
Terimakasih mas farel" Naya menatap dalam mata hitam legam milik farel, degupan jantungnya terdengar sangat kencang. Naya tak bisa berbohong dia merasakan teduh dan tenang saat menatap bola mata indah itu.
"Kembali kasih ya Humaira" balas farel sembari mengelus pipi Naya dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Makan malam ayo, mas udah masak tadi" Naya mengangguk kemudian melipat mukena dan sajadahnya lalu diletakkan dilemari.
mereka berdua berjalan saling menggenggam tangan menuruni satu persatu anak tangga untuk menuju kemeja makan yang berada didapur, sesampainya dimeja makan Naya langsung menyodorkan nasi dan beberapa lauk kepiring farel dilanjut menyodokkan ke piringnya.
"ini kamu semua mas yang masak?"
"Bukan tapi setan" balas farel jengkel, sedangkan Naya kini sudah terkekeh.
"Masya Allah suami aku pinter banget sihh" Naya mengacak acak rambut farel yang sudah agak memanjang.
"ih mas rambutnya udah panjang besok potong ya"
"kamu temenin ya?" Naya hanya mengangguk, toh besok dia tidak ada jadwal apa apa.
selanjutnya tidak ada perbincangan diantara keduanya, mereka sibuk dengan makanan masing masing hanya ada suara dentingan sendok yang bertabrakan dengan piring kaca saja yang terdengar.
sehabis makan Naya membawa piring kotor mereka menuju wastafel untuk dicuci, saat sedang asyik mencuci piring tiba tiba farel berada disampingnya dan mengecup pipi Naya berkali kali.
"ih udah mas geli"
"gamau" farel menggigit pipi Naya lumayan keras meninggalkan bekas kemerahan Naya meringis saat merasakan pipinya yang perih, dengan refleks Naya meninju perut sang suami dengan...agak keras hehe.
"shh au sakit nay" ringis farel memegangi perutnya.
"syukurin, makan tuh sakit" Naya menjulurkan lidahnya kemudian melanjutkan acara mencuci yang sempat tertunda tadi akibat ulah suami usilnya.
"jahat banget sihhh" farel menggendong tubuh mungil Naya saat naya selesai mencuci piring.
"ih mas turunin" berontak Naya namun tidak didengarkan oleh farel, justru dia kini menaiki satu persatu anak tangga dengan Naya yang masih berada di gendongannya.
__ADS_1
farel meletakkan tubuh Naya diatas kasur lalu ikut duduk disebelah sang istri, merengkuh tubuh naya mencium dalam dalam harum tubuh sang istri yang benar benar menenangkannya.
Naya kini hanya bisa pasrah dengan tangan yang senantiasa mengelus rambut milik farel.
"nay, mas boleh tanya sesuatu?" Naya menunduk untuk menatap sang suami dengan kening berkerut, sedangkan farel masih berada di mode nyamannya tadi.
"mau nanya apa mas?"
"bang Gibran, siapa dia? kenapa kamu nyebutin nama dia tadi?" Naya mengangguk paham pasti suaminya mendengar teriakan refleks Naya tadi.
"mau dengar aku cerita?" Farel mengangguk samar.
"bobo yang bagus dulu" farel patuh, ia melepaskan pelukannya dan tidur dengan bantalan paha Naya, Naya mengulaskan senyuman tipis, tangannya tiada berhenti mengelus rambut sang suami.
**
Flashback
"yahaha jelek, kasian deh jelek" suara tertawa kini semakin menggema disebuah ruangan sepi itu.
Plak, tamparan kuat mendarat di pipi mulus Naya, tak hanya itu gadis didepannya ini kini menjambak rambutnya dengan sangat kuat.
"sakit, hiks umii" Naya terus menangis.
"sakit ya kasian" ejek mereka lalu tertawa.
Brakk, pintu terbuka menampilkan seorang laki laki yang usianya sama dengan beberapa gadis didepan Naya berlari menghampiri mereka.
"dasar nakal, pergi kalian gibran udah laporin kalian ke guru BK" bentak laki laki didepannya, kakak tingkat Naya yang membuly tadi berlari keluar tanpa meminta maaf pada Anaya.
"kamu gak papa? Ayo kita keluar dulu" ajak lelaki itu dibalas anggukan oleh anaya, mareka berdua kini melangkah pergi lalu duduk di taman.
"nama aku Gibran, nama kamu siapa?"
__ADS_1
"Naya"
"kamu kelas lima ya?" Naya mengangguk.
"berarti kamu panggil aku Abang karena aku lebih tua dari kamu, okei?"
"okei, Abang Gibran" lelaki tersebut tersenyum.
"mulai sekarang kita sahabatan" Naya mengangguk sambil terus tersenyum.
itu adalah awal pertemuan Naya dan Gibran, selang beberapa hari setelah kejadian itu tiba tiba Gibran mengatakan akan pindah ke komplek tempat naya tinggal dan kebetulan rumahnya berada didepan rumah Naya, semakin hari mereka pun semakin dekat.
hingga satu tahun kemudian Naya harus masuk ke pesantren atas suruhan abinya membuat Naya dan Gibran berpisah, namun ketika naya libur dan pulang mereka selalu bermain bersama. Hingga saat naya masuk kuliah dan Gibran kini sudah menjadi seorang abdi negara, yah gibran telah mewujudkan cita citanya untuk menjadi seorang TNI, Gibran berjanji pada Naya untuk segera menikahi Naya dalam waktu dekat ini.
namun selang dua bulan Gibran diutuskan untuk kepalestina, dengan berat hati Naya harus melepaskan kepergian Gibran untuk mengabdi. namun naas dua Minggu berada di Palestina Gibran dinyatakan gugur dari perangnya, berita buruk itu membuat Naya drop dan sangat merasa kehilangan padahal dua bulan lagi Gibran pulang dan mereka akan langsung menikah, namun takdir Allah tidak ada yang tau.
itulah sebabnya Naya tidak mau berkenalan dengan lelaki lain, banyak lelaki yang mengajaknya ta'aruf namun tiada satupun yang Naya terima, itu membuat Abi dan umi khawatir karena hari hari Naya selalu murung, dan akhirnya Abi memutuskan untuk menjodohkan Naya dengan anak dari sahabatnya yang kini sudah menjadi suami Naya yaitu farel.
flashback off
**
farel melihat Anaya yang menangis akibat menceritakan masalalu nya dengan orang yang sangat baik yang pernah ia temui, farel memeluk tubuh Naya dengan erat mengusap rambut Naya dengan lembut.
"shhut udah ya, Gibran sekarang dua udah tenang disana Gibran benar benar mengabdi pada pekerjaannya hingga akhir hayatnya" ujar farel.
"udah okei? besok sebelum temenin aku potong rambut kita kerumah barunya Gibran dulu, kita doain Gibran bareng bareng gimana mau?, Gibran juga pasti engga suka liat wanita yang disayanginya menangis gini" jujur saat mengatakan kalimat tadi farel merasakan sakit dihati nya, namun ia tidak boleh egois mementingkan perasaannya sendiri saat ini istrinya sedang rapuh karena mengungkit masa lalunya.
"iya mas, nay mau kerumah bang gib" farel melepaskan pelukannya dan tersenyum.
"okei, besok kita kesana"
perlahan farel mendekatkan wajahnya dengan wajah sang istri, mencium kedua pipi Naya, hidung mancung sang istri disertai dengan kecupan hangat didahinya, dan terakhir jatuh kepada benda kenyal yang sangat menggoda iman itu, dengan sangat pelan farel ******* bibir manis sang istri, hingga akhirnya malam ini menjadi malam panjang diantara keduanya..
__ADS_1
****
Bersambung....