
Eric memakai perlengkapan menyusupnya, Istana lebih ketat pengamanan nya tapi dia lebih baik mati terbunuh saat menyusup daripada harus mempertaruhkan nyawa Amber di dalam Istana meskipun itu hanya dugaan.
"Capt, Anda memasuki tempat berbahaya. Bahkan Anda tidak tau Nona Amber dimana, Istana sangat luas." Robbin membantu dengan mencari keberadaan Amber di dalam Istana tapi dia juga kesusahan.
Ting! Sebuah laporan masuk ke dalam laptop Robbin. Itu adalah penumpang tambahan yang akan menaiki kapal pesiar besok malam.
"Capt! Aku baru mendapatkan laporan, ada tambahan penumpang yang naik ke kapal pesiar. Itu adalah Pangeran Pierre dengan pendamping Nona Katlin." Lapor Robbin.
Gerakan Eric yang merayap di dalam Istana terhenti, perkataan Robbin memang benar jika mencari sekarang dia tidak tau dimana kamar Amber dan Istana sangat luas. "Baik, aku akan mundur. Aku akan menemui Amber besok malam di kapal," dengan gerakan gesit Eric menaiki satu bangunan meloncat ke atap bangunan lain lalu keluar melalui jalan untuk para pelayan Istana.
Esok paginya, Amber tersenyum manis di meja makan untuk sarapan. Dia bertekad ingin mengenali siapa orang semalam yang mengendap ke kamarnya, akan mencoba menelepon Eric kembali jika situasi memungkinkan. Tadi dia menerima pesan dari Rex, jika Eric menanyakan kabarnya. Saat dia menelepon nomor Eric, nomor pria itu tidak aktif.
"Katlin, kamu mempunyai kantung mata. Apa tidurmu tak nyenyak semalam?" tanya Pierre penuh perhatian.
"Aku baru beradaptasi dengan Istana, jadi semalam aku memang kurang tidur. Tapi tidak apa-apa, Pierre. Aku yakin selama aku disini, aku akan baik-baik saja." Jawab Amber dengan suara lembut.
__ADS_1
Mereka berdua saling beradu akting dengan tujuan mereka masing-masing.
Amber memasukkan makanan ke dalam mulutnya tapi matanya melirik berkeliling mencari porsi tubuh yang sesuai dengan orang semalam. Ada 7 pria dewasa di ruangan, 6 orang anggota kerajaan satu orang adalah Ketua Sekretariat Kerajaan.
Saat menatap Ketua Sekretariat Amber mengerutkan keningnya, orang itu memang jarang sekali bicara tapi Amber merasa pernah mendengar suaranya. Bagaimana caraku agar pria itu bicara agar aku bisa men-konfirmasi suaranya?
"Katlin?"
Pierre menepuk punggung tangannya, membuatnya terkejut tapi dia menahan rasa terkejutnya. "Ya, Pierre. Aku terlalu menikmati makanan ini, kenapa bisa seenak ini?" ujar Amber seraya memasukkan lagi makanan itu ke dalam mulutnya dengan berekspresi menikmati seolah itu adalah makanan terlezat yang baru dia temukan.
Pierre terkekeh, "Kamu menggemaskan sekali, kalau kamu suka setiap hari aku akan memesan pada kepala koki Istana untuk memasaknya untukmu."
Semua kepala di meja yang sedang menikmati makanan mereka seketika terangkat, mata mereka semua menatap kemesraan Pangeran Pierre dan Katlin.
"Hahaha..." Yang Mulia lah yang tertawa lebih dulu. Lalu diikuti gelak tawa yang lain, mereka sangat terhibur dengan Katlin karena selalu berani bersuara lantang.
__ADS_1
"Maaf," Amber menunduk berpura-pura malu.
Degh Degh!
Apa ini? Kenapa saat Amber bersikap romantis padaku, jantungku berdebar! Pierre merasa aneh.
Tidak! Tidak Pierre! Dia hanyalah umpan, dia bukan wanita bagimu! Pierre terus merutuk dalam hatinya.
"Pierre, Nona Katlin sangat menarik. Semakin menyemarakkan suasana di Istana, hahaha. Ah... aku dengar kalian akan ikut naik kapal pesiar nanti malam. Aku akan menyuruh staff kapal menyiapkan satu kamar untuk kalian, itu akan seperti kamar untuk memadu kasih." Jahil sang Yang Mulia.
"Uhukkkk..." Pierre benar-benar tersedak.
Amber berpura-pura malu, "Terima kasih atas kemurahan hati, Yang Mulia."
Amber menarik sebalah tangan Pierre menggenggam nya, tersenyum palsu pada pria itu menatap penuh kelembutan, "Keluargamu sangat baik, Pierre. Kamu juga pria hebat, aku senang berada disini..."
__ADS_1
Degh ! Degh!
Pierre tertegun, dadanya bergemuruh kencang. Apa wanita ini sudah jatuh cinta padaku? Kenapa dia bersikap lembut? Arghtt, jantungku! Sial!