Terjebak Dalam Tubuh Istri Yang Dibenci

Terjebak Dalam Tubuh Istri Yang Dibenci
Menjauhlah Dari Hidupku, Eric! Aku Membencimu!


__ADS_3

Amber dibawa ke ruang rawat untuk pemulihan, Eric terus menemani Amber dan tak membiarkan siapapun masuk ke dalam ruangan. Agnes berjaga di pintu masuk di luar.


Mata terpejam Amber perlahan terbuka, pupil matanya bergerak-gerak menatap langit-langit ruangan.


"Sayang, kamu bangun!" seru Eric senang.


Kepala Amber berputar ke arah suara Eric, "A-ku dimana? Apa yang terjadi...?" lirihnya.


"Di rumah sakit, kamu pingsan."


"Pingsan? Kenapa?"


Amber melihat wajah Eric gelisah, seperti menyembunyikan sesuatu. "Ada apa? Papa bagaimana?"


"Kondisi Papa stabil, Papa baik-baik saja," bohongnya, dia sudah mendapatkan kabar jika Papanya mengalami pendarahan di kepala dan akhirnya koma tapi dengan kondisi Amber sekarang dia tak ingin Amber berpikir overthinking.


"Kamu tidak bohong, Eric?"


"Tentu saja tidak, sekarang kamu harus memulihkan tubuhmu. Kamu..."


"Aku kenapa?" tiba-tiba Amber mengerenyit, ia memegangi perutnya kesakitan.


"Ada apa, Amber? Sakitkah?" Eric segera memijit nourse call memanggil medis.

__ADS_1


Dokter Swan dan beberapa perawat datang, "Anda sudah siuman, Nyonya. Mari saya periksa."


Perawat memeriksa infus, perawat lain mencatat dan Dokter Swan memeriksa denyut nadi dan beberapa bagian tubuh lainnya.


"Perutku sakit, Dok. Aku sakit apa?" Amber meringis kesakitan.


Dokter Swan menoleh pada Kapten Eric, "Apa Anda belum memberitahu istrimu, Capt?"


Eric menggeleng pasrah.


Dokter Swan mendesah, tugas paling berat bagi seorang Dokter ialah saat mengatakan pada seorang Ibu jika pasien sudah kehilangan anak dalam kandungan nya. "Anda sudah kehilangan anak dalam kandungan Anda, Nyonya. Janin berusia seminggu, maaf kami tidak bisa menyelamatkannya."


"Anak apa? Janin?" tanya Amber kebingungan belum mengerti.


"Ahhhh... " Amber memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sakit, "A-apa yang kalian katakan... anakku... hilang..." tubuh Amber bergetar hebat, seketika ia memberontak. "Tidak! Katakan itu tidak benar! Aku bahkan belum tau dia ada! Kembalikan anakku padaku! Kembalikan, Eric! Kembalikan anakku!"


"Shhh, sayang. Kamu boleh menangis tapi jangan bergerak seperti ini, tubuhmu masih lemah. Aku yang salah..."


"YA!!! Kau yang salah bajingan! Kau yang salah! Kenapa kau tidak percaya padaku! Aku bilang aku melihat mantan kekasihmu disana! Apa karena dia mantan kekasihmu?! Jadi kau tidak mempercayaiku! Karena kau masih mencintainya?! Iya! Jadi karena itu kau selalu bersamanya! Karena kau masih mencintainya! Katakan brengsek!"


"Itu tidak benar, aku tidak mencintainya lagi. Aku hanya mencintaimu, hanya kamu."


"Bajingan! Untuk menutupi pengkhianatanmu, kau bahkan berbohong mengatakan mencintaiku! Selama ini kau tak pernah mengatakannya! Kau pembohong besar! Kau bajingan! Kembalikan anakku!"

__ADS_1


"Sayang..."


"Arghhtt! Menjauhlah dari hidupku Eric! Aku membencimu!" ucapnya berapi-api, tanpa rasa kasihan Amber mencakar wajah Eric mengeluarkan semua amarahnya, ia lalu mendorong tubuh pria menjijikkan yang memeluknya itu. "Aku tak akan pernah memaafkanmu, Eric! Kau dan wanita itu! Membusuklah kalian di neraka!"


"Sayang... aku mohon."


Dugh!


Amber menonjok wajah Eric dengan sisa tenaga yang ia miliki, setelah itu kepalanya terkulai tak sadarkan diri.


Dokter Swan dan perawat masih shock melihat kejadian yang terjadi, bahkan saat istri sang Kapten pingsan mereka masih terdiam mematung.


"Dokter!!!" teriak Eric menyadarkan Dokter Swan.


"A-ah... maaf. Permisi, Capt." Dokter Swan lalu mengambil suntikan obat lalu menyuntikkan nya pada istri Kapten.


Para perawat menatap ngeri pada wajah Kapten Eric yang terdapat darah dari bekas cakaran kuku, darah juga mengucur keluar dari dalam hidung setelah ditonjok istrinya.


"Capt, mau aku obati lukanya," seorang perawat wanita memberanikan diri.


"KAU INGIN MATI?!" Eric menatap perawat itu dengan tatapan dingin.


Perawat seketika menjauh ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2