
Malam harinya, selesai sholat Maghrib, Arif berkata pada Aisyah jika dirinya akan pergi ke masjid. Ya, jika sholat Maghrib dirinya akan melaksanakan di rumah bersama dengan Aisyah.
"Aisyah, aku ingin pergi ke masjid. Kau mau ikut sekarang atau bagaimana?" tanyanya kepada Asiyah.
"Aku akan menyusul nanti saja, Mas. Kau pergi saja duluan."
Arif pun bergegas ke kamarnya untuk mengambil sesuatu. Dirinya keluar dengan membawa satu paper bag, tentu saja Aisyah tau itu isinya apa.
"Kau ingin memberikan itu pada Arumi sekarang?"
"Ya, apa kau saja yang ingin memberikannya?"
Aisyah menggeleng, dia tahu jika Arif pasti ingin mengatakan sesuatu pada Arumi. Lebih tepatnya ingin menasehati gadis itu agar bisa berpenampilan lebih tertutup. Setelah bersiap, Arif pun mulai melangkah dari rumahnya.
Sesampainya di halaman rumah Arumi, dia melihat gadis itu sedang duduk di depan teras. Hal itu adalah kesempatan bagi Arif untuk memberikan apa yang dia bawa saat ini.
"Assalamualaikum," sapa Arif
"Waalaikumsalam," Arumi berdiri dari tempat duduknya. "Kak Arif, tumben kesini. Ada apa?"
"Arumi, saya ingin memberikan ini untukmu." ucapnya seraya menyodorkan paper bag itu.
"Apa ini, kak?" tanya Arumi pemasaran.
"Saya dan Aisyah besok akan mengadakan syukuran kecil-kecilan atas kehamilan dan saya keterima mengajar di universitas kota B. Saya mengundangmu secara khusus dan pakailah baju itu. Arumi, saya yang membawamu ke tempat ini, jadi saya harus bertanggungjawab atas semua yang ada padamu. Saya hanya ingin kau terlihat sopan karena besok akan ada banyak warga yang datang, bahkan orang tua saya juga orang tua Asiyah turut hadir."
Arumi mengerti jelas apa yang Arif katakan, pria itu ingin dia tampil tertutup dan sama seperti yang lainnya agar tidak jadi bahan omongan. Sungguh kepedulian Arif itu membuat Arumi semakin mengagumi.
"Aku akan meluangkan waktu untuk datang ke acara Anda, kak. Lagipula, besok hari Minggu dan aku libur bekerja."
"Baiklah, kami menunggu kedatanganmu. Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam." Arumi menatap kepergian Arif.
Dia melirik paper bag yang ada di tangannya dan membawa masuk ke dalam rumah. Setelah berada di kamar, dirinya pun melihat pakaian apa yang Arif dan Aisyah belikan untuknya. Seketika mata gadis itu menjadi nanar, dia terharu atas apa yang dilihat saat ini.
Baju gamis panjang berwarna putih ditambah Payet di bagian dadanya, dan hijab berwarna hitam yang sangat cocok dipadu dengan baju tersebut. Arumi jadi merasa bersalah jika mengingat masa lalunya, tetapi semua sudah terjadi dan anggap saja itu sebagai pelajaran untuk dia menjadi lebih baik lagi.
Ada sebuah surat disana, dia melihat surat tersebut dan mulai membacanya.
'Pakailah baju itu, Arumi. Saya dan Aisyah sepakat membelikanmu baju yang sama seperti para keluarga kami. Kami berdua sudah menganggapmu sebagai adik kami sendiri.' isi surat itu dan di tanggapi senyum hambar oleh Arumi.
__ADS_1
''Dia hanya menganggapku sebagai adik? Aku pikir beda." Arumi terdiam sejenak lalu tanpa sengaja matanya terhenti di sajadah, mukenah dan tasbihnya. "Astaghfirullah, apa yang kau pikirkan Arumi? Jangan menjadi penghalang antara Kak Arif dan istrinya. Mereka sudah sangat baik padamu, dan kau punya begitu banyak hutang Budi pada mereka. Hentikan pikiran burukmu dan jangan berharap apa pun!" lanjutnya menyadarkan diri sendiri.
Dia mendengar suara Adzan dan mulai bersiap untuk pergi tarawih ke masjid.
****
Keesokan harinya.
Arumi sudah bersiap, dia tampil sangat cantik dengan memakai gamis pemberian dari Arif. Bahkan wajahnya terasa bersinar ketika dia memakai hijab untuk menutupi auratnya. Dia tersenyum menatap pantulan dirinya di cermin.
''Ternyata aku semakin cantik jika memakai hijab seperti ini." ucapnya tersenyum bahagia.
Dia kembali membenahi penampilan dan ketika sudah selesai, dirinya pun pergi keluar dari kamar dengan membawa dompet panjang dan juga paper bag untuk diberikan kepada Aisyah.
Arumi berjalan menuju ke rumah Arif, ternyata ada beberapa Ibu-ibu dan para gadis yang baru saja pergi.
"Selamat pagi, semuanya. Assalamualaikum," sapa Arumi pada mereka semua.
Keempat wanita itu menghentikan langkah mereka dan menoleh ke asal suara. Keempatnya kaget dan terpukau melihat penampilan Arumi yang tampil beda hari ini.
"Wah, Kak Arum cantik sekali." ucap gadis berusia tujuh belas tahun itu.
"Kau ingin pergi ke rumah Arif juga, Nak? Ayo, kita jalan bersama-sama." tawar Ibu Chaca.
Arumi mengangguk dan mereka berjalan sambil berbincang kecil.
Beberapa menit kemudian, sampailah mereka di rumah Arif. Sudah banyak sekali orang disana baik laki-laki maupun perempuan. Sepertinya Arif benar-benar mengadakan syukuran yang cukup besar. Bahkan, ada bus yang terparkir disana dengan bacaan Panti Asuhan Cinta Kasih.
"Ayo, Arumi!" ajak Ibu Chaca pada Arumi yang hanya melamun saja.
Mereka masuk ke dalam rumah dengan mengucapkan salam. Sesampainya di dalam, Arumi melihat Aisyah dan dia segera menghampirinya.
"Kak Aisyah," sapanya ketika sudah berada di dekat Aisyah yang kala itu sedang mengobrol dengan sanak saudara.
"Arumi, kau sudah datang?" Aisyah tersenyum ramah. "Wah, kau sangat cantik memakai pakaian ini. Di tambah lagi hijabmu yang membuat kau semakin mempesona." puji Aisyah membuat wajah gadis itu memerah.
"Mbak Aisyah bisa saja," Arumi menjadi salah tingkah. Dia ingat bahwa dirinya membawa sesuatu untuk Aisyah. "Kak, aku membawakan ini untukmu." ucapnya sambil menyodorkan paper bag itu. Ya, sekaligus mengalihkan topik pembicaraan.
"Apa ini? Astaga, Arumi. Kenapa harus repot-repot segala?" ujar Aisyah tidak enak.
''Tidak masalah, Kak. Kebetulan aku sudah gajian dan lagi itu tidak terlalu mahal harganya."
__ADS_1
Mereka berdua kembali berbincang, hingga kedatangan Arif dan para orang tua menghentikan perbincangan keduanya. Para orang tua heran karena melihat Aisyah begitu dengan gadis yang ada di depannya, bahkan mereka sudah terlihat seperti kenal sejak lama.
Arif memahami apa yang orang tuanya pikirkan, dia memang belum menceritakan semuanya tentang Arumi yang tanpa sengaja hampir dia tabrak.
"Ayah, perkenalkan ini Arumi." ucap Arif pada Ayahnya.
Pria tua itu tersenyum ramah begitu pun dengan Arumi.
"Apa kabar, Tuan?" tanya Arumi sopan sambil mencium takzim punggung tangan Attar.
"Alhamdulillah, sehat." jawab Attar singkat.
Arumi beralih mencium takzim punggung tangan orang tua Aisyah dan Umi Arif. Setelah itu, Arif mulai menceritakan apa yang terjadi hingga Aisyah bisa sedekat itu dengan Arumi. Para orang tua paham, mereka pun menjadi Iba dengan keadaan Arumi.
"Nak, kau bisa menganggap kami sebagai orang tuamu. Kau pasti sangat kesepian bukan?"
"Nyonya, saya tidak pernah kesepian karena Allah selalu bersama dengan saya. Ketika saya butuh tempat untuk mencurahkan rasa gundah gulana, saya mengingat Allah dan langsung menemuinya dengan cara sholat. Lalu sekarang, hidup saya semakin tidak pernah sepi karena ada kak Arif dan kak Asiyah. Mereka sangat baik dan sudah menganggap saya seperti keluarga sendiri. Meksipun kami baru beberapa bulan berteman."
"Syukurlah, Nak. Jadi sekarang, kau bisa menambah anggota keluarga lagi yaitu Umi dan Abi." ujar orang tua Arif.
"Panggil saya dengan panggilan Umi, dan dia Ayah." ucap Umi seraya menunjuk Attar.
"Terima kasih, Umi." ucap Arumi bersyukur, dia bahagia karena perubahan pada dirinya membawa kenyamanan dan ketenangan meskipun hidupnya tidak semewah dulu.
Begitupun dengan orang tua Aisyah, mereka sangat welcome dengan kedatangan Arumi dan juga menganggap gadis itu seperti keluarga sendiri.
Dari kejauhan, tampak seorang pria tengah tersenyum melihat Arumi yang aura wajahnya penuh dengan kebahagiaan.
•
•
TBC
VISUAL AISYAH
VISUAL ARUMI MEMAKAI HIJAB
__ADS_1