
Dua bulan kemudian.
Arif dan Aisyah telah resmi menjadi pasangan suami-istri, namun keduanya masih sama-sama memiliki kecanggungan saat menghadapi satu sama lain. Meskipun mereka sudah melakukan hubungan layaknya suami-istri, tetapi itu tidak mengubah rasa canggung yang ada dalam diri keduanya.
Arif yang hanya berprofesi sebagai guru agama di salah satu sekolah swasta, hanya mampu memberikan tempat tinggal sederhana untuk Aisyah. Akan tetapi itu semua tidak di permasalahkan karena rumah tersebut adalah hasil dari jerih payah Arif sendiri. Tentu saja Aisyah malah semakin nyaman karena mereka tinggal di rumah sendiri tanpa ikut orang tua atau sanak saudara lainnya.
"Aisyah, maaf jika rumahku terlalu kecil untukmu. Ya, tidak seperti rumah milik Ayahmu." ucap Arif berterus terang.
Aisyah tersenyum tipis, dia menggelengkan kepala dan menatap Arif dengan lembut. "Tidak masalah, Mas. Yang terpenting bagiku adalah kenyamanan, dan aku tinggal bersama dengan suamiku. Lagipula, ini semua adalah hasil dari kerja kerasmu, tentu saja aku sangat menghargainya. Aku tidak perlu kemewahan yang penting hidup kita di penuhi oleh keberkahan dan kebahagiaan." tuturnya disambut bahagia oleh Arif.
Ya, gaji Arif mulai dia bekerja sebagai guru hanya di tabung untuk membeli rumah beserta isinya, bahkan sebagian untuk melamar dan membantu acara pernikahannya sendiri. Dia tidak ingin merepotkan orang tua saja, maka dari itu dirinya membiasakan hidup sederhana, tidak gengsi dan hemat.
"Aisyah, kita akan memulai semuanya dari awal dan aku ingin kau selalu ada disampingku meski apa pun yang terjadi. Hidup dalam keadaan susah maupun senang, yang penting kita berdua tetap bersama dan bisa saling menguatkan satu sama lain." Arif memberanikan diri untuk menggenggam jemari Aisyah.
"Kau tau, menikah itu tentang bekerja sama bukan seenaknya, menikah itu saling memahami bukan menuntut dipahami. Aku harap, kita berdua bisa saling mendukung dan tidak saling tuntut."
Aisyah menganggukkan kepala. "Doaku selalu ada untukmu, Mas."
"Dan membuatmu bahagia adalah ladang pahala untukku, Aisyah. Kau pembawa rezekiku, karena doa baik seorang istri untuk suaminya pasti sangat manjur."
__ADS_1
Keduanya saling melempar senyuman dan larut dalam keromantisan.
"Oh ya, apa kau ingin pergi berlibur? Ya, berbulan madu."
Aisyah hanya tertawa pelan, dia pun menggelengkan kepala. "Aku tidak ingin kemanapun, Mas."
Arif mengedikkan bahunya. ''Baiklah jika mau tidak mau, aku bisa apa?''
Mereka baru satu bulan menikah tetapi belum pergi berbulan madu ke suatu tempat. Aisyah memang pernah berkata sebelum mereka menikah, jika itu semua tidak perlu karena dia hanya ingin hubungan resmi dan tidak menuntut lebih. Ya, gadis itu benar-benar bisa membuat Arif luluh hanya dalam jangka waktu satu bulan.
****
Keesokan paginya, Aisyah sudah menyiapkan kopi untuk Arif. Inilah ritual paginya sebelum sang suami pergi bekerja.
"Terima kasih,'' ucap Arif tulus. "Aisyah, bisa kau buatkan aku bekal makan siang? Aku sangat bosan makan makanan di kantin atau di cafe dekat sekolah."
Aisyah sangat menyanggupi permintaan Arif, bahkan dia pun sangat bahagia jika suaminya lebih memilih membawa bekal daripada makan di luar. Dia pun dengan cepat menganggukkan kepalanya.
"Kau mau aku buatkan lauk apa, Mas?"
__ADS_1
"Terserah kau saja, apa pun yang kau buatkan pasti akan ku makan." ucap Arif yang membuat wajah Aisyah seketika merona.
Wanita itu segera pergi berlalu ke dapur berhubung jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Dia dengan cekatan berkutat di depan kompor untuk membuatkan bekal makan siang suaminya. Untung saja Umi selalu mengajari dia memasak dan melakukan pekerjaan lainnya, karena Umi berkata jika sebagai seorang perempuan harus bisa melakukan pekerjaan rumah apalagi memasak.
Ya, jika sudah menikah pasti akan terbiasa dengan pekerjaan rumah. Meskipun terkadang suami tidak menuntut agar istrinya melakukan pekerjaan tersebut, namun itu semua sudah hak seorang istri untuk menjalankannya. Tetapi, kalau suami punya waktu luang maka suami pun bisa membantu istrinya untuk melakukan pekerjaan rumah.
"Mas, ini bekalnya sudah selesai. Habiskan, ya? Aku juga membawakan ini untuk kau makan bersama dengan teman-temanmu nantinya." Aisyah menyodorkan dua buah bekal ke hadapan Arif. Bekal itu berisi perkedel kentang dan parsel isi ayam, lalu bekal satunya ada nasi dan lauk ayam semur juga tumis cah kangkung.
"Terima kasih, Aisyah."
Aisyah mengangguk, mereka berdua keluar dari rumah karena jam sudah menunjukkan pukul tujuh lima belas. Beruntung hari ini bukan Senin dan tidak ada jadwal upacara bendera. Aisyah mencium takzim punggung tangan sang suami, dia melambaikan tangan setelah suaminya itu naik ke atas motor.
"Hati-hati, Mas!" ucap Aisyah setelah motor Arif mulai melaju.
"Ya, jaga dirimu baik-baik."
Aisyah tersenyum lebar, dia terus menatap kendaraan sang suami yang sudah menghilang di balik pagar rumah. Setelah itu, dirinya pun masuk ke dalam dan akan mulai mengerjakan tugas rumah.
•
__ADS_1
•
TBC