
Eric memeluk tubuh Amber yang tertidur, sepertinya wanita nya itu sangat kelelahan setelah bertarung melawan seorang tentara yang kekuatan fisiknya tak perlu diragukan lagi bisa memuaskan pasangan nya.
"Emmm, Eric?"
"Ya? Apa kamu terbangun?" pria itu mengecup lembut kening Amber.
"Aku tidak bisa tidur nyenyak, takut kamu pergi."
"Aku sudah bilang memang harus pergi, sayang. Tapi aku akan menunggumu bangun."
"Apa kamu harus pergi? Tak bisakah disini bersamaku?"
"Aku harus segera menyeselesaikan misi ini, bukankah kamu ingin bersamaku?"
"Ya."
"Kalau begitu bersabarlah," Eric mencium Amber lalu melepas pelukan nya. "Karena kamu sudah bangun, aku harus pergi. Kapal penjemput kami mungkin akan segera tiba."
__ADS_1
Eric turun dari ranjang, tubuh belakang telanjang kekarnya yang berkulit warna gelap memamerkan kekokohan punggung berotot nya. Amber menatap pemandangan yang memanjakan mata nya itu, "Tubuhmu sangat sexy, kamu tau itu kan. Eric."
"Hahahaha, tentu saja aku tau. Tapi, hanya kamu wanita satu-satunya yang bisa menikmatinya. "Pria militer itu tak bisa menahan tawanya.
"Cih! Aku juga tau saat kau menyamar setiap wanita yang menjadi pasangan mu juga sangat menikmati peran mereka, para wanita itu bukan hanya menghayati penyamaran mereka tapi itu benar-benar nyata! Mereka mengelus, mengusap tubuhmu!"
Eric telah selesai memakai seluruh pakaian nya, ia mendekati Amber mencium bibir bengkak wanita itu. "Cemburu mu aku suka, aku merasa dicintai. Dan Amber..."
"Ya?"
"Bibirmu sangat bengkak, apalagi lehermu seperti disengat tawon. Haha... pikirkan apa alasanmu pada Pierre dan bagaimana kamu harus menyembunyikan nya."
"Haha, pakailah syal atau mungkin pakaian berkerah tinggi. Apa kamu punya?"
Amber mengangguk, "Ada."
"Oke, aku pergi sayang. Hati-hati," Eric menarik tubuh telanjang terbungkus selimut Amber ke dalam pelukannya. "Aku mencintaimu, selalu." Ucap pria itu dengan suara lembutnya.
__ADS_1
Amber tersenyum bahagia, "Aku juga, hanya kamu."
Eric lalu melepaskan pelukannya, berjalan ke sofa memeriksa nafas di hidung Pierre. Nafas pria itu tenang, sepertinya masih tertidur nyenyak. "Aman, dia masih tertidur. Aku akan membawa semua makanan dan minuman di atas meja dan memindahkan tubuhnya. Kamu pergilah bersihkan tubuhmu, sayang," ucap Eric.
"Ya, ah Eric orang yang mengawasiku apa tidak melihatmu masuk kesini?"
"Harris sudah menanganinya, dia sudah kami sekap. Jadi, besok pasti orang yang memerintahnya akan curiga jika dia tidak melapor. Kamu akan dalam bahaya saat kembali ke Istana, Amber. Jadi, sebelum kapal pesiar ini berputar kembali ke pelabuhan aku akan menyelesaikan orang-orang di Istana. Kamu hanya perlu berhati-hati, karena mungkin saja ada seseorang di Istana yang kita tidak tau ikut dalam kejahatan ini selain Kepala Sekretariat dan Pangeran ke -2."
"Aku akan berhati-hati," Amber turun dari ranjang membungkus tubuh nya dengan selimut berjalan ke arah Eric di dekat sofa. "Kamu juga hati-hati, bawa Pierre ke ranjang aku akan mandi."
Eric menarik tangan Amber, membawanya pada bibirnya menciumi satu-persatu jari wanita itu, lalu melepasnya. "Jangan sampai terluka."
Amber mengangguk, dia masuk ke bathroom saat keluar kembali suasana sangat tenang. Eric sudah tidak ada dan Pierre sudah terbaring tidur di atas ranjang. Amber berganti pakaian dengan baju atasan berkerah tinggi menutupi lehernya, lalu berbaring duduk di atas ranjang tanpa ingin tidur kembali sampai pagi tiba.
Sore hari kapal pesiar memutar haluannya, untuk kembali ke Pelabuhan awal, Fortvieille.
Amber berdiri di railing kapal, menyenderkan tubuh bagian depan nya di pagar kapal menikmati angin laut sore. Tiba-tiba tubuhnya menegang, Pierre memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Pierre..."