
Agnes menatap kasihan pada Kapten. Saat Erren dikabarkan meninggal, kamu tidak seperti ini Capt. Bahkan kini, kamu mengucurkan air mata untuk Nyonya.
"Capt, pergilah sebentar membasuh darah di tanganmu."
Eric baru saja bangun berdiri dari lantai, pintu UGD terbuka seorang perawat keluar tergesa-gesa. "Ada apa? Bagaimana istriku?" cegatnya.
"Maaf, Kapten. Istri Anda mengalami pendarahan, janin tak bisa terselamatkan. Saya harus segera mengambil kantong darah. Permisi."
Brukkk
Eric terjatuh kembali, kedua tangannya yang berlumuran darah Amber gemetar. "Ja... nin..."
"Capt," gumam Agnes, ia tak bisa berkata-kata lagi.
Setelah lama Amber ditangani, Dokter Swan keluar. Pria dengan jubah putih itu membuka masker di wajahnya, ia menggeleng. "Maaf, Kapten. Janin terlalu dini untuk bisa bertahan, usia nya bahkan baru sekitar seminggu. Sangat sulit untuk kami tim medis menyelamatkan nya. Bahkan istri Anda jantung nya sempat terhenti karena pendarahan hebat, untung saja akhirnya bisa selamat. Meskipun tubuhnya sudah bersih dari racun tapi tubuhnya mendadak drop hingga tak kuat mempertahankan janin. Tolong jaga psikis istri Anda. Meskipun nyawanya sudah terselamatkan, tapi istri Anda belum bisa siuman. Tunggu dan berdoa-lah agar istri Anda cepat bangun. Saya permisi."
Dugh Dugh Dugh!
Eric menonjok dinding dengan keras, "Aku gagal melindunginya... aku gagal menjaganya... akhh!!!"
Dugh Dugh Dugh!
"Kamu brengsek Eric! Kau pantas mati! Bahkan kau tak pantas dipanggil seorang pria! Kau bajingan! Kau tidak bisa melindungi wanita yang kau cintai!"
__ADS_1
Agnes akhirnya memiting kedua tangan sang Kapten ke belakang, darah sudah mengucur dari tangan Eric. Pria dengan pangkat lebih tinggi darinya itu sedang dalam pikiran yang tidak rasional. "Tenanglah, Capt! Ingat istri Anda! Dia masih belum sadarkan diri, Anda harus tenang!"
"Hahhh... hahhhhh... arghhttt... " tubuh Eric perlahan merosot ke lantai, sungguh menyedihkan.
"Capt, Anda harus kuat. Istri Anda membutuhkan Anda, dia juga kehilangan bayinya. Bayangkan saat istri Anda sadar, betapa itu akan sangat menyakitkan baginya. Sekarang pergilah bersihkan diri Anda, aku akan berjaga disini."
Seketika Eric menghapus air mata di wajahnya dengan kedua tangan, tangannya yang berlumuran darah Amber bercampur darahnya sendiri menempel di wajahnya bahkan tak ia perdulikan.
Pria berpangkat Kapten itu berdiri dari lantai, ia melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah dengan lemah. Saat para prajurit dan perawat melihat keadaan menyedihkan sang Kapten dengan wajah yang berlumuran darah, mereka semua terperangah. Dan saat mereka melihat mata memerah sang Kapten menatap dingin seolah akan membunuh siapapun yang menghalangi jalannya membuat mereka mundur ketakutan.
Di kamar mandi rumah sakit pria yang sudah kehilangan anaknya itu, membersihkan tubuhnya. Setelah selesai, Eric merogoh alat komunikasinya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar mandi, menatap benci pada dirinya sendiri.
"Yes, Capt? Bagaimana Nyonya?" tanya Harris.
"Capt, dia masih adik laki-laki Anda. Anda bilang-"
"Aku bilang siksa dia!!! Aku yang akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!" Eric memutuskan sambungan.
Hosh Hosh!
Eric mengatur nafasnya mencoba tenang, tapi tetap saja saat melihat tangannya lagi seketika tubuhnya gemetar hebat. Meskipun tangan nya sudah bersih tapi masih terbayang darah anaknya disana.
Prangggg
__ADS_1
Eric menonjok cermin di depan nya, seketika cermin pecah diwarnai darah merah berceceran. Pecahan cermin memantul menggores pipi dan dahi pria itu. Darah mengucur, tapi Eric membiarkan lukanya.
"Eric kenapa ada suara pecahan kaca, kamu tidak apa-apa? Aku baru dengar tentang Katlin, para perawat bilang kamu masuk kesini." Erren memanggil dari luar pintu kamar mandi.
Eric menarik nafas panjang, menghembuskan perlahan. Ia mencoba menormalkan raut wajahnya, sedikit tersenyum normal. Ia mengambil tissu toilet, membersihkan darah di wajahnya. Setelah siap ia membuka pintu, lalu keluar.
"Aku baik-baik saja," Eric sedikit tersenyum.
Erren menatap wajah Eric, wanita itu melihat luka di dahi dan pipi Eric. Juga luka di kepalan tangan besar pria itu. "Wajahmu dan tanganmu terluka."
"Tidak apa-apa, ada apa?"
"Aku dengar Papa-mu mendapat serangan dan masuk rumah sakit, apa benar?"
"Ya, dia dibawa ke rumah sakit. Aku belum mencari kabar Ayahku lagi, Katlin keburu pingsan."
"Begitu, ada yang bisa aku bantu?" tawar Erren.
Eric tersenyum, "Terimakasih atas tawaranmu, tapi aku baik-baik saja. Ayo pergi."
Wajah Erren sedih, ia menarik satu jari tangan Eric. "Kamu bisa mengandalkanku, aku akan selalu bersamamu, Eric."
"Terima kasih," Eric melepaskan tangan Erren, lalu berjalan pergi.
__ADS_1
Di belakangnya, Erren tersenyum dingin. "Apa istrimu sudah memakan umpanku, Eric? Apa dia mengatakan penyerangnya adalah aku? Apa istrimu bodoh? Dia pikir jika aku akan menyerang, aku tidak akan menutupi wajahku. Tentu saja penyerang itu sengaja memperlihatkan wajahnya padamu Katlin, karena itu rencanaku mempermainkan kalian. Benar-benar wanita bodoh! Untung saja kau bilang tidak mencintai wanita itu, Eric. Jika iya, Katlin yang akan dibunuh lebih dulu, bukan Ayahmu."