Tasbih Cinta Arumi

Tasbih Cinta Arumi
Bab. 14 Acara lamaran


__ADS_3

Di sudut lain, seorang pria tampan dengan memakai baju Koko berwarna putih dan celana komprang berwarna hitam sedang duduk di sebuah bangku. Hari ini adalah pertemuan dirinya dengan seorang wanita yang akan di jodohkan dengannya. Ya, dia tidak tahu bagaimana wujud wanita itu, cantik atau tidak. Namun, dirinya harus menerima permintaan dari orang tuanya dengan cara di jodohkan.


Afriansyah Al Syarief, dia anak kedua dari pasangan suami-istri Mohammad Attar Al Syarief dan Salma Khairunnisa. Sementara pemuda itu yang sering di sapa Arif, memiliki satu orang kakak laki-laki dan satu orang adik perempuan. Dirinya beberapa bulan yang lalu baru saja lulus dari pesantren dan dia belum mendapatkan pekerjaan apa pun.


Arif menoleh kebelakang kala ada yang menepuk pundaknya secara perlahan. Dirinya tersenyum tipis saat mengetahui ternyata sang Umi yang sudah berada di belakangnya.


"Umi, ada apa?" tanyanya sopan.


"Nak, kenapa kau diam sendirian disini? Arif, jika kau tidak setuju dengan perjodohan ini, maka Umi akan membantumu untuk lepas dari semuanya. Kebahagiaanmu lebih penting dari apa pun, Nak." bujuk sang Umi yang melihat perubahan sikap Arif.


Arif tersenyum simpul. "Aku tidak akan menolaknya, Umi. Aku yakin jika pilihan Umi dan Ayah adalah yang terbaik untukku." lanjutnya membuat sang Umi tersenyum tipis.


"Kau benar-benar anak yang berbakti, Arif. Umi sangat bersyukur memiliki seorang putra sepertimu." Salma mengelus kepala Arif.


Tak lama kemudian, Ayah Attar memanggil keduanya. Tentu saja ibu dan anak itu langsung pergi menghampiri sang Ayah.


"Arif, segera bersiap karena hari ini kita akan pergi ke rumah Aisyah untuk melamarnya." ucap Ayah tersenyum bahagia.


Arif mengangguk, lalu kemudian mereka pergi untuk bersiap.


Satu jam mereka sudah menyelesaikan semuanya, Arif tampil sangat tampan dan memukau dengan setelah baju Koko berwarna biru laut yang pas dengan postur tubuhnya. Dia bahkan tak lupa mengenakan songkok/kopiah untuk menjaga kesopanannya.


Setelah itu, mereka berempat keluar dari rumah dengan membawa beberapa macam parsel untuk diberikan kepada Aisyah. Kakak pertama Arif sudah berkeluarga dan saat ini dia tinggal di luar kota bersama dengan istrinya, hingga saat ini keluarga kecil itu hanya membawa beberapa orang saja sebagai pendamping di acara lamaran.

__ADS_1


Sekitar satu jam setengah mereka sampai di kediaman orang tua Aisyah, cukup membutuhkan waktu yang lama karena mereka memang beda kecamatan. Tangan Arif dingin, dia gugup hingga berulangkali dirinya menarik napas pelan dan menghembuskannya pelan.


Hari ini adalah pertama kalinya dia bertemu dan melihat calon istrinya, tentu saja dia merasa gugup dan jantungnya berdegup dengan kencang. Umi yang mengetahui perasaan Arif, dia menggenggam tangan pemuda berusia dua puluh tujuh tahun itu dan dirinya tersenyum menguatkan.


Arif membalas senyuman sang Umi, lalu mereka berdelapan berjalan ke depan teras rumah Aisyah.


"Assalamualaikum!" teriak Ayah mengucapkan salam.


Disana sudah ada beberapa tetangga dan kerabat lainnya yang ingin menyaksikan acara lamaran Aisyah dengan Arif. Mereka berdelapan masuk ke dalam karena sudah di sambut dan di persilahkan masuk oleh adik dari Ayah Aisyah.


"Alhamdulillah, akhirnya kalian semua sampai disini juga," ucap Ayah Aisyah yakni Shiddiq Al Fatih sambil memeluk tubuh Attar.


"Benar, Shiddiq. Atas izin Allah, kami sampai dengan selamat dan akan segera menimang putrimu untuk putraku."


"Oh ya, dimana calon menantuku? Ini pertemuan pertama antara kedua calon pengantin dan aku yakin jika putraku sudah tidak sabar untuk melihat calon istrinya." ucap Attar bergurau.


Mereka tergelak dan Umi pun memanggil Aisyah.


Gadis cantik berusia dua puluh lima tahun itu keluar dari kamarnya, sungguh mata Arif susah berkedip saat dia pertama kali melihat Aisyah.


"Astaghfirullahaladzim," Arif segera tersadar dari pandangannya.


Umi tersenyum senang melihat Arif yang tampak terpesona dengan Aisyah. Setelah bersalaman secara takzim, gadis itu duduk di di tengah-tengah Ayah dan Uminya. Dirinya menunduk sopan tetapi sesekali dia mencuri pandang ke arah Arif yang terlihat sangat tampan.

__ADS_1


"Bagaimana, Nak Arif. Apa kau bersedia untuk menjadikan putri Ayah sebagai istrimu?" tanya Shiddiq tidak sabar .


Arif mengangguk. ''Atas kesepakatan dengan orang tua, saya bersedia menikahi Aisyah, Ayah." jawab Arif yang membuat semuanya bertepuk tangan dan mengucapkan Alhamdulillah.


Aisyah tersenyum bahagia dan dia sangat bersyukur bisa mendapatkan pria seperti Arif yang akan menjadi suaminya.


"Baiklah, karena keduanya sudah setuju bagaimana jika kita langsung saja menetapkan tanggal pernikahan mereka? Sesuatu yang baik tidak boleh di tunda terlalu lama, bener begitu bukan?" saran Attar begitu cepat ingin meresmikan hubungan anak mereka.


Semuanya setuju dan mereka melanjutkan prosesi lamaran terlebih dahulu barulah berdiskusi untuk ketetapan tanggal pernikahan.


Aisyah adalah gadis yang cantik, putih, berhidung mancung dan berwajah mungil hingga membuat pemuda manapun yang melihatnya pasti akan terpesona. Tak hanya itu, sikapnya yang sangat sopan dan pendidikan yang tinggi membuat beberapa orang tua menginginkan dia untuk menjadi menantu mereka.


Tetapi, persahabatan antara Attar dan Shiddiq yang sangat dekat membawa mereka menjadi besan, dengan cara menjalani hubungan erat lewat anak-anak mereka. Aisyah anak bungsu dari dua bersaudara, kakak laki-lakinya sudah berkeluarga dan mereka tinggal tak jauh dari rumah orang tua Aisyah.




TBC



VISUAL AISYAH 🌹

__ADS_1


__ADS_2