Tentangmu, shaquella

Tentangmu, shaquella
bab 28. buruk


__ADS_3

Assalamualaikum wr.wb hai man teman makasih buat yang udah mampir jangan lupa tinggalin jejaknya yaa


#karya ini murni dari pikiran aku sendiri


#dilarang keras untuk menjiplak cerita aku


Happy reading 💐💓


Sesampainya di rumah anaya dan farel segera melangkah menuju kamarnya, Naya melepaskan jasnya dan menggantungnya di balkon kamarnya. Anaya menoleh kebawah yang ternyata sudah ada beberapa mahasiswa farel yang sudah sampai untuk melakukan bimbingan, mengetahui bahwa farel belum keluar dari kamar mandi Naya pun memutuskan untuk turun kebawah menghampiri para mahasiswa suaminya.


"iya sebentar" Naya segera melangkah dan membukakan pintu rumahnya tak lupa menjawab salam, kemudian dia mempersilahkan para mahasiswa itu untuk duduk di sofa ruang tamu.


"mas farel nya sedang mandi, jadi mohon ditunggu sebentar ya." mereka hanya mengangguk "kalian mau dibuatkan minuman apa?"


"aduh buk, gapapa gausah repot repot" jawab salah satu dari mereka.


"eh gapapa engga ngerepotin kok, saya buatkan yang dingin dingin aja ya, berhubung diluar panas banget"


"boleh buk, terimakasih" Naya tersenyum lalu melangkah menuju dapur untuk membuatkan minuman untuk para tamunya.


"gue gak tahan, cantik banget bngst"


"eh maaf nunggu lama" farel berjalan kearah mereka dengan membawa laptop ditangannya, dan segera duduk di sofa tunggal.


"engga apa apa pak"


"yaudah mari kita mulai" mereka mengangguk kemudian memulai materi kuliah yang akan dijelaskan oleh farel.


selang beberapa lama Naya muncul dengan nampan berisi minuman dan beberapa cemilan yang berada ditangannya, lalu dengan hati hati Naya berjongkok dan meletakkan nampan itu diatas meja.


"ini silahkan diminum"


"waduh, makasi banyak ibuk cantik"


"ehem" farel berdehem singkat, membuat mereka semua menoleh kearahnya yang sedang menatap mereka tajam.


"hehe bercanda pak, maaf deh"


"dih cupu lo" mahasiswa bernama fikri tadi menoleh kearah temannya dengan tatapan kesel.


"ah bacot ren" lelaki bernama Rendi itu hanya terkekeh.


"disini dilarang ngomong kasar"


"iya pak iyaa maap, salah mulu gue" Naya tertawa mendengar perdebatan antara suaminya dan dua mahasiswa bernama fikri dan Rendi itu.


Anaya merasakan ada seseorang yang menatapnya sedari tadi sontak ia mengangkat kepalanya dan mendapati seorang laki laki menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan hal itu mampu membuat Naya merasa sedikit takut, jadi ia pun memutuskan untuk pergi dari sana.


"mas, nay keatas dulu ya"


"iya, hati hati sayang jangan lupa istirahat" jawab farel.


"yaelah pak posesif amat" farel menatap Fikri dengan satu alis terangkat. "kamu kalau iri bilang aja" ujarnya.

__ADS_1


"astagfirullah, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan bapak farel"


"udah nay, gausah didengerin itu anak satu,sana ke kamar istirahat" Naya mengangguk lalu bangkit darisana dan berjalan menuju kamarnya dilantai dua.


"ehem, maaf saya izin ke toilet sebentar"


"kebelet ren? mau gue temenin?" tanya fikri.


"gausah, gue engga penakut kaya Lo" lelaki bernama Rendi itu pun bangun dari duduknya.


"toiletnya ada disebelah kiri dari pintu itu ren" ujar farel, Rendi hanya mengangguk kemudian melangkahkan kakinya menuju pintu diujung ruangan, ia membuka pintu itu dan berbelok kearah yang berlawanan dari yang farel ucapkan tadi, bukannya berbelok kearah kiri yang mana toilet berada, Rendi justru berbelok kearah kanan yang terdapat tangga yang menghubungkan antara lantai satu dan lantai dua.


dengan langkah pelan rendi berjalan menaiki satu persatu anak tangga, sesampainya di anak tangga terakhir pemuda itu berhenti dan mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru pandangannya berhenti pada sebuah pintu bercat putih yang terdapat gantungan inisial A&F hanya pintu itu yang terdapat gantungan.


lelaki itu tersenyum tipis lalu berjalan menuju pintu tersebut, dibukanya dengan perlahan pintu itu agar tidak menimbulkan bunyi bising ia manatap seorang perempuan yang duduk diatas ranjang membelakangi dirinya sepertinya perempuan itu tidak mengetahui keberadaan dirinya. Kemudian secepat kilat rendi mengunci pintu itu dan menyimpan kunci tersebut disaku celananya.


saat mendengar suara pintu yang tiba tiba terkunci Naya langsung membalikkan badannya dan terkejut ketika mendapati seorang lelaki berdiri dibelakang pintu dan menatap dirinya dengan senyuman miring.


"ng-ngapain kamu kesini?" Naya berdiri dan melangkah menuju lelaki itu.


"gue? gue mau makan lo"


"gila"


"iya gue gila, gue gila karena kecantikan lo dan tubuh lo yang buat gue horny"


"brengsek, pergi dari sini" tekan naya, sungguh dirinya sangat ketakutan sekarang.


"pergi? haha lo nyuruh gue pergi setelah buat gue tersiksa dengan hasrat gue yang selalu memuncak saat liat lo" lelaki itu terkekeh pelan "lo kira gue bakal ngelepasin kesempatan emas ini? Anaya Anaya lo gak kasian sama gue yang cuma bisa jerk off sambil ngebayangin muka sama tubuh lo, masa sekarang disaat gue bisa ngerasain lo tapi lo nya nyuruh gue pergi sih ya gaakan lah, kesempatan emas ini mana mungkin sih disia siain"


plak


sebuah tamparan mendarat tetap dipipi wanita itu, Anaya sudah tidak bisa lagi menahan air matanya, apa ini ya Allah tega sekali lelaki didepannya ini.


"udah lo ngata ngatain gue? haha sekarang giliran gue yang nikmatin tubuh lo *****" Naya menggeleng, ia takut,sungguh apalagi ketika lelaki didepannya ini sudah melepaskan kaus yang dikenakannya, saat hendak berteriak meminta tolong sebuah tangan membekap mulutnya.


"berani lo teriak? mau anak yang ada didalam kandungan lo itu gue bunuh?" bisik Rendi tepat ditelinga Naya, Naya menggeleng kuat lalu menutup perutnya dengan kedua tangannya.


"sekarang lo harus jadi anjing yang penurut oke?" Anaya menatap Rendi dengan tatapan memohon, air matanya tidak berhenti mengalir sedari tadi tubuhnya juga mulai bergetar karena ketakutan.


"haha tatapan lo makin buat gue bernafsu *****" Rendi mendorong Anaya keatas kasur lalu mengangkat kedua tangan mungil itu dan diletakkannya di atas kepala anaya, satu tangannya mulai membuka hijab yang Anaya kenakan kemudian membuka kancing kemeja wanita dibawahnya ini.


"jangan, jangan lakuin itu aku mohon" lirih Naya, namun bukannya kasian lelaki itu malah semakin cepat membuka kancing baju Anaya dan, akhirnya semua kancing terlepas kini nampak lah suatu barang berharga milik Anaya yang seharusnya tidak dilihat oleh lelaki lain selain suaminya.


Rendi tersenyum dan secepat kilat ia mencium bibir gadis tak berdaya ini, dilumatnya bibir manis itu dengan kasar, kedua tangannya tak tinggal diam dan mulai meraba barang berharga milik wanita itu yang hanya tertutup oleh pakaian dalam, Naya menggelengkan kepalanya kasar hal itu mampu membuat Rendi kesal dan menggigit bibir Anaya dengan kuat sehingga mengeluarkan darah.


"Ya Allah bantu hamba untuk keluar dari sini, mas tolong Naya, nay takut" batin naya.


tak tahan dengan perlakuan menjijikan lelaki diatasnya Naya menendang sesuatu barang berharga milik lelaki itu, sontak membuat Rendi meringis kesakitan. Naya dengan segera langsung bangkit dan berlari menuju pintu dan mengetuknya dengan keras.


"TOLONG, MAS TOLONGIN NAYA MASS, TOLONGGG" teriak Naya.


farel dan beberapa mahasiswa yang mendengar teriakan dari arah atas langsung berlari menuju sumber suara.

__ADS_1


"TOLONG HIKS TOLONGIN NAYA"


farel panik bukan main, ia membuka pintu kamarnya dengan tergesa namun sial pintu itu terkunci.


"bantu saya dobrak pintunya" ujarnya, lalu farel dan beberapa mahasiswanya mendobrak pintu tersebut hingga terbuka setelah beberapa kali percobaan, mereka semua terkejut dengan pemandangan didepannya ini. Anaya yang terduduk dilantai dengan baju dan hijab yang terlepas wajah dan rambutnya juga terlihat sangat berantakan, sedangkan diujung kasur terdapat Rendi yang meringkuk.


"JANGAN ADA YANG MENATAP ISTRI SAYA" teriak farel menggema, semua yang berada disana lantas menutup matanya dan berbalik badan.


"ya Allah nay, kamu kenapa" lirih farel, hatinya sangat sakit ketika melihat keadaan sang istri yang jauh dari kata baik baik saja, tangannya bergerak untuk mengancing kembali kemeja yang dikenakan oleh Anaya.


"mas hiks, d-dia dia lecehin aku" tunjuk Naya kepada Rendi, emosi farel kini sudah memuncak wajah lelaki itu mulai memerah.


"yang perempuan tolong tutup aurat istri saya dan bawa dia pergi dari sini" mereka mengangguk, lalu menghampiri Naya dan memakaikan wanita itu hijab instan yang tergeletak di lantai lalu membawanya pergi dari sana.


farel berjalan kearah Rendi yang masih meringkuk sembari memegang barang berharganya, ia kemudian menarik Rendi agar berdiri ditatapnya lelaki bajingan itu dengan sangat tajam, nafas farel mulai memburu.


"kamu, kamu ngelecehin istri saya?JAWAB BAJINGAN" farel mendaratkan sebuah pukulan diwajah Rendi dengan sangat keras membuat leleki itu terhuyung kebelakang, tak puas dengan itu farel mulai memberikan pukulan demi pukulan kepada lelaki dihadapannya ini, pukulan yang diberikan tidak lah main main.


para mahasiswa lelaki lainnya berlari dan menghentikan aksi farel yang memukul lawannya dengan brutal, darah segar mulai mengalir dihidung dan telinga Rendi pelipisnya juga mulai mengeluarkan darah segar wajahnya jauh dari kata baik baik saja.


"saya akan laporin kamu ke pihak berwajib"


" kamu jangan pernah masuk dimata pelajaran saya dan jangan berharap kamu lulus dimata pelajaran saya, dan bimbingan ini tidak akan saya lanjutkan lagi jadi terserah kalian saya tidak peduli" setelah mengatakan itu farel berlalu darisana.


"BANGSAT LO GILA HAH? GARA GARA ULAH LO KITA SEMUA KENA IMBASNYA ANJING, LO KIRA MUDAH CARI DOSEN YANG DENGAN SUKA RELA NGASIH KITA BIMBINGAN?" amuk fikri.


Rendi hanya diam, lalu mereka bertiga membawa Rendi untuk turun kebawah dan meminta maaf atas apa yang terjadi, sesampainya dibawah mereka melihat farel yang sedang menenangkan istrinya dan dua orang mahasiswi yang hanya duduk sembari menunduk, disana juga terdapat tiga aparat kepolisian.


"itu pelakunya, saya serahkan semuanya kepada kalian dan saya harap kalian memberikannya hukuman yang setimpal" ujar farel dingin.


"baik pak" para polisi itu memborgol tangan rendi dan membawanya pergi darisana.


"pak farel, kita semua memohon maaf yang sebesar besarnya atas apa yang terjadi hari ini kepada istri bapak, kita menghargai keputusan bapak untuk tidak melanjutkan bimbingan ini lagi semoga ibuk Anaya tidak kenapa napa dan kita izin pamit, assalamualaikum" farel tidak menjawab, mereka berlima pun memutuskan untuk pergi dari sana.


"maafin mas yang udah lalai jagain kamu"


*****


Segitu dulu part kali ini, ada yang mau disampaikan kepada aku? Naya? Farel? Sampaikan dikolom komentar ya


Jangan lupa ninggalin jejak dengan cara vote and komennyaa


Follow ig


@firaacaramella


@pudingstrobery


tiktok


@hiiismefira


Bay bay

__ADS_1


Wassalamu'alaikum...


__ADS_2