Tasbih Cinta Arumi

Tasbih Cinta Arumi
Bab. 35 Mengetahui kebenarannya


__ADS_3

"Selama ini pria yang bersamamu bukanlah Ahmad. Ya, aku bukan Ahmad!" tegas Amran membuat Arumi benar-benar syok.


Gadis itu membekap mulutnya sendiri, dia memundurkan langkah dan menggeleng tidak percaya. Dia mencoba mencerna ucapan pria tersebut, bagaimana mungkin wajahnya sangat mirip dengan Ahmad? Arumi pun tidak percaya, dia yakin jika ini hanyalah akal bulus pria itu agar dirinya tidak marah.


"Kau tidak percaya padaku?"


Arumi menggeleng. "Lelucon apa ini?"


"Ini bukan lelucon, Arumi. Aku tidak mau terus-menerus di kejar oleh wanita itu!" Amran menunjuk Bunga.


"Mas, apa yang kau katakan?"


"Diamlah! Lebih baik kau pergi karena aku tidak punya urusan lagi denganmu." usir Amran kasar hingga membuat Bunga pergi dari sana karena malu.


Setelah Bunga pergi, tinggallah mereka berdua saat ini. Keduanya sama-sama masih betah terdiam, Amran menghela napas dan dia mulai mengatakan hal yang sejujur-jujurnya.

__ADS_1


"Arumi, aku ingin bicara tapi ku mohon jangan marah padaku. Ini semua juga bukan kemauanku." jelas Amran menatap wajah Arumi.


"Katakan, Mas! Aku mohon jangan ada lagi yang kau tutup-tutupi." Arumi berkata tanpa melihat wajah Amran.


"Sebenarnya Ahmad sudah meninggal."


Deg!


Tubuh Arumi hampir saja jatuh ke tanah jika tidak di tahan oleh Amran, gadis itu diam mematung dan napasnya serasa mencekat di leher. Matanya berembun, dia membekap mulutnya sendiri.


"M—meninggal?"


Arumi tidak habis pikir dengan keluarga Ahmad, entah apa salahnya hingga mereka membenci dirinya. Bahkan, untuk sekedar mengobrol saja tidak pernah.


"Aku ingin pergi ke makam Mas Ahmad." pinta Arumi yakin, dia hanya ingin memastikan benar atau tidak ucapan pria di depannya itu.

__ADS_1


Amran mengangguk, dia berjalan ke mobil diikuti oleh Arumi. Setelah itu, mereka masuk ke dalam kendaraan tersebut dan pergi dari sekitaran restauran.


Beberapa menit kemudian, sampailah keduanya di TPU. Dimana Ahmad saat ini tinggal. Amran berjalan di depan Arumi, dia menunjukkan makam milik Ahmad yang tak jauh dari makam milik eyang buyut.


Arumi berjongkok lemas, dia memegangi batu nisan milik Ahmad. Disana tertuliskan nama seorang pria yang dia cintai dan selalu ada untuknya. Seketika tangisannya pun pecah, Arumi terisak dengan pipi yang menempel di batu nisan itu.


"Mas, kenapa secepat ini kau meninggalkanku? Kau tega membiarkan aku melawan dunia yang kejam ini sendirian. Bagaimana aku bisa semangat jika tidak ada dirimu? Kau yang selalu memberikan kata-kata penyemangat dan memberikan bahumu untuk aku bersandar. Lalu sekarang? Apa yang harus aku lakukan?" isaknya semakin menjadi kala dia mengingat kebersamaannya dengan Ahmad.


Amran tidak tega melihat Kesedihan Arumi, dia berjongkok dan memeluk tubuh gadis itu dari samping.


"Aku mohon jangan bersedih, bukan ini yang Ahmad inginkan darimu. Kau harus tetap tegar, Arumi. Percayalah, suatu saat nanti kau pasti akan mendapatkan pria yang baik seperti Ahmad."


Arumi hanya mampu menangis, dia memeluk tubuh Amran dengan sebelah tangan tetap betah memegangi batu nisan milik Ahmad. Ini benar-benar seperti mimpi buruk bagi Arumi .


__ADS_1



Tbc


__ADS_2