
Assalamualaikum man teman, terimakasih buat yang udah mampir jangan lupa tinggalin jejak dengan cara VOMEN yaaa.
#banyak typo
#maaf kalau kata katanya kurang bagus
#no copy my story
#semoga rame
Happy reading 💐💗
Malam yang sunyi, semilir angin berhembus dengan kencang yang mampu membuat siapapun kedinginan, Seperti Naya contohnya.
Setelah mengetahui segala hal yang selama ini selalu menjadi teka teki dalam hidupnya mampu membuat Naya tidak bisa lagi berkata kata. Suami yang ia banggakan, ia idam idamkan ternyata bisa menciptakan luka yang tak akan pernah sembuh, kenapa suaminya tega melakukan itu? bukankah farel terlahir dari keluarga yang paham agama, tapi kenapa lelaki itu berbuat zina yang jelas jelas perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah.
sudahlah Naya sangat lelah malam ini, mulai dari kepalanya yang terus saja berbicara, memikirkan hal hal yang mampu membuatnya pusing bukan main, belum lagi tubuhnya terasa sangat pegal karena berjalan sangat jauh sekarang, ditambah perutnya yang besar.
"ya rabb hamba tidak mampu, hamba hanyalah wanita lemah tapi kenapa ujian yang datang kepada hamba sangat berat" mengeluh, sebenarnya Naya sangat jarang mengeluh, seberat apapun masalahnya akan ia hadapi dengan lapang dada.
Naya kini sudah sampai didepan rumah kedua orang tuanya, ia tidak sadar kalau kakinya terus melangkah hingga sampai dirumah Abi dan uminya yang bisa diperkirakan jarak dari rumahnya kesini mencapai dua kilo meter lebih. Bayangkan sejauh apa kalau jalan kaki? dengan air mata yang terus mengalir Naya memberanikan diri mengetuk pintu besar itu.
"assalamualaikum umi, Abi, ini Naya" panggilnya, tak lama derap langkah yang berasal dari dalam rumah terdengar disambut dengan teriakan sang umi yang menjawab salam, begitu pintu rumah dibuka Naya segera berhambur ke pelukan sang umi dan menangis sejadi jadinya.
"eh, astagfirullah nay, kamu kenapa sayang?" Khansa panik bukan main, wanita paruh baya itu sangat khawatir melihat kondisi putrinya yang tiba tiba datang ke rumah hanya dengan gamis dan jilbab instan yang menutupi dadanya dann....putrinya kesini sendirian tengah malam begini.
"masuk dulu ayo, umi buatkan kamu teh hangat" Khansa menuntun Naya untuk masuk kedalam rumah dan mendudukkannya di sofa tepat disamping Ardi-abinya yang menatap keduanya bingung.
"nay? kamu kenapa, ada masalah?" Naya melepaskan pelukan Khansa dan berhambur ke pelukan Ardi kembali menangis di dada bidang abinya.
"putri Abi kenapa hm? ada yang jahatin Naya?" tanya Ardi lembut, tangannya mengusap usap punggung Naya.
"sakit Abi, Naya sakit. Nay engga sanggup" masih dengan isakannya Naya menjawab.
"tenang dulu okei?"
"Abi, Naya salah apa sama mas farel sampai mas farel tega ngelakuin ini sama Naya, apa karena Naya tidak bisa muasin dia? atau karena tubuh Naya tidak bisa membuatnya puas? salah Naya apa abii!"
"maksud kamu? jelasin sama abi apa maksud dari perkataan kamu" Ardi berujar dengan tegas.
"mas farel menghamili wanita lain Abi, mas farel telah menjamah tubuh wanita lain" baik Ardi maupun Khansa terkejut mendengar pengakuan menyakitkan yang keluar dari mulut sang putri.
"Naya, ini beneran?" tanya Khansa, wanita itu masih sedikit ragu karena selama ini hubungan Naya dan farel terlihat baik baik aja, dan farel juga bukan tipe lelaki brengsek yang suka melukai hati perempuan, apalagi jika Naya perempuannya.
"buat apa Naya bohong umi, tadi ada perempuan yang dateng ke rumah, Naya kenal perempuan itu dia sahabatnya mas farel, dia sendiri yang bilang didepan ayah bunda kalau dia hamil anak dari mas farel, Naya juga sempat dikirimin foto yang ternyata foto itu diambil setelah mereka berhubungan" Naya menunjukkan foto yang dikirim dari nomor tak dikenal itu kepada Abi dan uminya.
"ini biar urusan Abi, Naya tidur dulu sama umi ya sayang" Ardi masih senantiasa mengelus punggung rapuh Naya, hati ayah mana yang tidak sakit ketika melihat putri kesayangannya disakiti oleh pria lain. Ardi marah sangat, tapi di satu sisi dia juga menyesal karena dirinya yang menjodohkan dan memaksa Naya untuk menikah dengan farel.
"Tapi Abi jangan pukulin mas farel" pinta Naya, Ardi mengecup kening sang putri lalu menggeleng "iya engga, sekarang Naya istirahat ya" Naya mengangguk.
"yuk, tidur sama umi, umi pengen ngelus perut kamu pasti sekarang cucu umi udah bisa nendang" Naya dan Khansa melangkah menuju kamar yang Naya tempati sedari kecil sementara Ardi tersenyum tipis melihat interaksi kedua wanita yang sangat berharga dalam hidupnya.
Tok tok tok
suara ketukan di pintu membuat ardi dengan terpaksa bangkit dari duduknya dan melangkah untuk membukakan pintu, ketika pintu terbuka dan melihat siapa yang bertamu ke rumahnya malam malam seperti ini raut wajahnya berubah menjadi datar.
"assalamualaikum, Abi" lelaki itu henda meraih tangan Ardi untuk dikecupnya namun dengan cepat Ardi menarik lengannya dan menyembunyikannya di balik punggung, dan lelaki yang hendak meraih tangannya tadi hanya tersenyum miris, pasti mertuanya sudah mengetahui apa yang terjadi.
__ADS_1
"ngapain kamu kesini?" Tanya Ardi ketus kepada farel, ya seseorang didepannya adalah farel sang menantu.
"Farel cuma mau mastiin keadaan Naya Abi, Naya disini kan?" tanya farel sopan, manik mata lelaki itu menampilkan ekspresi khawatir.
"iya dia kesini, sudah kan? sekarang kamu boleh pulang"
"farel ingin bertemu Naya Abi, izinin farel bertemu dengan naya ya?"
"tidak akan pernah, kamu jangan berharap bisa bertemu dengan anak saya lagi"
"engga, farel mau ketemu Naya Abi, farel mohon" farel menjatuhkan dirinya dan hendak mencium kaki Ardi namun dengan cepat Ardi menariknya agar kembali berdiri.
bugh
sebuah pukulan mendarat sempurna di pipi farel, pukulan lain juga berhasil mendarat diwajah serta tubuh lelaki itu, farel hanya diam menerima semuanya.
"tidak tau diri, kamu sudah mengkhianati putri saya dan sekarang kamu ingin menemui putri saya, apa tujuannya? kamu ingin menceritakan betapa indahnya tubuh perempuan yang kamu hamili didepan Naya?" tanya Ardi.
"tidak Abi, farel ingin meminta maaf pada Naya"
"cth, buang jauh jauh harapan kamu untuk mendapatkan maaf dari Naya, mendingan kamu persiapkan tubuh mu untuk hukuman yang akan datang" itulah kalimat terakhir yang diucapkan Ardi sebelum kaki jenjangnya kembali melangkah masuk kedalam rumah dan menguunci pintu.
farel mengacak rambutnya frustasi "laillah, kenapa jadi gini ya Allah" dirinya menangis, rumah tangganya hancur hanya karena kesalahan yang bahkan farel pun tidak tau itu murni kesalahannya atau bukan.
dengan langkah gontai farel berbalik dan menuju mobilnya, dirinya harus mempersiapkan beberapa barang yang akan dipakai untuk pernikahannya yang kedua kali. Mau tidak mau farel harus bertanggung jawab pada perempuan yang tengah mengandung darah dagingnya.
****
Hari Jum'at, hari ini adalah hari dimana farel dan citra akan dicambuk. Mereka berdua akan dicambuk di pesantren al-mukmin milik teman dari Gunawan, hukuman mereka akan disaksikan oleh ribuan santri, serta beberapa ustad dan ustadzah. Naya juga turut hadir menyaksikan hukuman bagi keduanya.
Farel dan citra sudah dipakaikan jubah putih dan kini sudah terduduk di atas panggung kecil, keduanya menunduk tak berani menatap siapapun yang berada disana.
"jadi. Maksud saya mengumpulkan kalian disini adalah untuk menyaksikan hukuman yang akan diberikan kepada kedua orang ini, karena mereka berdua telah berbuat maksiat" ujar lelaki tua itu yang merupakan pemilik dari pondok pesantren al-mukmin.
"nggeh kyai" ujar mereka serempak.
"baik bisa kita mulai sekarang ya"
satu
ctarrr
dua
ctarrr
tiga
ctarrr
cambukan terus dilayangkan pada kedua insan berbeda jenis kelamin itu, naya tak kuasa menahan tangisnya ketika melihat farel yang mengeluarkan ringisan kecil dari mulutnya.
sembilan puluh sembilan
ctarrr
seratus
__ADS_1
ctarrr
pada cambukan terakhir farel ambruk, jubah yang ia kenakan kini sebagiannya sudah berwarna merah pekat, beberapa ustad segera mengangkat farel dan membawanya ke ruang kesehatan. sedangkan citra, perempuan itu sudah lebih dulu pingsan dicambukan yang ke empat puluh dua.
Naya yang melihat farel dibawa ke ruang kesehatan dengan keadaan tak sadarkan diri panik bukan main, wanita itu berjalan mengikuti para ustad yang membopong farel.
sesampainya diruang kesehatan Naya segera menerobos masuk kedalam untuk melihat kondisi suami.
"aduh, ustadzah hani sedang keluar bagaimana dengan dia" ujar seorang ustad kepada teman temannya.
"ehm, maaf ustad. Saya istri dari beliau dan kebetulan saya seorang dokter jadi apa boleh saya saja yang memeriksa keadaan suami saya?" tanya Naya.
"boleh boleh, Alhamdulillah Syukron ibu" Naya hanya mengangguk dan tersenyum tipis, para ustad tadi segera pergi keluar dari UKS.
"cth, istrinya cantik gitu woii, dokter lagii tapi diselingkuhin kasian banget" ujar seorang ustad.
"shshss" ringisan lolos dari mulut farel, tiga puluh lima menit yang lalu Naya telah selesai mengobati luka dipunggung suaminya dan menunggu suaminya sadar.
"udah sadar? mana yang sakit, ini minum dulu" tanya naya ketika farel membuka matanya, lelaki itu tersenyum manis melihat tingkah Anaya yang menurutnya menggemaskan.
"aku gamau apa apa, cuma mau kamu selalu ada disini, dan maafin aku" ujar farel, membuat Naya diam tak berkutik.
"nay, izinin aku buat ngejelasin masalah ini ya?"
"aku gabutuh penjelasan dari kamu"
"yaudah, tapi aku mohon maafin aku ya nay, maaf" farel meraih lengan Naya namun dengan cepat ditepis oleh sang empu.
"setelah kamu menikah aku bakalan pergi, dan setelah anak dikandungan aku lahir kita cerai" deg, empat belas kalimat yang mampu membuat farel terdiam cukup lama. Lelaki itu merasakan sesak yang teramat didadanya, istri kesayangannya meminta mereka bercerai, farel tidak mau dan tidak akan mau.
"engga, aku engga ngizinin kamu pergi, kamu gak boleh kemana mana dan kita engga akan cerai sayang, mas janji mas bakalan adil"
"mau seadil apapun kamu itu engga akan mempan di aku, karena aku ga butuh adil kamu, aku cuma mau jadi wanita satu satunya dihati kamu, aku mau jadi istri satu satunya bukan istri kedua maupun pertama"
"nay, kamu tetap akan jadi yang satu satunya di hati aku"
"bullshit, mending kamu diam. kamu tenang aja aku bakalan hadir diacara pernikahan kamu sebagai saksi, dan setelah acara selesai aku akan segera terbang ke Mesir"
farel menggeleng ribut, "engga kamu gak boleh kemana mana nay, kamu mau nanti saat lahiran engga ditemenin sama suami?"
"kamu tau, itu lebih baik daripada aku harus lihat kamu ngelus perut wanita lain" ujar Naya "udahlah aku gaada waktu, Assalamualaikum" salam naya kemudian pergi meninggalkan farel sendirian. Dengan segala perasaan bersalah serta ketakutan akan kehilangan.
****
Halo segitu dulu part kali ini, maaf kalau kurang memuaskan yaa hehe, btw ada yang mau disampaikan buat aku? Naya? Farel? Citra? Sampaikan dikolom komentar yaa.
oh yaa aku mau minta tolong sama kalian untuk mempromosikan cerita ini (bagi yang berkenan) terimakasih
Follow
ig @firaacaramella
@pudingstrobery
**@hiiismefira
Pay pay
__ADS_1
Wassalamu'alaikum