Tasbih Cinta Arumi

Tasbih Cinta Arumi
Bab. 17 Rumah sakit


__ADS_3

Kedua pria itu langsung pergi ketika melihat seorang pria yang keluar dari mobil tersebut. Sementara pria itu, dia bergegas menghampiri Arumi. Dirinya menepuk kedua pipi gadis itu dengan perlahan namun tidak ada jawaban sama sekali.


"Dia pingsan," ucap pria tersebut seraya melihat ke sekeliling, tidak ada siapapun disana hingga akhirnya, pria itu menggendong sang gadis masuk ke dalam mobil.


Ya, mau tidak mau itu semua harus dia lakukan meskipun ada rasa berdosa. Disana tidak ada orang dan dia tak mungkin meninggalkan gadis itu sendirian di tengah jalan. Lagipula, ini semua adalah kesalahannya.


Tujuannya saat ini adalah rumah sakit, pria itu ingin bertanggungjawab atas semua kesalahan yang tidak disengaja. Sesampainya di rumah sakit, Arumi langsung di bawa ke ruang rawat dan Dokter pun langsung memeriksa keadaannya.


"Bagaimana, Dok?" tanya pria itu dengan raut wajah khawatir, setelah Dokter keluar dari ruang rawat Arumi.


"Keadaannya baik-baik saja, mungkin dia hanya syok karena sesuatu yang membuatnya ketakutan."


'Siapa dia? Dan apa yang terjadi?' batin sang pria.


"Apa saya bisa melihatnya sekarang, Dok?"


"Tentu, silakan masuk." Dokter itu mempersilahkan sekaligus pergi dari ruangan tersebut.


Pria itu yang tak lain adalah Arif, dia baru saja pulang dari rumah sang kakak karena ada sesuatu hal penting yang harus dibicarakan. Namun, saat dia menguap, dirinya terkejut karena tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di depan mobilnya. Untung saja Arif berhasil memijak pedal rem cukup dalam hingga akhirnya dia tidak menabrak orang itu.


Dirinya berjalan menuju ranjang pasien milik Arumi, dia duduk di kursi sebelah ranjang tersebut. Tak lama kemudian, ada pergerakan di jemari Arumi dan kelopak matanya berkedut dengan perlahan.

__ADS_1


"Argh, sakit," lirihnya hampir tidak bersuara.


Arif tersenyum senang karena gadis yang hampir dia tabrak telah sadar. "Nona, Anda baik-baik saja?" tanyanya dan sontak membuat Arumi terkejut.


Raut wajahnya terlihat ketakutan, dia menggeleng dan bibirnya gemetaran. "Jangan, jangan sentuh aku! Pergi!" teriaknya sambil menutup mata.


Arif heran dengan apa yang terjadi pada gadis di depannya itu, dia mencoba sebisa mungkin untuk menenangkan Arumi.


"Nona, saya ini orang baik-baik. Anda jangan takut, saya tidak akan berbuat jahat." jelas Arif dan perlahan membuat Arumi sadar dari ketakutannya.


Arumi menatap wajah tampan Arif yang sangat mempesona, dia menunduk lalu teringat akan perkataan dua orang dia tadi.


"Tuan, tolong bantu saya." pintanya memohon diiringi tetesan air mata.


"Tuan, mereka, mereka tadi ingin membunuh saya. Saya takut, tolong selamatkan saya, Tuan. Saya belum mau mati," ujarnya lagi.


"Nona, Anda tenang dulu. Tarik napas dalam-dalam dan keluarkan secara perlahan. Saya akan membantu Nona sebisa mungkin. Mereka sudah tidak ada dan Nona sekarang harus tenang terlebih dahulu."


Arumi mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Dia memejamkan mata sejenak lalu menatap langit-langit ruang rawat.


"Dimana rumah, Anda? Saya akan mengantarkan Anda pulang sampai ke rumah dengan selamat."

__ADS_1


Arumi langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak! Maksudnya, saya tidak mau pulang. Saya takut, mereka pasti akan terus mengincar nyawa saya."


"Lalu, Anda mau kemana?"


Arumi terdiam sejenak. "Tuan, bisa bantu saya untuk mencari rumah kontrakan? Tapi, saya ingin tinggal di kompleks yang sama seperti Tuan. Saya, saya takut sendirian." pintanya memelas.


Arif menghela napas, sungguh ini adalah hal berat baginya. Dia bisa saja membantu gadis itu mencari rumah kontrakan, tetapi apa kata orang nantinya jika dia pulang ke komplek dengan membawa seorang gadis. Apalagi, penampilan Arumi terbilang sangat terbuka dan seksi.


"Tuan, apa Anda tidak bisa membatu saya?" Arumi menatap Arif sendu.


"Saya akan mencoba untuk mencarikan kontrakan."


Arumi mengangguk, dia sangat lega dan semoga saja kehidupannya semakin membaik setelah ini.




TBC


__ADS_1


VISUAL ARIF. 🌹


__ADS_2