
Keesokan harinya, Arumi baru saja selesai sahur dan dia ingin menunggu adzan subuh. Sebelum mengerjakan pekerjaan rumah, dia akan melaksanakan ibadah terlebih dahulu. Ya, ini sudah menjadi rutinitasnya dan dia sudah terbiasa untuk bangun pagi agar bisa menjalankan tugas sebagai umat muslim.
Terdengar adzan berkumandang membuat Arumi bernapas lega dan dia pun segera memakai mukenah dan mengambil tasbih. Dirinya berniat untuk Sholat di Masjid, baru kali ini dia sholat disana karena biasanya hanya melaksanakan di rumah saja.
Arumi berjalan sendirian ke arah Masjid, tak lama kemudian Ahmad berlari membuntutinya.
"Arumi!" teriak Ahmad membuat Arumi menoleh.
"Eh, ada bang Ahmad." ujar Arumi diselingi senyum manis dan itu sangat Ahmad sukai.
"Mau pergi ke masjid, ya?"
"Enggak, bang. Aku mau pergi ke pasar!" jawabnya bergurau sambil tertawa renyah.
Ahmad pun ikut tertawa mendengar gurauan itu, dia berjalan berdampingan dengan Arumi dan hal itu membuat jantungnya berdegup cukup kencang.
Tak lama kemudian mereka sampai di masjid, ternyata disana sudah ada banyak orang yang berkumpul.
"Bang, kau duluan saja. Aku merasa tidak enak jika kita datang berduaan seperti ini." ucap Arumi jujur.
"Kenapa? Apa kau malu jalan bersama denganku?''
''Bukan begitu! Aku hanya tidak ingin warga sekitar berpikiran buruk tentang kita."
Ahmad mengedikkan bahu dan dia pun berjalan terlebih dahulu, lalu Arumi menyusulnya ketika melihat pria itu sudah masuk ke dalam Masjid. Sholat pun dimulai hingga dan gadis itu melaksanakannya dengan khusyuk.
Setelah selesai, seperti biasa Arumi mengeluarkan tasbihnya dan dia mulai berdzikir. Beberapa ibu serta gadis lainnya menatap Arumi dengan senyum dibibir mereka. Pasalnya, gadis itu dulu pertama kali di kampung ini berpakaian sangat tidak layak yaitu terlalu terbuka. Namun, saat ini dia sudah bisa mengontrol diri dan berpakaian tertutup meskipun tidak memakai hijab.
__ADS_1
Arumi sudah selesai berdzikir, dia meletakkan tasbih di sajadah dan mulai melanjutkan dengan doa. Suasana masjid sudah mulai sepi karena semuanya telah pulang ke rumah mereka masing-masing.
''Ya Allah, atas kehendak-Mu aku bisa menjadi seperti ini. Engkau benar-benar sudah memberikan aku magnet sehingga diriku bisa secepat ini meninggalkan pekerjaan haram itu. Terima kasih Ya Allah, terima kasih. Aku berharap, diriku bisa cepat mendapatkan jodoh, siapa pun itu yang penting dia baik untukku. Menyayangiku dengan tulus, dan menerimaku apa adanya tentang masa laluku." Arumi menutupi doa dengan meraup wajahnya lembut.
Tanpa disengaja, ada seseorang yang mendengar doanya. Pria itu penasaran dengan kata haram yang keluar dari bibir Arumi. Tetapi, sebisa mungkin dia menahan diri untuk tidak memaksa Arumi mengatakan semua tentang perjalanan hidupnya. Ya, dia adalah Arif. Tinggal dirinya yang ada disana karena Aisyah sudah pulang terlebih dahulu. Arif masih ingin membersihkan masjid membantu sang pengurus.
Kebiasaan Arif setiap pagi memang seperti itu, dia selalu membantu pengurus Masjid yang usianya berkisar lima puluh lima tahun , dalam membersihkan seluruh Masjid.
****
Matahari menjelang, Ahmad sudah menunggu di depan rumah Arumi yang mana membuat semua orang heran ada hubungan apa sebenarnya kedua orang itu yakni Ahmad dan Arumi. Mereka bertanya-tanya, apakah keduanya memiliki hubungan spesial atau apa? Tetapi, mereka pun bisa menyembunyikan kekepoan tersebut karena tidak ingin ikut campur urusan orang lain.
Arumi yang baru saja selesai bersiap untuk bekerja, langsung keluar dan mengunci pintu rumahnya. Saat dia berbalik, dirinya kaget melihat Ahmad yang ada disana.
"Astaghfirullah'allazim!" pekik Arumi sambil memegangi dada.
"Astaghfirullah, lagian bang Ahmad ngapain pagi-pagi sudah ada didepan rumahku? Aku hari ini harus bekerja, bang. Tidak punya waktu untuk mengobrol." tukas Arumi cepat.
"Hei, aku tidak ingin mengajakmu mengobrol. Aku hanya ingin mengantarmu pergi bekerja, apa itu salah?" tanya Ahmad serius dengan alis yang saling bertautan.
"Tentu saja salah, bang. Apa kau tidak merasa terganggu dengan tatapan penasaran dari para ibu-ibu kompleks lainnya? Ya, mungkin sebagian tidak peduli tetapi sebagian lagi, mereka pasti penasaran dengan kedekatan kita."
"Memangnya kenapa, Arumi? Jika aku diminta untuk menikahimu, maka aku pasti akan melakukannya." jawab Ahmad enteng tanpa bersalah.
"Uhuk, uhuk!" Arumi terbatuk karena kaget mendengar jawaban simpel dari Ahmad. Dia menggelengkan kepala dan pergi meninggalkan Ahmad.
''Arumi!" teriak Ahmad sambil menstarter motor barunya. Dia sengaja membeli motor itu untuk mengantar Arumi bekerja agar gadis itu bisa lebih cepat sampai di tempat kerjanya.
__ADS_1
Arumi hanya terus berjalan, dia tidak peduli jika Ahmad mengikutinya dari belakang.
"Arumi! Ayolah, apa kau tidak kasian melihatku seperti ini? Eh, bahkan banyak orang yang melihat interaksi kita ini. Kau tidak memikirkan tentang itu—'' ucapan Ahmad terhenti karena Arumi menatapnya dengan tajam.
Gadis itu terdiam sejenak sambil melihat ke sekeliling, ternyata tidak ada orang disana. Dia kembali menatap Ahmad dengan tajam dan mematikan.
"Dimana ada orang? Kau berbohong, bang. Apa kau lupa jika hari ini berpuasa? Ya, puasamu akan batal jika kau berbohong seperti itu." pungkas Arumi kesal.
''Dan puasamu juga akan batal jika kau terus-terusan marah seperti ini." Ahmad malah tertawa membuat kedua pipi Arumi memerah.
Gadis itu menahan tawanya dan dia memalingkan wajah.
"Tidak perlu di tahan, keluarkan saja." ujar Ahmad bergurau.
"Kau keterlaluan, bang!" kesal Arumi dan berjalan ke arah Ahmad, dia dengan cepat naik ke atas motor sambil menahan tawanya.
"Apa-apaan ini?" tanya Ahmad pura-pura polos.
"Hei, jangan membuatku berubah pikiran. Bukankah kau ingin mengantarkanku pergi bekerja? Maka ayo cepat jalankan motornya. Aku tidak ingin terlambat sampai di toko, bisa-bisa aku akan di pecat nantinya." jelas Arumi memasang wajah kesal.
Ahmad tertawa melihat itu. "Baiklah, Tuan Putri. Kita berangkat!"
Pada akhirnya tawa Arumi pecah saat Ahmad mulai melajukan motornya pergi dari sana.
•
•
__ADS_1
TBC