
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu, kembali lagi dicerita ini jangan lupa ninggalin jejak dengan cara VOMEN yaa
#karya ini murni pikiran aku sendiri
#dilarang keras menjiplak
#maaf apabila ada kesalahan nama, tempat dll
#typo bertebaran
Happy reading ๐๐
Anaya sedari tadi terus mengurung dirinya didalam kamar, bahkan untukย makan bersama kedua orangtuanya pun dirinya tidak ikut. Dirinya terus menangis dan menangis karena besok suaminya akan menikah lagi, istri mana yang sanggup melihat suami tercintanya menikah dengan perempuan lain?.
tok tok tok
"Naya, umi ingin bicara" tanya Khansa sembari mengetuk pintu kamar bercat coklat didepannya, tak lama pintu terbuka menampilkan Anaya yang menggunakan mukena dengan mata yang sembab.
"ada apa umi?" tanyanya lembut, "nay, umi tau kamu sakit, kamu kecewa sama suami mu, tapi apa kamu mau bertemu dengannya?".
"maksud umi?"
"nak farel ada dibawah, ia ingin bertemu dengan kamu, Naya mau ketemu sama farel?" cukup lama Naya terdiam namun setelah itu perempuan itu mengangguk "Naya mau ketemu sama mas farel" jawabnya, Khansa tersenyum dan mengelus kepala sang putri "umi panggilkan dulu ya" Naya hanya mengangguk, lalu Khansa pun berbalik untuk menemui farel yang menunggu diruang tamu sementara Naya segera masuk kedalam kamarnya.
"nay, mas boleh masuk?"
"masuk aja, engga dikunci" farel tersenyum tipis ketika suara halus namun serak itu masuk ke indra pendengarnya, dengan perlahan farel membuka pintu kamar Naya dan masuk kedalam.
farel mengambil posisi duduk disamping Naya yang kini sedang bersandar di dashboard kasur.
"nay, mas tau kalau perbuatan mas sudah kelewat batas dan membuat kamu sakit, tapi mas bersumpah bahwa kamu yang akan selalu menjadi istri serta wanita yang paling mas cintai mau bagaimana pun kedepannya" ujarnya "untuk kesekian kalinya maaf kan mas Anaya" sambung farel dengan kepala tertunduk.
"Naya sudah memaafkan mas, tapi nay ingin meminta satu permintaan boleh?" Farel mendongak, mata sayu nya menatap Naya yang juga sama sayu nya seperti dirinya, bahkan kantung mata terlihat jelas dibawah mata indah milik Naya.
"insya Allah, kalau itu memang akan menjadi yang terbaik mas akan kabulkan"
"mas, kamu tau kan aku pernah bilang kalau aku sangat benci berada di hubungan poligami?" tanya Naya lembut, tangan gadis itu tanpa sungkan mengelus rambut lebat milik farel, sedangkan farel mengangguk menjawab pertanyaan dari sang istri.
"jadi, aku mau menghindar dari hubungan itu, aku mau pergi. Aku bakal ngerawat anak kita dengan baik dan aku juga akan menceritakan seberapa tampan abbanya, kamu jangan khawatir aku akan kasih izin kamu buat ketemu sama anak kita kok, jadi izinin aku buat pergi ya mas?" Mohon Naya, farel terdiam beberapa saat, mata tajamnya kini berubah menjadi mata yang tersirat penuh akan luka.
"kalau memang itu yang Naya mau, dan menjadi jalan terbaik mas akan izinkan, kamu nanti baik baik disana ya? kamu berada di negri orang jadi kamu harus ekstra hati hati, maaf aku engga bisa ngelindungi kamu lagi, jangan pernah lupain aku ya nay?" Naya mengangguk "dan naya juga ingin kita berpisah, maaf" farel tersenyum tipis, tangan kekar lelaki itu mengelus pipi sang istri lembut.
"mas tau gimana sakitnya kamu, walaupun mas engga ngerasain karena maslah dalang dari semua itu. iya, kalau Naya maunya kita berpisah untuk menyembuhkan luka Naya mas terima, nanti mas yang urus surat suratnya, tapi setelah anak kita berusia enam bulan ya nay?"
"iya, terimakasih mas farel. terimakasih atas semua bimbingan kamu, semua kasih sayang dan cinta yang kamu berikan untuk aku, terimakasih buat segalanya"
"mas juga berterimakasih sama Naya, terimakasih sudah mengenalkan kepada mas gimana rasanya dicintai dengan tulus, terimakasih selalu sabar sama sikap mas, terimakasih sudah menjadi istri yang selalu memuliakan suaminya, kamu terlalu sempurna untuk lelaki brengsek seperti mas, setelah ini kamu harus hidup bahagia dengan jalan yang telah kita ambil ya, sayang?" Naya memeluk tubuh farel dengan erat, dihirupnya lamat lamat aroma yang selalu membuatnya tenang, meresapi setiap inci pelukan terakhir ini, pelukan terakhir mereka.
setelah ini Naya akan selalu rindu dengan suara serak farel ketika membangunkannya untuk sholat tahajud, rindu bagaimana nyamannya berada didalam pelukan lelaki itu, rindu akan segala perkataan yang keluar dari mulut farel, dirinya akan merindukan segalanya tentang sang suami begitupun sebaliknya.
"hold me longer, because after this we will never feel it again" bisik farel ditelinga Naya.
malam itu, dimana sinar rembulan yang menusuk masuk kedalam kamar bercat biru muda itu melalui celah celah gorden yang sedikit terbuka, semilir angin serta bintang bintang indah yang menjadi saksi perpisahan kedua insan yang masih saling mencintai satu sama lain, mungkin cinta mereka tidak akan pernah pudar terbukti dari eratnya pelukan yang mereka berikan.
"I love you to the end, my wife"
"and I love you to eternity that will unite us again, my husband"
***
Hari Minggu, hari pernikahan farel abimayu dan citra kirana. Pernikahan keduanya hanya dihadiri oleh orang terdekat saja tidak ada yang mewah semuanya dilakukan secara sederhana di kediaman mempelai laki laki.
Naya menghela nafas, dirinya hari ini akan turut hadir menyaksikan suaminya mengucapkan sakral yang sama ketika dulu, sakral yang seharusnya diucapkan sekali seumur hidup dan hanya kepada orang yang dicintainya.
saat sedang asyik melamun tiba tiba bel rumahnya berbunyi dengan segera Naya berjalan ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang pagi pagi begini kerumahnya.
"bener dengan mbak Anaya?"
"iya, saya sendiri"
"oh baik, ini mbak ada kiriman buat mbak"
__ADS_1
"terimakasih" Naya mengambil paper bag yang diserahkan oleh pria berjaket hijau, lalu kembali masuk kedalam rumahnya. Anaya mendudukkan dirinya di sofa dan segera melihat apa isi dari paper bag tersebut.
ternyata isi dari paper bag tersebut adalah donat, tanpa ragu Naya segera melahap donat tersebut karena itu adalah makanan favoritnya, saat sedang asyik mengunyah pandangannya tertuju pada selembar stick note yang berada didalam paper bag, diraihnya stick note tersebut.
๏ฟผ
Donatnya
๏ฟผ
"Halo Anaya, calon maduku wkwk. nih aku kirimin donat biar engga galau wkw, jangan lupa hadir di acara pernikahan aku yaa!!!"
(Isi suratnya)
Anaya tak memperdulikan surat itu, dirinya terus memakan donat kesukaannya hingga tinggal dua potong lagi, setelah dirasa kenyang Naya segera bersiap siap dan menuju ke kediaman farel untuk menghadiri acara pernikahan sang suami.
dikediaman farel, baik farel maupun Gilang sedari tadi bergerak gelisah karena Anaya tak kunjung datang, Gilang sudah mengetahui semuanya dan tentu saja lelaki itu marah besar dan berakhir memukul farel yang keadaannya baru saja selesai dicambuk, Gilang datang kesini atas permintaan Anaya untuk menemani gadis itu dan dengan senang hati Gilang mengiyakan.
"saudara farel acara akadnya bisa kita mulai sekarang?" Tanya seorang pria tua yang diketahui adalah bapak penghulu, farel mengangguk dengan perlahan dirinya menggenggam tangan pria itu.
"bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara farel abimayu bin gunawan abimayu dengan putri saya Citra Kirana binti irwansyah dengan mas kawin sebesar sepuluh juta rupiah, sepuluh gram emas dan seperangkat alat sholat dibayar tunai"
"saya terima nikah dan kawinnya citra kirana binti Irwansyah dengan mas kawin tersebut tunai"
"Alhamdulillahhirabbil alamin"
"Kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri, sekarang silahkan mempelai wanita mencium tangan mempelai pria dan mempelai pria mencium kening mempelai wanita" citra segera meraih tangan farel untuk dikecupnya dan bergantian farel yang mengecup kening citra sekilas.
"baik saya segera kesana" raut wajah gilang panik bukan main ketika selesai mengangkat telepon dari seseorang, farel yang menatapnya menautkan alisnya dan bertanya "ada apa" dengan gerakan mulutnya.
"Naya kecelakaan" Gilang menyahut hanya dengan gerakan mulut juga setelah itu lelaki itu segera berlari meninggalkan pekarangan rumah farel, diikuti oleh farel yang juga tiba tiba berlari meninggalkan citra sendirian disana.
sesampainya dirumah sakit Gilang segera menuju ruang IGD disana terdapat Abi dan uminya,Gilang menjatuhkan bokongnya di kursi sebelah uminya, mengelus bahu sang umi yang bergetar karena menangis.
"umi tenang dulu ya, Naya ga akan kenapa napa percaya sama Gilang"
"abi, umi, bang gimana keadaan Anaya" farel berjalan dengan tergesa menghampiri ketiganya, Gilang menggeleng menjawab pertanyaan farel.
"iya, saya suaminya bagaimana keadaan istri saya dok?"
"ibuk Naya sudah melewati masa kritisnya namun kondisinya sangat lemah" jelas dokter tersebut membuat mereka berempat menghela nafas lega.
"Alhamdulillah, janinnya baik baik aja kan dok?" tanya Khansa, dokter itu menggeleng lemah.
"benturan kuat yang menghantam perut pasien serta makanan yang berisi racun yang dikonsumsinya membuat pasien harus kehilangan bayinya, mungkin kalian ingin melihatnya untuk terakhir kali, bayinya masih ada didalam" jelas dokter tersebut, farel terduduk lemas dilantai lututnya terasa seperti jelly.
"innalilahi wa innailaihi Raji'un"
"pasien sebentar lagi akan siuman, untuk jenazah bayinya akan diurus oleh suster saya permisi dulu" dokter itu pun pergi meninggalkan mereka yang masih terdiam mematung.
farel segera masuk kedalam ruangan yang terdapat istrinya yang terbaring lemah serta jenazah putrinya, dengan tangan gemetar farel menggendong tubuh mungil putrinya yang terasa dingin dan pucat.
"putri abba, kenapa ninggalin abba sama umma hm? dunia ini jahat ya sayang seperti abba makanya putri cantik abba pergi, istirahat yang tenang ya sayang, tunggu abba dan umma disana" farel mengadzani putrinya dengan suara bergetar menahan tangis setelah itu diciuminya seluruh wajah mungil sang bayi dan memberikan anaknya pada Ardi.
setelah berpamitan dengan sang bayi kini keempat manusia yang sedang berduka itu duduk dengan perasaan campur aduk menunggu sang ibu tersadar.
"um ummi" Naya berucap lirih, Khansa segera mendekati sang putri dan mengelus kepala anaya. "ini ummi, ada apa sayang" Naya menatap Khansa dengan mata berkaca kaca.
"Abi, m-mas farel, Abang" yang dipanggil pun segera mendekat.
"kita disini sayang" ujar Ardi lembut.
"m-maaf"
"Naya engga salah, kenapa minta maaf?" Kini Gilang yang menyahut.
"m-maaf karena Nayaย e-engga bisa j-jaga anak dalam k-kandungan nay" air matanya mengalir membasahi pipi mulus wanita tersebut.
"engga Naya engga salah, ini udah takdir Allah sayang, Allah engga mau putri kita berada di dunia yang jahat ini makanya Allah ingin melindungi putri kita di surga" farel, lelaki itu menjawab dengan tegar sebenarnya ia juga sangat merasa terpukul sekarang.
"m-maafin Naya ya?"
__ADS_1
"iya, abi, umi, Abang, dan farel maafin Naya" Gilang mengusap air mata yang turun membasahi pipi adik kecilnya.
"m-mas"
"iya sayang kenapa?, mau apa hm?"
"bantuin Nay talqin"
deg
jantung mereka berdebar begitu kencang ketika kalimat itu keluar dari mulut Anaya "nay.." panggil farel pelan, lelaki itu mengelus pipi Naya lembut.
"a-ayo m-mas"
"ikutin mas ya, sayang" Naya mengangguk lemah.
"asyhadu"
"asyhadu"
"Allaila"
"Allaila"
"hailallah"
"Hailallah"
"waasyhadu"
"waasyhadu"
"Anna Muhammadar"
"Anna Muhammadar"
"Rasulullah"
"Rasulullah"
Ardi, Khansa dan Gilang menangis menyaksikan farel yang menuntun sang istri untuk mengucapkan talqin.
"Allahuakbar" lirih naya.
terpejam, kini mata indah yang selalu menunjukkan binar bahagia telah terpejam dengan rapat, Naya terlihat damai dalam tidurnya.
dengan tangan bergetar farel menyentuh leher, hidung serta detak jantung sang istri yang ternyata telah berhenti bekerja "innalilahi wa innailaihi Raji'un" lirihnya, mereka berempat menangis dengan tangisan yang amat memilukan.
Anaya pergi, meninggalkan farel yang masih sangat mencintainya, meninggalkan Ardi dan Khansa yang sangat menyayangi dirinya dan meninggalkan Gilang yang masih ingin mendekap erat tubuhnya.
Hancur, hari ini farel hancur berkeping keping. Kedua bidadari dalam hidupnya telah pergi meninggalkan dirinya seorang diri, mereka pergi karena kesalahan yang telah farel perbuat pada malam itu. Andai malam itu ia tidak menemui citra di club pasti sekarang dirinya masih bisa melihat senyuman indah Naya, masih bisa merasakan tendangan tendangan kecil dari putrinya, namun semua itu hanyalah andai.
"tidurlah dengan damai duniaku, jaga putri kita ya sayang, nanti aku akan menyusul kalian dan kita akan menjaga putri kecil kita bersama sama disana seperti keinginan kamu, rest in love my perfect wife" bisik farel ditelinga anaya dan lelaki itu menciumi seluruh permukaan wajah sang pujaan hati.
inilah akhirnya, tentangmu, shaquella. gadis dengan senyuman menenangkan, gadis Sholehah, seorang dokter hebat yang telah menyelamatkan banyaknya nyawa, gadis yang dengan lapang dada menerima keinginan kedua orangtuanya yang hendak menjodohkannya, gadis yang senantiasa memaafkan sang suami, gadis yang berulang kali disakiti namun masih bisa tersenyum, gadis yang dengan lapang dada menerima suaminya menikah lagi. Namun sayangnya gadis itu kini telah kembali ke pelukan tuhan, Karena sebaik baiknya manusia dia tidaklah abadi.
Tamat
haii hehe ga kerasa udah tamat ajaaa, maafin ya kalau banyak kalimat atau ada beberapa yang salah hehe.
untuk yang terakhir kalinya ada yang mau disampaikan buat aku? Naya? Farel? Sampaikan dikolom komentar yaa.
follow
Ig @firaacaramella
@pudingstrobery
** @hiiismefira
Bay bay sampai bertemu di karya ku selanjutnyaaaaaaa
__ADS_1
Wassalamu'alaikum ๐๐๐๐