Tasbih Cinta Arumi

Tasbih Cinta Arumi
Bab. 37 Kebaikan yang dibalas


__ADS_3

Sore harinya, Arumi baru saja bangun dari tidur tepat pukul empat sore. Dirinya hampir saja melupakan sholat yang rutin dia laksanakan. Arumi menegakkan tubuhnya, dia merasakan nyeri yang sangat luar biasa di bagian sikunya. Gadis itu meringis dan memejamkan mata sesaat, dia melirik sikunya lalu kembali merebahkan diri.


"Argh, sakit sekali." lirih Arumi hampir saja menangis.


Ketika dia hendak kembali memejamkan mata, dirinya mendengar suara ketukan pintu. Semakin lama makin kencang dan gadis itu pun berteriak untuk meminta menunggunya sejenak.


"Iya, sebentar!" teriak Arumi.


Gadis itu perlahan menurunkan kakinya, dia memegangi tangan sebelah kanan yang terasa sakit lalu pergi menuju ke pintu utama. Setelah sampai disana, Arumi Shea membuka pintu tersebut. Dia mematung ketika tahu siapa yang berada di hadapannya.


"Mas Amran?" panggil Arumi lirih hampir tak bersuara.


Amran tersenyum manis, wajahnya yang sangat mirip dengan Ahmad mampu membuat Arumi termenung. Namun, perbedaannya hanyalah Amran memiliki tahi lalat di bawah bibir dan alis yang tebal.


"Ada apa?" tanya Arumi kemudian.


"Mama memintaku untuk memberikan ini padamu." Amran menyodorkan rantang susun dan di terima oleh gadis itu dengan tangan terbuka.


"Terima kasih. Kenapa harus repot-repot seperti ini?"

__ADS_1


"Mama tahu jika kau pasti sulit untuk bergerak atau pergi keluar untuk mencari makanan di warung. Maka dari itu, Mama memasak lebih dan memberikannya untukmu."


"Baiklah, sampaikan salamku pada Tante."


Amran mengangguk. "Apa kau bisa melakukan pekerjaan rumah?"


"Aku rasa tidak, tanganku masih sedikit nyeri.''


"Kalau begitu, biar aku bantu." Amran menerobos masuk ke dalam rumah itu setelah dia mengucapkan salam.


"Eh, Mas! Astaga, tidak perlu repot-repot." tolak Arumi tidak enak. Gadis itu berlari kecil mengikuti Amran yang sudah berada di dapur, terlihat pria itu langsung mencuci piring tanpa rasa malu.


Sejenak kemudian Arumi menggelengkan kepala, jika memang Amran yang terbaik untuknya, maka dia akan menerima pria itu sebagai tujuan masa depannya.


Amran sudah selesai mencuci piring, dia membalikkan badan dan heran melihat Arumi yang memandang tak berkedip ke arahnya. Pria itu berjalan mendekati Arumi, dia melambaikan tangan tetapi tidak di gubris oleh gadis tersebut.


"Arumi? Arumi!" panggil Amran mengangetkan Arumi yang memang sedang melamun.


Gadis itu kebingungan, dia menjadi salah tingkah karena ketahuan memandang Amran sangat lama.

__ADS_1


"Ma—maaf, Mas."


Amran hanya tersenyum, dia mengelus pucuk kepala Arumi. "Apa yang sedang kau pikirkan?"


"Tidak ada, lupakan saja." jawab Arumi, dia berjalan ke meja lalu meletakkan rantang di atas meja tersebut. Dirinya berniat untuk membuka rantang tetapi sangat susah karena hanya menggunakan tangan satu.


Amran yang melihat itu pun bergegas menghampiri Arumi dan membantunya. Dia dengan cekatan memisahkan rantang susun itu satu persatu. Hal tersebut membuat Arumi tersenyum sembunyi lalu dia mengalihkan pandangan.


"Sudah selesai. Apa ada lagi yang harus ku bantu?"


Arumi menggeleng. "Terima kasih, Mas."


"Sama-sama. Kalau begitu aku permisi, kebetulan hari sudah hampir Maghrib dan aku takut Mama salah paham nanti."


Arumi mengantarkan Amran sampai di depan teras. Dia tersenyum manis dan mengatakan terima kasih sekali lagi. Setelah pria itu menjauh, Arumi langsung masuk ke dalam rumah untuk mandi dan berganti pakaian.



__ADS_1


tbc


__ADS_2