
Tiba-tiba mata Eric menyipit, ia mengingat perilaku Amber saat tadi ia melihatnya. "Kamu tadi mencium pipi Pangeran jelek itu, apa kalian sudah sedekat itu?"
"Menurutmu?"
"Kau sudah memberikan bibirmu juga padanya?"
Amber diam, Eric mendengus kesal. "Jadi sudah. Dia sudah menyentuh tubuhmu? Kalian sudah melakukannya?" pria itu semakin mengeratkan pelukannya.
Melihat Amber masih terdiam, ia menggeram, "Amberrrr?"
Amber mengusap-ngusap hidungnya merasa salah tingkah, "I-itu kami sering tidak sengaja berpelukan, dia yang lebih sering memelukku tapi aku selalu menjaga jarak. Hanya satu kali ciuman bibir, tidak lebih banyak darimu dan Erren, bukan?"
"Saat kami sepasang kekasih, kami memang sering berciuman. Itu wajar, Amber. Tapi saat aku berakting, itu hanya satu kali," Eric membela dirinya sendiri.
"Huh!" Amber mendengus kasar.
"Kamu masih ingin meneruskan sandiwaramu di Istana? Dengan menjadi kekasih Pangeran bodoh itu?"
"Bukan kekasih tapi hanya bersikap seolah mesra. Dan iya, aku harus melakukannya. Pria malam itu berkata jika aku terlihat hanya bersenang-senang, maka aku dan Pierre akan selamat. Jadi, ya. Aku akan menempel terus pada Pierre, kenapa? Bukankah dalam situasiku, kau juga akan berakting sama sepertiku?" ia menaikkan sebelah alisnya menantang Eric untuk membantah.
"Sial kau, Amber Broswel! Hahhhh... aku sangat cemburu!"
"Itu lah yang aku rasakan saat kau bersama Erren, tapi sekarang kita harus berkompromi dengan situasi, bukan? Baiklah, aku tak bisa lama-lama atau Pierre akan mencariku." Amber turun dari pangkuan dalam pelukan Eric.
"Bahkan kamu memanggil lembut nama Pangeran itu, cih!" Eric memberengut kesal.
"Haha, kau begitu menggemaskan kalau cemburu. Jadi, bagaimana aku harus mengubungimu?"
__ADS_1
Eric membuka earphone di telinganya, memasangkan pada telinga Amber lalu menutupnya dengan rambut wanita itu. "Pakai punyaku, aku akan memakai yang lain. Pijit tombolnya, kau harus selalu mengaktifkan nya."
Amber mengangguk.
"Pena dariku masih ada?"
"Ada, aku selalu membawanya di dalam tas-ku."
Eric merogoh kantong celana nya, mengambil belati lipat. "Ini, bawa denganmu."
Amber mengambilnya, lalu ia menengadahkan tangan nya lagi ke atas, "Lagi, berikan satu lagi."
"Apa?" bingung Eric.
"Itu."
"Itu?"
Tiba-tiba mata pria itu berbinar, ia tersenyum nakal. "Pistolku ada dua yang kubawa, mau pistol yang mana?"
"Kau membawa dua pistol, hebat." Jawab polos Amber belum mengerti ucapan pria itu.
"Pistolku tentu saja dua-duanya hebat dan sama-sama besar. Pistol pertama bisa membunuh orang, merenggut nyawa. Pistol satunya lagi bisa mengeluarkan peluru yang bisa menjadi nyawa baru dalam kandunganmu, sayang... Pistol itu bisa membuatmu berteriak-teriak membuat tubuhmu meng gelinjang hebat di atas ranjang," bisik Eric di telinga Amber.
Seketika ia mengerti perkataan Eric, Amber menendang tempurung lutut pria itu membuat Eric meringis kesakitan. "Huh! Kau dan otakmu mesum mu itu!"
"Tapi kamu suka, kan?" Eric mengulum bibirnya senang.
__ADS_1
"Capt, capt? Apa Anda tersambung?"
"Eric, seseorang sepertinya memanggilmu dalam earphone yang kupakai."
"Aku barusan meng-aktifkan nya. Itu Robbin, tanyakan padanya ada apa."
"Aku?" tanya Amber.
"Ya, kau bilang akan terus di sampingku. Mulai belajarlah."
"Ekhm, halo Robbin. Disini Amber. Kata Eric, ada apa?"
"Nona Amber, bilang pada Kapten kami harus bersiap memasuki kasino." Jawab Robbin.
Amber menatap Eric, "Katanya kamu harus bersiap-siap ke kasino. Ada apa di kasino, Eric?"
"Tangan kanan Big Wolf akan datang ke kasino, dia adalah pemegang buku besar. Jika bisa mendapatkan dia, itu sangat menguntungkan kami. Kami juga sudah berhasil menangkap saudara kembar Erren 2 hari lalu. Amber, semua akan selesai sebentar lagi."
"Pergilah, hati-hati." Amber mengecup bibir Eric.
"Jangan matikan alat komunikasimu, aku akan terus menghubungimu." Eric mengelus pipi Amber dengan mata yang tak rela untuk pergi.
"Ya. Eric, ingatlah ada aku yang selalu menunggumu datang dengan selamat."
"Aku mencintaimu sayang. Pergilah lebih dulu... bilang pada Robbin setelah aku keluar dari kamar, hapus Cctv."
"Robbin, Eric bilang setelah dia keluar dari kamar ini hapus Cctv," ucap Amber mengulang perkataan Eric.
__ADS_1
"Siap!"
Amber keluar lebih dulu setelah dirasa aman, lalu Eric melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya. Ia menunggu sekitar 1 menit lalu ikut keluar dari kamar itu.