
Eric duduk di tanah sedang memakan roti di tangan nya, mengunyah tanpa bersemangat. Perasaan rindu membuncah di dalam hatinya dan itu terasa menyakitkan, seakan mencekiknya, "Hahhh..." dessahnya. "Aku merindukanmu, sayang..."
"Capt, kamu lupa lagi mematikan earphone-mu, kami mendengar dessahan kerinduanmu. Hmpp..." Di seberang atap bangunan sana Harris dan Robbin menahan tawanya.
Kali ini Eric diam saja tak membalas kejahilan para anak buahnya, ia benar-benar sedang tak ingin bercanda.
Cring cringgg!
Sebuah koin masuk ke dalam wadah di depan pria itu, seorang pejalan kaki lewat dan melemparnya. Kali ini ketua Agen khusus itu menyamar sebagai seorang pengemis, dengan wajah kotor rambut acak-acakan dan pakaian yang compang- camping.
"Capt, penyamaran mu kali ini adalah yang paling cocok untukmu. Itu benar-benar mencerminkan dirimu yang sedang merasa hancur di dalam sana karena berjauhan dari wanita yang kamu cintai. Kamu benar-benar terlihat seperti orang gila, hmmmp haha..." akhirnya tawa Harris pecah.
Eric mengunyah dengan keras roti di mulutnya, kepalanya menatap ke atap dikejauhan tempat para anak buahnya mengintai, "Aku akan memakan mulutmu seperti aku menguyah roti ini sekarang, sampai hancur..." ia menggeram.
Pluk! Teropong di tangan Harris yang melihat keadaan Kapten-nya dari kejauhan terjatuh, ia terkejut melihat mata tajam sang Kapten yang menatapnya dari kejauhan.
Robbin tertawa pelan melihat perubahan wajah rekan nya, "Harris, mulutmu terlalu... ckkk."
"Capt, sudah dikonfirmasi. Tangan kanan Big Wolf dengan nama Mr Black, akan menghadiri event di salah satu kapal pesiar mewah besok malam. Dia akan bertemu di Kasino dengan Tuan Romer dari Dominika." Lapor Agnes.
"Oke, siapkan untuk penyamaranku. Itu adalah kasino untuk anggota kelas kakap, siapkan kulit topeng uang jas rapi dan juga wanita. Wanita itu jangan kamu, Agnes. Kalau kamu yang menyamar menjadi pasanganku, dalam 1 detik akan terbongkar. Kau tak bisa bersikap feminim sedikit pun, ckckk."
"Hahahahaaha...." tawa Harris pecah lagi.
"Harris, kau berani menertawakanku! lihat saja saat misi ini selesai, jika bukan Kapten yang membunuhmu aku yang akan memasukkan bijih timah menembus semua organ di dalam tubuhmu!" ancam Agnes.
"..........." Harris terdiam.
***
Di ruang makan dalam Istana, meja panjang penuh dengan makanan-makanan mewah. Para pelayan hilir mudik membawa makanan pembuka dan juga minuman-minuman kesukaan para anggota kerajaan.
Pierre memakai pakaian non-formal di tubuhnya tapi tetap ada aura kepangeranan dalam cara pria itu berpakaian, ia juga menjaga tingkahnya di dalam Istana tapi tidak membatasi sifat asli dirinya sendiri apa adanya yang selalu banyak tersenyum.
Tok... Tok...
Pierre mengetuk pintu kamar wanita yang disukainya.
__ADS_1
Ceklek.
Seketika Pierre tertegun melihat Katlin yang luar biasa cantik memakai gaun indah yang membalut tubuh wanita itu dengan sempurna juga dengan penampilan wajah dan rambut yang elegan saat pintu kamar terbuka, "Kamu sungguh menawan... Katlin."
"Terima kasih."
KATLIN/AMBER
ERIC
______
Pierre melengkungkan sikutnya agar digandeng oleh Katlin, "Mari.... My Queen." Pria yang sedang jatuh cinta itu tersenyum.
Wanita cantik itu memasukkan tangannya ke lengkungan lengan Pierre seraya tersenyum dengan menawan.
Pintu ganda menuju ruang makan terbuka.
"Pangeran ke -3 dan Nona Katlin akan memasuki ruangan...."
__ADS_1
Suara penjaga pintu bergema ke seluruh ruangan mengumunkan kedatangan mereka berdua.
Amber melebarkan senyuman nya tanpa gigi yang terlihat, berusaha bersikap elegan karena tidak ingin mempermalukan Pierre. Meskipun ia adalah seorang putri dari kalangan atas di Negaranya yang diajarkan sopan santun dan beretika tapi pribadi dia sendiri bukanlah perempuan kaku dan lebih ke pribadi yang gaul dengan cara bicaranya yang apa adanya.
Setelah masuk dan sampai di meja makan Pierre menarik kursi untuk Katlin, wanita itu segera duduk dan berterima kasih. Kemudian ia sendiri duduk di sebelah Katlin, menepuk tangan mungil Katlin untuk menenangkan wanita itu.
Di meja makan panjang sudah duduk Pangeran ke -2 dan istrinya beserta anak-anaknya. Ada juga Pangeran ke -4 dan juga ketiga Princess.
"Kakak, kamu pulang. Membawa wanita cantik pula..." sapa Pangeran ke -4, Pangeran Alain.
"Apa sangat cantik?" gurau Pierre.
"Sangat menawan, kenapa kamu membawa hanya 1 wanita. Bawa satu untukku, aku bosan dengan wanita di Negara ini..."
"Diam! Mulut Pangeranmu terlalu berani, Alain!" bentak Putri Bernadette, kembaran Pangeran Alain.
"Kau-"
"Yang Mulia tiba, silahkan berdiri dan memberi kehormatan," suara penjaga pintu memotong perdebatan yang akan terjadi di meja makan.
Pangeran pertama yang sudah berganti gelar menjadi His Serene Highness The Prince itu memasuki ruangan dengan menggandeng tangan istrinya.
"Salam hormat pada Yang Mulia!" ujar semuanya serentak.
"Hm, duduk."
Mereka semua duduk setelah Yang Mulia duduk terlebih dahulu di kursinya yang diapit oleh kursi-kursi anggota kerajaan lain.
"Kakak Albert, ah Yang Mulia. Perkenalkan Nona Katlin, seorang Desainer perhiasan lulusan Raffles College International. Putri dari Tuan Broswel dari Perusahaan perhiasan ternama di Austria, dia adalah wanita yang aku sukai."
"Salam hormat, Yang mulia." Amber menunduk memberi hormat.
"Hm, kamu sangat sopan juga wanita yang pintar. Pierre sudah bercerita padaku sedikit tentangmu dan masa lalu kalian berdua. Selamat datang di Kerajaan Monac0, jika ada apa-apa atau Pierre membuatmu kesal adukan dia padaku, aku yang akan menghukum adikku." Jawab Yang Mulia Albert ramah.
Amber tertegun, ia tak menyangka seseorang yang kini memegang gelar paling tertinggi di Istana, tersenyum dan bicara ramah padanya. "B-baik, Yang Mulia."
Yang Mulia Albert mengangguk. "Mulai makan malam nya."
__ADS_1
Para pelayan mulai melayani para anggota Kerajaan, dari hidangan pembuka sampai hidangan terakhir. Suasana di meja makan terasa hangat dengan candaan.
Amber tersenyum senang, ternyata Istana Kerajaan tak semenyeramkan dan se-formal yang ia bayangkan.