
Arif pulang dari sekolah tepat pukul dua siang, dia masuk ke dalam rumah dan tidak mendapati sang istri yang biasanya selalu menunggu dia di ruang tamu. Dirinya bergegas menuju kamar untuk melihat apakah ada Aisyah disana tau tidak. Namun, hasilnya nihil. Pria itu semakin gelisah dan khawatir, dia pun memanggil nama istrinya dengan sedikit berteriak.
"Aisyah! Aisyah kau dimana?" Arif sampai di halaman belakang dan dia melihat Aisyah yang sedang duduk di bawah pohon mangga.
Dirinya tersenyum ketika melihat Aisyah ternyata sedang bersantai di halaman belakang.
"Aisyah," panggil Arif lembut sambil mendekati istrinya itu.
Seketika Aisyah menoleh, dia tersenyum manis dan berdiri dari tempat duduknya.
"Mas, kau sudah pulang? Maaf aku tidak mendengar suara mobilmu. Mungkin karena aku terlalu asyik mendengarkan lantunan ayat suci Al-Qur'an ini," ucapnya menunjukkan ponsel.
Arif tersenyum, dia merangkul Aisyah dan mengajaknya untuk duduk.
"Duduklah, aku punya kabar gembira untukmu."
Aisyah pun langsung penasaran, dia memicing dan tersenyum manis. "Katakan, aku sudah tidak sabar untuk mendengarnya."
Arif mengeluarkan sesuatu, dia menatap wajah Aisyah yang sudah memegang kertas itu.
"Kau bisa membacanya, tapi aku mohon jangan marah terlebih dahulu." pinta Arif memelas.
__ADS_1
Rasa heran yang besar membuat Aisyah segera membuka kertas itu, dan dia pun tersenyum ketika sudah mengetahui isi dari kertas itu. Bagaimana tidak, Arif di terima mengajar di salah satu universitas terbesar kota B. Kampus itu sangat elit dan tentu saja gaji Arif akan bertambah dua kali lipat jika dia masuk menjadi dosen di kampus itu.
"Mas, kau—" Aisyah langsung masuk ke dalam pelukan Arif karena rasa bahagia yang tidak bisa di ucapkan.
"Alhamdulillah, Aisyah. Ini semua berkat doamu juga. Sudah lama aku menunggu surat penerimaan ini, dan pada akhirnya waktu itu pun tiba."
"Aku benar-benar bahagia, Mas. Syukurlah jika kau akhirnya keterima mengajar disana." Aisyah terdiam sejenak, lalu dia menegakkan tubuhnya kembali membuat Arif heran.
"Mas, tapi ada sesuatu juga yang ingin ku sampaikan."
"Ada apa?"
"Aisyah, apa itu? Kau jangan membuatku semakin penasaran."
"Sudahlah, Mas. Tutup saja matamu dan aku akan memberitahu apa ini," Aisyah membantu Arif memejamkan mata.
"Dalam hitungan ketiga, kau bisa membuka matamu." Aisyah mulai menghitung dan saat hampir sampai di hitungan ketiga, dia sengaja menghentikan ucapannya.
"Aisyah, kenapa berhenti? Ayolah, aku sudah tidak sabar ingin mendengar kabar apa yang ingin kau sampaikan padaku."
"Tiga!"
__ADS_1
Arif dengan cepat membuka matanya, dan dia mengerutkan dahi ketika Aisyah hanya menunjukkan sebuah alat yang panjangnya kurang lebih satu ruas jari telunjuk itu. Dia tentu saja tahu alat itu karena jaman sekarang sudah canggih.
"Aisyah, bukannya ini—?" ucapan Arif menggantung.
"Iya, Mas! Aku hamil." ujar Aisyah bahagia dengan aura binar.
Arif tidak mampu mengatakan apa pun lagi, intinya dia sangat bersyukur dan merasa hari ini adalah hari membahagiakan baginya. Dia mendapat kabar baik dua sekaligus, yakni diterima mengajar di kampus dan juga kehamilan Aisyah.
"Ternyata selama satu minggu ini aku mengalami perubahan seperti muntah-muntah, dan kepala pusing, itu semua karena aku sedang hamil, Mas. Ya, awalnya aku merasa ragu tetapi aku nekat mengeceknya ke Dokter. Dan hasilnya positif, sebentar lagi kita berdua akan segera menjadi orang tua." ucap Aisyah tanpa mengurangi senyum bahagianya.
Arif memeluk tubuh Aisyah. ''Alhamdulillah, Asiyah. Semoga kehidupan rumah tangga kita semakin membaik. Meskipun kita awalnya hanya menikah karena perjodohan, tetapi saat ini itu sudah tidak berlaku dan nyatanya aku bisa tulus mencintaimu. Aku berharap kita bisa bersama-sama hingga Till Jannah,"
"Amin." Aisyah memeluk tubuh Arif tak kalah erat.
Mereka berdua larut dalam kebahagiaan yang hari ini menyirami keluarga kecil mereka.
•
•
TBC
__ADS_1