo naik, hujan akan segera turun dan petir juga sangat banyak." teriak Arif yang masih di dalam mobil, dia hanya menyembulkan kepalanya dari jendela.
Arumi berpikir sejenak, dia tidak menolak karena keadaan cuaca semakin buruk. Dirinya masuk ke dalam mobil dan berketepatan dengan itu, hujan deras pun turun membasahi bumi.
"Huft, syukurlah. Untung saja aku sudah berada di dalam mobil. Terima kasih, kak." ucap Arumi sambil tersenyum.
"Sama-sama," jawab Arif dan melajukan mobil pergi dari tempat itu.
Di dalam mobil keduanya hanya saling terdiam dengan ditemani oleh derasnya rintik hujan di luar sana. Arif melajukan mobilnya sedikit pelan, karena cuaca yang tidak memungkinkan untuk dia berkendara cepat.
•
•
__ADS_1
TBC