
Amber berdiri di railing kapal, menyenderkan tubuh bagian depan nya di pagar kapal menikmati angin laut sore. Tiba-tiba tubuhnya menegang, Pierre memeluknya dari belakang.
"Pierre..."
"Biarkan aku memelukmu sebentar, aku masih kebingungan kenapa semalam sampai siang tadi aku bisa ketiduran. Aku pasti membuatmu kesepian sendirian di kapal ini, kan?" nada suara Pierre sangat lembut terdengar menyesal.
Amber melemaskan tubuhnya di pelukan Pierre membiarkan Pangeran ke -3 itu memeluknya, bagaimana pun dia juga telah memanfaatkan pria itu padahal Pierre tidak tau apa-apa, " Tidak apa-apa, sepertinya kamu kelelahan dan juga tidak kuat minum wiski."
"Mungkin, maaf Katlin."
Aku yang seharusnya meminta maaf padamu Pierre, hahhh! Dessah Amber.
"Ah ya Pierre, apa kamu dekat dengan semua saudaramu?"
"Emm, dengan kakak keduaku Bernard Pangeran ke -2 sejak kecil aku kurang dekat. Dia terlalu... bagaimana aku menyebutnya? Terlalu tidak bisa ditebak, juga terlalu dingin pada saudara-saudaranya seperti menjaga jarak dari kami. Memangnya kenapa?"
"Tidak, aku hanya tertarik pada seluruh anggota keluargamu. Lalu Princess Alice, kenapa aku tak pernah mendengar suaranya?"
Lama tak ada jawaban dari Pierre, tiba-tiba pria itu mendesah. " Dulu saat kami kecil dan pergi bermain ke sebuah danau, kami bercanda dengan menenggelamkan Alice ke danau. Kami kira Alice berbohong tentang takut danau, tapi ternyata saat tubuhnya tak muncul ke permukaan air dia benar-benar tenggelam. Saat diperiksa Dokter Istana, Dokter mengatakan Alice mengalami Afasia karena akibat dari tenggelam. Itu sebenarnya lebih ke kondisi mental, sejak saat itu Alice tak pernah mengeluarkan suara sepatah kata pun apalagi pada kami."
"Apa Pangeran ke -2 juga ikut mengerjai Putri Alice bersama kalian?"
"Tidak, saat itu dia dan kak Albert sedang pergi ke Negara lain untuk memperkenalkan budaya kami. Hanya ada kami berlima. Aku, si kembar, Alice dan si bungsu Agatha juga bersama para pengasuh kami dan para pengawal."
"Hm, begitu. Alice sangat kasihan."
__ADS_1
Apa itu Alice? Curiga Amber.
"Ya, kami semua sudah berusaha meminta maaf tapi Alice malah sering menyendiri dan menjauhi kami."
"Apa Alice sangat dekat dengan Pangeran ke -2?"
"Ya, mereka sangat akrab. Bahkan jika kakak keduaku pergi, terkadang Alice selalu ikut. Jadi mereka berdua sebenarnya seperti mempunyai rahasia, tapi entahlah."
Amber mengangguk, ia melepaskan pelukan Pierre padanya. Keluar dari kukungan pria itu dan berjalan menuju ke dalam, "Dingin disini, Pierre. Angin semakin kencang dan malam akan segera tiba. Ayo masuk ke dalam dan mencari minuman hangat..."
Pierre menatap punggung wanita itu yang semakin menjauh, perasaan nya semakin aneh saat ia selalu bersama wanita itu. "Amber, kenapa kau membuat perasaanku kacau?! Hahhhh..." dessah nya pelan.
***
Eric sudah mengirim barang bukti itu ke tangan sang Jenderal, kini ia sedang menyiksa Mr Black. Saat menangkap saudara kembar Erren, ia juga sudah menyiksanya dan akhirnya mendapatkan tangan kanan Big Wolf. Mereka berdua akan menjadi saksi dalam persidangan nanti memberatkan semua orang yang berkonspirasi.
Ia semakin menekan pisau belatinya di telapak tangan Mr Black, "Jadi dengan tangan ini kamu mencatat seluruh kejahatan kalian di buku besar, hah!"
"Arghttttt... Kapten, kamu bilang setelah aku menyerahkan buku besar itu kamu akan melepaskanku. Kenapa kamu menyiksaku... arghtttt," Mr Black semakin menjerit kesakitan karena Agen khusus itu malah memutar belati yang menusuk tangan nya.
"Kamu masih belum melakukan satu hal lagi, aku bilang telepon Big Boss-mu untuk segera kembali kesini! Aku tak akan segan memotong-motong leher dan tubuhmu dan memberikan dagingmu pada anjing-anjing militer!"
"Jangan! Baik, aku akan telepon Tuan sekarang!" Mr Black benar-benar ketakutan melihat mata memerah Kapten militer yang mengancamnya.
"Robbin, ponselnya?" pinta Eric.
__ADS_1
Robbin memberikan ponsel Mr Black, pria yang sedang kesakitan itu segera menelepon nomer khusus.
"Halo, ada apa?"
Eric menekan pengeras suara ponsel, ia juga menulis kalimat untuk dibaca Mr Black.
"B-bos... Bisakah kembali ke markas. Aku mendapatkan kabar jika Eric si Agen Khusus itu sedang menuju kemari. Bukankah kita harus mengamankan markas dan orang-orang yang bekerja sama dengan kita?"
"Apa kau bilang?! Eric sedang menuju ke markas kita! Sialan! Pasti ini karena wanita tak berguna itu telah membocorkan nya. Dimana posisi Eric sekarang?"
"Kabarnya para Agen itu akan segera berangkat," Mr Black terus membaca tulisan Eric.
"Baiklah, aku akan berangkat secepatnya dari sini. Hati-hati, jaga buku besar kita dengan aman."
"B-baik, Bos." Mr Black menahan rasa sakitnya.
"Aku tutup."
Tuttttttttt.
"Baiklah, aku akan melepaskanmu. Harris bawa dia ke tempat nyaman, ingat perlakukan dia dengan baik. Obati lukanya, beri makanan dan minuman 'mewah'. Kamu mengerti, bukan?"
Harris tersenyum, dia sangat mengerti apa kode kata 'mewah' dari Kapten nya. "Dimengerti, Capt! Aku akan melayani Mr Black dengan sangat baik."
Bibir Mr Black tersenyum, perkataan orang-orang tentang Kapten Eric yang selalu menyiksa dengan kejam para musuh ternyata hanya bohong belaka. Yah... meskipun tangan nya sudah terluka.
__ADS_1