Terjebak Dalam Tubuh Istri Yang Dibenci

Terjebak Dalam Tubuh Istri Yang Dibenci
Are You Happy Now?


__ADS_3

Eric mengeratkan genggaman tangan nya pada berkas di tangan, ia ingin sekali merobek wajah pria di sebelah Amber. Tapi saat mengingat lagi tugas dan misinya, ia menghela nafas pasrah lalu mengalihkan tatapannya pada berkas kembali. "Jangan urusi dia lagi, kalian semua fokuslah pada misi kita. Besok kita sudah harus mempersiapkan keberangkatan kita, jangan mengganggu kosentrasiku. Saat aku bertugas nanti, kabar apapun tentang Amber, kalian jangan pernah memberitahuku."


Agnes menatap Harris dan Robbin, mereka saling bertatapan.


Di dalam mobilnya Amber menyetel music, ia memutar lagu Zedd, Elley Duhe - Happy Now. Ia ikut menyanyikan lirik nya dengan suara lembut.


"You're a word away..."


"Somewhere in the crowd..."


"In a fureign place..."


"Are you happy now?"


Amber terus menyanyikan liriknya dengan suara nyaring semakin keras, ia menghentakkan tubuhnya seirama music. Bahkan ia mengajak Pierre untuk ikut bernyanyi dan menggerakkan santai tubuh sepertinya.


Kedua orang itu dengan asyik bernyanyi dan menghentak-hentakkan tubuh mereka, tanpa memperdulikan lirikan orang-orang di dalam mobil lain disana.


Eric sangat terganggu dengan suara nyanyian mereka, "Sial! Mata dan mulutmu itu Agnes! Kenapa kau harus memberitahu ada dia! Apa dia pikir aku sekarang sedang merasa senang?!" kesalnya.


Astaga, Capt! Aku lagi yang kena! Rutuk Agnes.


"Itu kan hanya sebuah lagu, Capt. Kata-katanya bukan bermaksud untuk Anda..." jawab Agnes.


"Aku tau itu!" Eric sedang menahan emosinya, saat ini dia harus berpikir rasional atau dia pasti akan menyesalinya lagi. Tahan! Tahan! Atau semua akan sia-sia!


Akhirnya lampu lalu lintas berubah hijau, mobil Amber pergi dari samping mobilnya membuat Eric menghembuskan nafas yang ditahannya. "Hahhhhhhh..."


Agnes membawa maju mobil, terus berada tidak jauh di belakang mobil Amber.

__ADS_1


"Kita jadi ke rumah sakit kan, Capt?" tanya Agnes ragu.


"Memangnya kemana lagi?" jawah Eric kembali memeriksa berkas di tangannya.


"Mungkin ingin membuntuti Nona Amber-"


"Agnes! Kau ingin aku hukum?!"


"No, Capt!"


"Kalau begitu diam! Bawa saja mobilnya ke rumah sakit."


"Yes, Capt."


Harris ingin menjahili sekaligus mengetes Kaptennya, ia mengambil teropong lalu mengawasi mobil Amber di depan. Saat jalan bercabang, mobil Amber mengarah ke kiri sedangkan mobilnya ditumpanginya mengarah lurus. "Capt, sepertinya arah itu mengarah ke hotel. Mobil Nona Amber mengarah ke kiri."


"Hm."


"Brengsek dengan mulut kalian! Astaga! Agnes putar balik, ikuti wanita berani itu!"


Agnes memutar mobilnya.


"Jaga jarak aman, aku hanya ingin melihat keadaannya dari jauh."


Tak lama Agnes menepikan mobil nya di seberang tidak jauh dari mobil Amber berhenti, ternyata itu hanya tempat untuk latihan panjat tebing.


"Itu hanya tempat latihan panjat tebing! Kalian!" Eric ingin sekali mencekik leher para bawahannya. "Pergi, biarkan dia. Kalian benar-benar sudah mengusik kesabaranku."


Esoknya Eric berangkat ke Monac0.

__ADS_1


***


Seminggu kemudian...


"Aku belum puas disini, tapi aku harus segera pulang. Kakak pertamaku terus meneleponku, Ayahku juga... Katlin, pikirkan tentang ikut bersamaku. Kamu tidak ingin mengingat tentang kehidupanmu dulu, aku bilang kamu berasal dari Monac0. Bahkan aku harus susah payah mencarimu kemana-mana, dan menemukanmu disini," bujuk Pierre. " Aku sudah bilang masih sangat menyukaimu, kamu bukan wanita bersuami kini kamu adalah wanita bebas. Bisakah memberiku satu kesempatan lagi?"


Pierre, yang kamu sukai adalah Katlin si pemilik tubuh bukan aku. Amber merasa kasihan pada Katlin.


Amber menarik nafas pelan mengingat cerita Pierre padanya, dulu ternyata si pemilik tubuhnya adalah mantan pacar Pierre dan karena berasal dari kalangan rakyat biasa hubungan mereka berdua ditentang. Pantas saja jantungnya pernah merasakan debaran aneh dan merasa sudah mengenal Pierre sejak lama. Apa aku harus pergi untuk mencari kehidupan sebenarnya Katlin? Bagaimana pun aku sudah mencuri kehidupan dan identitasnya sekarang, kan?


"Bisakah aku pergi sebagai desainer perhiasan? Kamu bisa mengenalkanku sebagai perwakilan dari Perusahaan Papaku. Kini, aku sudah resmi menjadi putri Papaku."


Seketika wajah Pierre berbinar, "Jadi kamu mau ikut denganku? Katlin!" teriaknya senang.


Amber mengangguk. "Aku persiapkan semuanya dulu, aku akan sekalian melakukan bisnis disana."


"Tentu, kamu bisa tinggal di Istana Kerajaan bersamaku. Dengan identitasmu sekarang, Ayahku tidak akan menganggapmu rendah lagi."


"Apa sekarang kamu menyukaiku karena orang tua angkatku atau kamu menyukaiku karena masa lalu kita?" tanya Amber tegas.


"Tidak dua-duanya... aku menyukaimu yang sekarang karena dirimu. Bukan karena orang tuamu, bukan juga karena masa lalu kita. Karena jujur saja, Katlin. Kamu yang sekarang adalah orang yang berbeda, sangat berbeda sampai aku mengira yang menempati tubuhmu adalah orang lain." Jawab Pierre.


Memang orang lain, jadi maksud dari perkataanmu kamu sekarang menyukaiku bukan Katlin?! Batin Amber.


"Aku belum bisa menjawab perasaanmu sekarang, meskipun kita pernah mempunyai sejarah masa lalu tapi aku yang sekarang baru saja mengenalmu, Pierre..."


Pria itu mengangguk, "Aku mengerti, asalkan kamu ikut denganku. Kita bisa saling mengenal lagi, Katlin."


"Baiklah, aku akan ikut denganmu."

__ADS_1


Pria itu tersenyum lembut padanya, begitu tampan. Pierre menarik tangannya lalu mengecupnya, ia menatap Pierre dengan perasaan gundah. Apa keputusanku sudah tepat? Pikirnya.


__ADS_2