Terjebak Dalam Tubuh Istri Yang Dibenci

Terjebak Dalam Tubuh Istri Yang Dibenci
Kenapa Dimana-mana Kecoa Selalu Muncul?!


__ADS_3

Setelah makan malam, sengaja Yang Mulia Albert menyuruh para anggota kerajaan untuk ke lantai dansa untuk menghangatkan suasana.


Alunan music waltz mengiringi dansa pasangan di ruangan itu.


Pierre menggenggam telapak tangan kanan Katlin, ia mengangkat siku kanannya setinggi bahu, "Kamu ternyata pintar berdansa, dulu bahkan kamu selalu kabur saat aku mengajakmu berdansa di kampus."


"Benarkah? Dulu aku seperti itu? Apa aku pemalu?" tanya Amber.


"Sangat pemalu, tapi dulu itu yang aku suka darimu. Anak-anak lain sengaja mendekatiku, sedangkan kamu selalu menjauh saat melihatku. Tapi, kamu yang sekarang aku lebih suka... selain kamu cantik, kamu adalah wanita tegas, pemberani, lucu, menggemaskan, pintar dan kamu bersinar dengan cahayamu sendiri. Kamu luar biasa..."


Amber tersenyum sedikit tersanjung, tiba-tiba ingatan kebersamaan nya dengan Eric menganggu pikirannya. Ia mengingat ucapan pria militer itu saat dirinya dibawa ke rumah sakit militer untuk pertama kalinya dan ia cemburu pada perawat Eric mengatakan hal yang hampir sama.


"Katlin... Katlin..."


"Hah? Ah ya... maaf aku sedang memikirkan sesuatu." Amber menyesuaikan lagi ekspresi wajahnya menjadi ceria meskipun hatinya tiba-tiba terasa sakit.


Pierre melihat sekilas rasa sakit itu di mata Katlin, "Kamu sedang memikirkan sesuatu? Apa mantan suamimu?"

__ADS_1


Amber mendesah, "Saat mendengar ucapanmu barusan tentangku, itu sedikit mengingatkanku padanya. Maaf..."


"Tidak apa-apa, aku akan menyembuhkan luka hatimu. Jika kamu membuka hatimu untukku, aku akan membahagiakanmu..." dengan berani dia mengecup bibir Katlin, menciumnya lembut.


Tubuh Amber menegang, ia menutup matanya ingin membiarkan perilaku Pierre padanya tapi bayangan wajah Eric membuatnya membuka mata kembali dan mendorong pelan tubuh Pierre. "Maaf... Pierre... aku..." tangan Pierre berada di pinggang nya, menahan tubuhnya menempel pada tubuh pria itu. Ia ingin melarikan diri dari ruangan tapi tak bisa karena takut mempermalukan Pierre jika kabur.


"Nona Katlin, bolehkah aku berdansa denganmu?" tanya Pangeran Alain mengagetkan mereka berdua tapi juga menyelamatkan mereka dari rasa canggung.


"Ah, ya..." Amber merasa terselamatkan.


Pangeran Alain menarik tangannya ke tengah ruangan, ia hanya tersenyum pada Pangeran. "Berapa usia Anda, Pangeran? Wajah Anda sangat mirip dengan salah satu Putri." tanya Amber seraya mulai mengikuti gerakan dansa Pangeran Alain.


"Ckkkk... aku masih tak percaya kami adalah kembar. Kamu tau? Dia sangat bawel dan terlalu kaku, tidak mau menikmati hidup," Alain menggeleng. "Lalu kamu, apa menyukai kakak laki-lakiku? Dia sering berpacaran tapi itu tak pernah bertahan lebih dari 1 bulan, kamu tau kenapa?"


Amber menggeleng.


"Kak Pierre bilang belum bisa melupakan kekasihnya dulu, saat Yang Mulia tadi mengatakan kalian berdua mempunyai masa lalu, ah... Hatiku mengatakan wanita itu adalah kamu. Betul?"

__ADS_1


"Yahhhh... mungkin," Amber mengangguk.


Setelah dansa selesai, Pierre membawa Katlin kembali ke kamar. Di ambang pintu ia menatap sendu wanita di depannya, "Apa aku terlalu tak sopan padamu tadi? Aku menciummu tanpa ijin, kamu marah?"


Amber melihat kegelisahan di mata Pierre, ia menghela nafas, "Aku tau kamu terbawa suasana... Pierre aku bukan seorang gadis lugu lagi, aku juga pernah menikah. Aku tau apa yang terjadi padamu tadi, kamu tidak bisa menahannya," dia menggigit bibirnya. "Tapi Pierre, aku masih belum siap. Maaf..." kepala Amber menunduk.


Pierre menggeleng, ia menarik dagu Katlin menatap manik mata berwarna abu-abu terang milik wanita itu. "Katlin, aku akan menunggumu. Ingatlah, ada aku di sampingmu."


Amber tak tau harus menjawab apa, dia juga kebingungan entah kenapa perasaan cintanya pada Eric tak kunjung hilang.


"Tidurlah yang nyenyak, selamat malam." Pierre mengecup kening wanita yang sudah mengisi hatinya, kemudian berlalu pergi dari sana.


"Eric... kenapa aku masih selalu mengingatmu?" gumamnya lalu ia menatap punggung Pierre yang sedang berjalan semakin jauh, " Pierre terlalu baik untukku, hahhh..." dessahnya pelan.


Amber berganti pakaian, membersihkan wajah dari make up pergi ke kamar mandi menyikat gigi lalu memakai gaun tidur bersiap untuk tidur. Ia mengambil ponsel dan mengirim kabar pada kakak sepupunya juga pada orang tuanya kemudian mematikan lampu kamar.


Tengah malam dengan kamar yang gelap, tiba-tiba gesekan tubuh di dinding membangunkan Amber. Wanita itu mendengarkan dengan seksama, benar saja seseorang menyelusup masuk ke dalam kamar tidurnya di Istana. Kenapa dimana-mana kecoa selalu muncul?! Gerutunya kesal.

__ADS_1


__ADS_2