Tasbih Cinta Arumi

Tasbih Cinta Arumi
Bab. 19 Mulai sadar


__ADS_3

Aisyah bersikap manis dan ramah, tentu saja membuat Arumi menjadi tidak enak.


"Nona, ini saya bawakan makanan untuk Anda."


"Terima kasih," jawab Arumi tersenyum simpul.


"Bagaimana keadaan Anda? Suami saya bilang, Anda hampir saja tertabrak mobil."


"Keadaan saya baik, Nyonya. Saya hanya sedikit syok kemarin malam, ada dua orang pria yang mengejar saya dan mereka mengancam akan menghabisi nyawa saya." jelas Arumi sambil menunduk sedih.


"Masyaallah, tega sekali mereka. Sabar ya, Nona. Kau tidak perlu takut lagi karena sekarang sudah ada kami berdua yang akan menjaga Anda."


"Saya benar-benar sangat berhutang budi pada kalian berdua,"


"Tidak, Nona! Saling menolong itu sudah menjadi tugas sesama manusia, jadi tidak ada yang perlu di balas." Aisyah menatap Arumi dengan lembut.


Arumi melirik Aisyah sejenak, dia menghela napas karena ternyata pria di depannya itu sudah memiliki seorang istri. Dan lagi, istrinya sangat cantik, muslimah, sopan, baik hati, dan lemah lembut. Bukan bermaksud ingin merebut pria itu, tetapi Arumi menjadi tidak enak karena sudah masuk dalam kehidupan pasangan suami-istri itu.


"Oh ya, boleh saya tau nama Anda?" tanya Asiyah sembari mengulurkan tangan kanannya.


"Arumi," jawab Arumi ramah dan menjabat tangan Aisyah.


Arumi bergantian mengulurkan tangan ke hadapan Arif, tetapi pria itu malah mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Arif tidak mungkin menyentuh wanita yang bukan muhrimnya. Hal itu membuat Arumi salut, dadanya sedikit merasa sesak karena melihat pria baik seperti Arif.


'Apa aku bisa mendapatkan pria seperti dia? Tidak! Dosaku sangat banyak, perbuatanku selama ini adalah salah, lalu aku ingin mendapatkan pria seperti Tuan Arif? Mimpi, Arumi.' batin Arumi seraya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Nyonya, aku akan mencari pekerjaan di daerah sini. Maaf jika sebelum mendapatkan pekerjaan, aku merepotkan kalian. Aku tidak membawa apa pun, hanya ada uang di ATM dan jumlahnya juga tidak banyak."


"Tidak masalah, Arumi. Kami akan membantumu sebisa mungkin, kau tidak perlu merasa punya hutang budi.'' Aisyah tersenyum manis. "Oh ya, satu lagi! Jangan panggil kami dengan sebutan Nyonya atau Tuan, kau bisa memanggil kami berdua dengan panggilan kakak saja. Aku lihat, sepertinya usia kita tidak beda cukup jauh."


Arumi mengangguk paham. "B—baik, kak."


Mereka pun kembali mengobrol ringan, tetapi Arif berpamitan kepada dua orang wanita itu karena dia akan pergi mengajar.


****


Malam harinya, Arumi keluar dari rumah dengan hanya memakai celana pendek selutut dan baju kaos lengan pendek ketat yang membuat bentuk lekuk tubuhnya terjiplak jelas. Mungkin semua mata pria akan loncat dari tempatnya jika melihat penampilan Arumi saat ini.


Dia berjalan tanpa rasa risih dan dosa, hingga dua orang pemuda yang kala itu berpapasan dengannya langsung mengelap air liur yang hampir keluar dari sudut bibir mereka.


"Siapa, bro?" tanya salah satu temannya.


Keduanya berjalan mengikuti Arumi, tentu saja hal itu disadari oleh Arumi karena dia mendengar langkah kaki yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Dia menoleh kebelakang, sementara pria itu refleks menghentikan langkah mereka dan tersenyum canggung.


Arumi terdiam diri di tempat, dia menatap dua orang pria tersebut dengan rasa waspada.


"Hai, Nona." sapa salah satu pria yang usianya sekitar dua puluh empat tahun itu.


Arumi tersenyum tipis. "Ada apa, ya? Aku merasa jika kalian berdua mengikutiku. Jangan-jangan, kalian orang jahat?" lanjutnya dengan raut takut.


"Eh, tidak! Kami ini pemuda baik-baik. Perkenalkan, aku Morgan dan ini Ardhana."

__ADS_1


Mereka saling berjabat tangan dan Arumi pun bisa menghela napas dengan lega. Memang dari raut wajahnya, kedua pemuda itu bukanlah orang jahat.


"Nona, apa kau pendatang baru di kompleks ini?" tanya Morgan basa-basi.


Arumi mengangguk. "Saya baru kemarin malam pindah ke sini, salam kenal."


"Pantas saja, baru kali ini kami melihat ada wanita cantik dan seksi sepertimu di kompleks ini."


Seketika dahi Arumi sukses mengerut. "Maksudnya? Apa—" ucapannya terputus karena dia gadis yang lewat di depannya, menurut perkiraan, gadis itu sama usianya seperti dia.


Tetap, bedanya gadis-gadis tersebut berpakaian tertutup. Mereka memakai baju lengan panjang dan sedikit besar, celana panjang yang komprang, dan memakai hijab. Arumi paham apa yang kedua pemuda itu katakan, pantas saja mereka bisa menebak jika dia adalah pendatang baru di kompleks itu.


Melihat kedua gadis tersebut, ada rasa aneh yang muncul begitu saja dalam diri Arumi. Dia melihat penampilannya sendiri dan menghembuskan napas berat.


"Ada apa, Nona? Kau bisa lihat sendiri 'kan, bagaimana penampilan gadis-gadis disini." ucap Ardhan membuyarkan lamunan Arumi.


"Mereka sangat cantik, dan tertutup."


"Tapi sangat bosan di pandang, jarang ada pemandangan seperti dirimu di kompleks ini yang kami lihat." lanjut Morgan menimpali.


Arumi menggeleng. "Maaf, saya harus segera pulang. Perut saya lapar karena belum makan malam. Permisi!" ucapnya dan bergegas pergi dari sana sambil menenteng plastik hitam berisi sarden, Indomie, dan telur.


Sementara kedua pria itu, mereka berharap bisa bertemu lagi dengan Arumi dan mungkin bisa berkunjung ke rumah gadis seksi itu.


__ADS_1



TBC


__ADS_2