
Matahari sudah terbit memancarkan cahayanya yang cerah menyinari bumi ini. Terlihat Arumi baru saja selesai mandi dan hari ini dia akan bersantai sebab libur bekerja. Ya, pemilik restoran sedang ada acara besar dan semua pegawai di liburkan. Namun, pemilik restoran itu mengundang seluruh pegawainya untuk datang ke pesta pernikahan anaknya. Tentu saja hal tersebut membuat Arumi bingung akan pergi dengan siapa.
Dibenaknya berpikir jika dia akan mengajak Ahmad, tetapi sepertinya hal itu tidak mungkin karena pasti akan menumbuhkan masalah. Saat sedang asyik melamun memikirkan partner untuk datang ke acara, pintu rumah Arumi diketuk. Gadis itu menoleh ke arah pintu dan dia segera berdiri sambil mendengus kesal.
"Huft, siapa sih pagi-pagi begini bertamu ke rumah orang?" gumamnya kesal dan tangannya menarik handel pintu.
Ceklek.
Seketika mata Arumi membulat saat melihat Ahmad yang sudah berdiri tegap di depan pintunya.
"M—mas Ahmad, mau apa kau datang kesini?" tanya Arumi spontan hingga membuat Ahmad mengerutkan kening.
"Halo, apa kau tidak ingin mempersilahkan aku masuk terlebih dahulu?"
"Akh, maaf. Aku lupa, ayo masuk!"
Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan Arumi tetap membuka pintu dengan lebar agar nantinya tidak menjadi fitnah. Setelah itu, keduanya duduk di kursi rotan.
__ADS_1
"Ada perlu apa, Mas?"
"Aku hanya ingin berkunjung saja. Memangnya kenapa? Kau seperti tidak suka dengan kedatanganku ini," Ahmad mereka sedih.
"Eh, bukan seperti itu. Hanya saja, ini masih pagi. Aku takut orang akan berpikiran yang tidak-tidak tentang kita berdua."
"Tidak perlu memikirkan ucapan orang lain, Arumi. Kitalah yang tahu, mereka hanya suka salah paham saja." Ahmad memandangi wajah cantik Arumi yang alami tanpa make up sedikitpun. "Apa kau ada acara nanti malam? Aku ingin membawamu ke suatu tempat dan mengatakan sesuatu."
Arumi menyadarkan tubuhnya di kursi. "Kebetulan malam ini aku harus datang ke acara pernikahan pemilik restoran tempatku bekerja, Mas. Nah tapi masalahnya, aku bingung pergi dengan siapa."
Arumi melongo mendengar jawaban dari Ahmad. 'Secepat inikah, Mas? Kau sudah merasakan jika cintaku sangat besar padamu?' batinnya sedikit bahagia.
"Tidak mungkin kita pergi berdua, Mas. Bagaimana jika nanti ada yang mengenalmu dan mengatakan semuanya pada orang tuamu. Bisa gawat!" pungkas Arumi.
"Kau tenang saja, aku tidak takut dengan semua itu. Jika kau mau pergi bersamaku, maka kita akan belanja untuk mencari baju sekarang juga."
"Hah?"
__ADS_1
"Ya, kau mau atau tidak?" Ahmad beranjak dari kursi.
"Itu, aku—" ucapan Arumi terputus karena Ahmad dengan cepat menarik tangannya.
"Sudah, tidak perlu banyak berpikir! Ayo cepat ganti pakaianmu dan kita akan segera pergi berbelanja." Ahmad tersenyum manis dan mampu membuat hati gadis di depannya itu meleleh.
Arumi menuruti ucapan Ahmad, dia segera pergi masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaiannya. Setelah selesai berganti, mereka pun pergi dari rumah Arumi.
Di tengah perjalanan, gadis itu melirik Ahmad yang serius menyetir mobilnya. Dia masih heran dan penasaran mengapa sifat Ahmad sedikit berbeda, bahkan pria itu juga memiliki kegemaran yang tidak pernah di lakukan saat berpacaran dengan Arumi. Gadis itu ingin bertanya, tapi dia enggan untuk melakukan itu karena takut menyinggung perasaan Ahmad.
'Pasti akan ada waktunya untuk menjawab pertanyaan yang sedang berputar di kepalaku saat ini.' batin Arumi menghela napas dan menatap lurus ke depan.
•
•
TBC
__ADS_1