
Satu bulan kemudian.
Semuanya berjalan dengan lancar, Arumi pun akhirnya resmi menjadi seorang wanita pemuas atau sugar Baby. Pada saat pertama kali dirinya dan Arga bercinta, Arga sempat kaget karena tidak ada darah yang keluar dari kantong Semar Arumi. Hal tersebut pun di pertanyakan oleh Arga dan Arumi menceritakan semuanya. Pria dewasa itu turut Iba dengan keadaan Arumi.
Arumi bisa membayar biaya kuliahnya, dia bahkan sangat mudah untuk membeli barang-barang branded yang diinginkan. Diana, dia heran dengan perubahan Arumi yang saat ini telah menjadi gadis berpakaian cukup terbuka. Padahal, selama ini Arumi tidak suka berpakaian terbuka seperti itu jika berada di luar rumah.
Diana mendatangi rumah kos'an Arumi dan beralasan hanya berkunjung sejenak.
Keduanya sedang duduk di ruang tamu dengan di temani oleh dua gelas jus jeruk dan satu piring cookies.
"Arumi, maaf jika pertanyaanku ini mungkin sedikit membuatmu gelisah. Tapi, jujur aku heran dengan perubahan sikapmu, apa yang terjadi, Arumi?" tanya Diana lembut agar tidak menyinggung perasaan Arumi.
Arumi menaikkan sebelah alisnya, dia hanya tersenyum tipis.
"Coba perjelas apa yang ingin kau tanyakan padaku, Diana." jawab Rumi pura-pura tidak tahu.
"Rumi, aku mohon jangan bersikap tidak tahu seperti ini. Aku paham bagaimana sikapmu dan kau sangat berbeda dari dulunya."
Arumi akhirnya mulai menceritakan kepada Diana jika dia sudah menjadi seorang simpanan pria kaya. Diana pun melongo, dia tidak percaya jika sang sahabat mengikuti jejaknya.
"Kau, kau tidak berbohong? Kenapa kau tidak mengatakan padaku dari awal?" tuding Diana meminta penjelasan.
"Maafkan aku, Diana. Aku terpaksa menjadi seperti ini karena demi biaya kuliah. Aku ingin meminta bantuan padamu tetapi aku merasa malu."
Diana menggenggam jemari Arumi. "Rumi, kita ini bersahabat sudah cukup lama. Kau tidak perlu malu untuk meminta bantuan padamu, jika aku bisa pasti aku akan membantumu." ucapnya pasti.
"Semuanya sudah terlanjur dan aku menikmati pekerjaanku saat ini. Ya, cukup mudah mendapatkan apa yang ku inginkan dengan hanya sebagai seorang simpanan pria kaya."
Diana hanya bisa menghela napas, dia tidak bisa mengatakan apa pun lagi jika semua sudah menjadi kehendak Arumi.
"Siapa pria itu?" tanya Diana penasaran.
__ADS_1
"Dia adalah pria dewasa yang memiliki perusahaan di beberapa kota, namanya Arga. Arga Wijaya!" tekan Rumi di akhir kalimatnya mengucapkan nama Arga.
Diana melongo untuk kedua kalinya, dia sangat kenal dengan nama itu. Ya, pria kaya yang perusahaan memiliki tingkat nomor dua se-Asia.
"Arumi, kau tidak bercanda?"
"Ya, dia—" ucapan Rumi terpotong karena suara deru mobil yang berhenti tepat di halaman rumahnya.
Keduanya wanita itu menoleh ke pintu secara bersamaan, disana ternyata sudah ada Arga yang berdiri tegap penuh dengan wibawanya. Diana berulang kali menelan ludah ketika melihat pria tampan itu, meskipun terbilang usianya cukup dewasa, tetapi dia masih seperti pria yang usianya di bawah tiga puluh tahun.
"Sayang," sapa Arumi sambil berdiri dari tempat duduk diikuti oleh Diana.
"Halo, baby. Maaf jika aku menganggumu sore-sore seperti ini.'' ujar Arga dengan senyum manis.
Arga berjalan mendekati Arumi, tanpa rasa malu dia mengecup bibir Arumi sekilas dan dibalas mesra oleh Arumi.
"Sayang, apa kau akan menginap disini?" tanya Arumi dengan nada manja.
Arga yakin jika perempuan di hadapannya saat ini adalah seorang wanita penghibur, terlihat dari gaya berpakaian dan juga wajahnya.
"Baby, siapa dia?"
"Oh, dia temanku. Namanya Diana." sahut Rumi memperkenalkan nama Diana.
Mereka berdua berjabat tangan dan Diana pun tersenyum manis.
"Baiklah, kalau begitu aku pamit pulang dulu. Rumi, jaga dirimu baik-baik. Permisi!" Diana langsung keluar dari rumah Arumi.
Setelah kepergian Diana, Arumi langsung berjalan ke pintu dan dia mengunci pintu rumahnya. Mereka berdua pun duduk di sofa dengan Arga yang merangkul pundak Arumi.
"Aku sangat merindukanmu." bisik Arga pelan di telinga Arumi.
__ADS_1
"Kau ini, baru dua hari kita tidak bertemu dan sekarang kau sudah mengatakan jika dirimu rindu denganku?" Arumi mencubit perut Arga pelan.
Arga terkekeh, dia mengecup pucuk kepala Arumi. Entah mengapa belakangan ini dia merasakan getaran yang aneh di dalam dirinya setelah jarang bertemu dengan Arumi. Arga pun pernah meminta kepada Arumi agar mereka menikah secara sirih tetapi Arumi menolaknya dengan halus.
Arga pun sempat ingin membelikan rumah mewah kepada Arumi agar dirinya nyaman jika berkunjung tetapi Arumi pun menolaknya dengan halus pula. Arga akhirnya pasrah, dia tidak ingin memaksa agar Arumi tetap nyaman bersama dengan dirinya.
"Baby, aku hanya punya waktu dua hari berada di kota ini. Ya, aku tidak bisa terus menerus membohongi istriku dengan dalil pekerjaan dan pergi ke luar kota."
"Baiklah, tidak masalah." ujar Arumi
"Tetapi, aku tidak bisa jauh darimu. Apa kau mau ikut denganku ke kota? Ya, aku akan membelikan dirimu rumah disana dan pastinya rahasia kita tidak akan terbongkar." pinta Arga.
"Mas, aku tidak bisa ikut denganmu. Kau tau 'kan jika aku masih berkuliah dan harus menyelesaikan sekolahku terlebih dahulu?" Arumi melingkarkan kedua tangannya di pinggang Arga.
Arga menghela napas dengan kasar, dia tidak bisa tersiksa rindu karena jauh dari Arumi.
Cup
Kecupan mulai mendarat di bibir Arumi.
"Baby, berhubung aku hanya dua hari di kota ini, jadi aku ingin kita menghabiskan waktu bersama sepanjang malam."
Arumi mengangguk cepat. "Semuanya milikmu dan aku akan melayanimu dengan senang hati."
Arga menggendong tubuh Arumi ala bride style, keduanya menuju ke kamar dengan cara me*lu*mat bibir masing-masing.
Arumi sudah melupakan semuanya, harga dirinya, keluarganya, keluarga Arga dan semuanya yang dulu dia pertahankan.
•
•
__ADS_1
TBC