
Ambulans sudah membawa Papa Eric ke rumah sakit dengan dijaga ketat oleh polisi dan tentara, Eric tinggal di rumah dan langsung memeriksa rumahnya.
Eric menyuruh Robbin memeriksa Cctv tapi meskipun dengan skill Robbin, si pria ahli IT itu tidak bisa langsung memulihkan rekaman Cctv rumah hari itu.
"Capt, orang itu keahliannya setara denganku. Hacker ini sangat jago, aku membutuhkan waktu untuk memulihkan rekaman hari ini."
"Aku sudah bilang itu Erren, Eric! Kenapa kau tak percaya padaku?!" Teriak Amber marah, sejak tadi perkataannya tak di dengar oleh Eric.
"Diam! Aku sudah mengkonfirmasi keberadaan Erren!"
"Kenapa kau membentakku?! Aku berkata jujur."
Harris maju berbisik di telinga Eric, "Capt, Erren ada di camp militer, banyak saksi yang melihatnya bahkan Cctv buktinya. Tidak mungkin Erren bisa di dua tempat sekaligus."
Eric mengangguk, dia memijit keningnya. "Amber pulanglah. Agnes bawa dia pulang." Eric bahkan tak sadar memanggil Amber dengan nama aslinya.
"Eric... aku tidak bohong."
"Pergi! Ini semua gara-gara kamu, kau dengar itu?! Adikku diculik sampai mengalami shock, sekarang Ayahku terluka parah yang belum pasti selamat atau tidak! Kalau saja kau-" teriaknya emosi tapi seketika ia menyesali ucapannya, Eric maju ingin memeluk Amber.
Tapi Amber memundurkan tubuhnya, wanita itu menatap tak percaya pada Eric. Raut wajahnya kecewa, matanya menatap sedih. "Kau benar, semua adalah kesalahanku. Kau pernah bilang jika penyamaran lumpuhmu terbongkar, akan banyak nyawa dalam bahaya. Aku yang sudah membongkar penyamaranmu, iya kan? Aku yang salah... aku salah...." Amber berlari keluar dengan rasa sakitnya pergi dari sana.
"Amber..." Eric menyesali ucapannya, dia bukan ingin sengaja mengatakannya.
"Capt?"
__ADS_1
"Biarkan polisi yang menangani disini, ayo pergi segera perbaiki rekaman Cctv. Tunggu, Harris kau sudah mencari keberadaan Ibuku, sebenarnya dimana dia? Kenapa tak ada dirumah? Zeze juga, dimana dia?"
"Ibu Anda sedang bersama Delon, Zeze memberikan keterangan pada polisi dia sedang membersihkan kamar dan tak mendengar apapun sebelum mendengar teriakan Nyonya."
Eric menghembuskan nafas berat, "Aku harus pulang, aku harus bicara dengan Amber. Kalian pergi periksa semuanya."
"Ya, Capt."
"Kapten!!" Agnes berlari ke dalam dengan wajah tegang.
"Ada apa?"
"Aku tadi mengikuti Nyonya keluar, dia malah merebut kunci mobil. Dia pergi membawa mobil dengan mengebut, Nyonya terlihat tidak fokus aku takut terjadi apa-apa padanya."
Amber menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi, dia menangis sepanjang jalan. "Hiks, aku bodoh! Aku bodoh! Semua salahku! Eric benar! Amber, kamu manusia tidak berguna! Mati saja!" wanita itu membawa mobilnya dengan gila-gilaan terus menyalahkan dirinya sendiri.
Tittttt! Tittttt!
"Amber! Berhenti! Aku bilang berhenti!" Teriak Eric yang sudah menyusulnya.
Amber semakin dalam menginjak pedal gas, dia tak mendengarkan teriakan Eric.
Eric semakin mempercepat mobilnya mendahului mobil Amber, di depan dia memutar balik mobilnya. Kini mobilnya mengarah ke arah berlawanan dari mobil Amber yang masih melaju ke arahnya. Dia menunggu mobil Amber di depan.
Citttttt.....
__ADS_1
Saat sudah dekat Amber mengerem dengan kuat, Dugh! Kepalanya terbentur, darah mengucur melewati matanya.
Eric dengan cepat turun dari mobil, dia berlari ke arah mobil yang dikendarai Amber. "Amber! Buka pintunya." Dia melihat wajah Amber berdarah, kepala wanita itu terluka.
Dugh! Dugh! Dugh!
Eric terus menggendor kaca mobil.
Klik!
Kunci pintu mobil terbuka, Amber turun dari dalam mobil dengan tatapan kosong. Eric memeluknya tapi Amber memberontak. "Pergi... biarkan aku mati..." lirih Amber.
"Amber, aku salah bicara. Maafkan aku... sayang..." Eric terus mencoba memeluknya tapi ditepis oleh wanita yang sedang frustasi itu.
"Arrgrhthtth! Biarkan aku mati! Aku ingin mati!" Amber terus meracau memukuli tubuhnya sendiri.
"Darahh..." Eric melihat darah mengalir dari kaki Amber.
Tiba-tiba kepala Amber terkulai ke belakang, tubuhnya terjatuh dalam pangkuan Eric. "Amber, sayang... Tidak! Maafkan aku! Bangun!"
Cittttt....
Agnes bergegas turun dari mobil, berlari ke arah mereka berdua. Ia melihat keadaan istri sang Kapten yang terluka. "Capt, ayo. Aku akan menyetir."
Dengan cepat Eric menggendong tubuh tak sadarkan diri Amber dalam pelukannya. Tubuh Eric gemetar, air mata sudah membasahi wajahnya. Seorang Kapten seperti Eric menangis, bahkan saat dulu Erren dikabarkan meninggal ia tak sebegitu menyedihkan seperti sekarang.
__ADS_1