Terjebak Dalam Tubuh Istri Yang Dibenci

Terjebak Dalam Tubuh Istri Yang Dibenci
Ayo Bercerai.


__ADS_3

Melihat pemandangan yang menyakiti matanya membuat Amber menarik nafas kesakitan, kepalanya terasa berputar. Nafasnya tersengal, Sialan dengan tubuh ini! Kenapa roh-ku harus masuk ke dalam tubuh yang lemah! Aku ingin menghajar pria brengsek dan si jal4ng itu!


Eric mengeratkan kedua tangan nya, melihat Amber seperti kesakitan ia ingin berlari memeluknya.


"Nyonya! Anda baik-baik saja?"


Eric sedikit merasa lega melihat kedatangan Agnes.


Amber menarik nafas beberapa kali, menenangkan dirinya. Ia menutup mata, membayangkan membunuh kedua manusia sampah di atas ranjang. Setelah merasa nafasnya teratur tenang, ia membuka matanya. "Tuan Eric... bisakah kita bicara? Kalian berdua bisa melanjutkan perselingkuhan kalian nanti, ah... lebih tepat percintaan kalian."


"Eric..." lirih Erren menatap Eric dengan wajah merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, aku akan bicara dengan Katlin. Pindahkan tubuhmu," ucap Eric lembut menarap Erren.


Erren mengangguk, ia turun dari ranjang saat turun ia sengaja membenarkan pakaian nya seolah mereka berdua sudah melakukan lebih dari sekadara ciuman, kepalanya menunduk dan tersenyum.


Mendengar nada suara lembut Eric pada Erren, Amber menancapkan kukunya pada telapak tangan. "Aku akan menunggu di bawah," dengan langkah pelan, Amber berbalik berjalan sendiri, dia menepis uluran tangan Agnes yang ingin menolongnya. "Jangan berpura-pura mengulurkan tangan membantuku! Kau juga adalah bagian dari mereka, jangan pura-pura perduli padaku!" ia melototi Agnes.


Di dalam kamar Eric mendengar perkataan Amber yang tidak ingin ditolong Agnes, dengan cepat ia turun dari ranjang mengambil kaos rumah lalu berjalan keluar kamar. Saat keluar kamar sudah melewati koridor ia melihat Amber di tangga dengan susah payah turun dengan memegang perut.


Eric berbalik pada Agnes yang masih di undakan tangga atas, Agnes menggeleng padanya. Ia mengangguk mengerti, lalu ia melanjutkan langkahnya menuruni tangga mengikuti Amber.


Kini Eric sudah duduk berseberangan dengan Amber terhalang oleh meja dapur, sekarang fisiknya dan Amber terpisah kan oleh meja yang lebar, mungkin hati mereka juga sudah terpisahkan oleh oleh racun yang tak akan bisa diobati lagi.

__ADS_1


"Ayo bercerai, aku siap." Amber mengatakan nya tanpa ada keraguan sedikit pun. "Aku sudah mendengar dari Agnes, kau ingin menceraikanku."


"Baik." Jawab Eric singkat.


"Kirimkan surat cerai pada alamat Rex. Aku, akhh-" Amber mengernyit lagi, perutnya benar-benar kesakitan kali ini. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin sudah membasahi punggungnya. Ia menelan harga dirinya akhirnya meminta pertolongan. " Untuk terakhir kalinya aku minta tolong, biarkan Agnes membawaku pulang."


"Pulang..." gumam Eric, akhirnya rumah yang mereka tempati selama beberapa waktu kini bukan rumah lagi bagi Amber. "Tentu, ada permintaan lagi?"


Mata Amber menatap benci pada Eric, di belakang pria pengkhianat itu berdiri kekasih barunya. "Ada," ucap Amber. "Jika kau mati jangan memberiku kabar, Eric. Dan jika aku yang mati, jangan pernah menginjakkan kakimu di pemakamanku!" dengan tangan gemetar Amber berusaha berdiri bertumpu pada pinggiran meja.


Erren maju, "Eric, bukankah kamu harus mengantarnya pergi. Katlin sepertinya-"


"Diam wanita jal4ng!" Amber sangat muak mendengar suara wanita itu.


Amber menerima bantuan Agnes, berjalan dengan pandangan yang samar. Ia menguatkan tubuhnya tak ingin terlihat menyedihkan dengan pingsan di depan para sampah busuk itu.


Setelah di dalam mobil, Amber menutup matanya. "Bawa aku ke rumah sakit saja, hahhh... benar! Sekarang aku bukan istri dari seorang kapten militer lagi tapi orang biasa. Bawa aku ke rumah sakit biasa."


"Baik," Agnes tak ingin berbicara banyak, dia segera membawa mobil pergi dari sana.


Eric menatap kepergian mobil yang membawa Amber di ambang pintu dengan mata sedih, Erren melingkar tangan memeluknya dari belakang.


"Eric, akhirnya kita bisa bersama. Aku sangat bahagia."

__ADS_1


"Ya, tapi aku juga harus pergi dari sini. Aku tak bisa bersamamu."


Wanita itu melepaskan pelukannya, dia berjalan ke depan menatap wajah Eric dengan heran, "Apa maksudnya kamu harus pergi?"


"Tadi siang aku mendapatkan misi baru, untuk pergi mengejar orang kepercayaan Big Wolf di negara ini. Para petinggi sudah mendapatkan informasi dimana tempat persembunyian orang itu. Kami akan menyerangnya dan kelompoknya, siang nanti kami akan menyerang."


Celaka! Erren ketakutan, persembunyian saudara kembar laki-lakinya telah ditemukan.


"Eric, apa kamu sudah agak mendingan? Bolehkah aku kembali ke camp?"


"Tak bisakah kamu menemaniku disini? Aku masih kurang sehat, temani saja aku ya. Memangnya apa yang lebih penting dari aku? Kamu bilang masih mencintaiku."


"Ya, tapi aku ingin kita bersama setelah kamu selesai dengan Katlin. Aku tidak ingin dipanggil wanita perebut suami orang, sekarang biarkan aku pergi," pinta Erren.


Wajah Eric berubah sedih, "Baiklah, aku mengerti. Pergilah, aku sudah merasa lebih baik."


"Aku pergi, jangan lupa minum obat."


Eric mengangguk, setelah kepergian Erren dia lari ke kamar menghubungi Robbin dan Harris. "Ikuti Erren, sepertinya wanita pengkhianat itu telah memakan umpan!"


"Yes, Capt!"


"Baiklah Erren, mari kita saling membongkar topeng kita. Malam ini setelah mengantongi indentitas Big Wolf, aku akan menghabisimu dan saudara kembarmu yang adalah kepercayaan Big Wolf itu!"

__ADS_1


__ADS_2