Terjebak Dalam Tubuh Istri Yang Dibenci

Terjebak Dalam Tubuh Istri Yang Dibenci
Apa Itu Misi Rahasianya?!


__ADS_3

...*****...


Amber pindah ke rumah Rex, dia menunggu sahabatnya itu berbicara dengan kakak sepupunya. Kini, saat dia sudah merasa tenang, tiba-tiba kilasan-kilasan kejadian saat dia bersama Eric terlintas. Dari perkataan pria itu tentang bahaya jika kelumpuhan nya terbongkar, lalu penculikan Fania, ucapan para penjahat tentang Bos besar yang mengancam Eric juga kejadian penyerangan Papa Eric. Sekarang ingin menceraikannya karena alasan keamanan dan keselamatannya.


Degh!


"Apa itu misi rahasianya! Apa aku yang bodoh?! Mungkin Eric benar-benar ingin aku aman, sebentar... lalu Erren? Jika benar Eric peduli padaku dan mencintaiku kenapa dia seolah-olah dekat dengan mantan kekasihnya itu?" Amber berjalan mondar- mandir memikirkan segala kemungkinan, tapi tak ada jawaban. Semuanya membingungkan, dia bukan seorang agen militer yang mengerti hal seperti misi dan sebagainya.


"Aku harus menemui Eric dan menkonfirmasi dugaanku, juga menanyakan tentang Erren." Dengan perut masih sakit, Amber keluar rumah Rex menyetop taxi lalu pergi menuju rumahnya.


Agnes tadi sudah menghubungi Kapten, atasan nya itu menyuruhnya hanya membuntuti jangan sampai terlihat. Ia membuntuti mobil taxi, saat di perjalanan dia tau arah tujuan Nona Amber.


"Halo, Capt. Nona Amber sepertinya menuju rumah, aku tidak tau kenapa tiba-tiba dia pulang. Mungkin ingin mengambil sesuatu dari rumah."


"Dimengerti, coba hambat taxi nya. Sepertinya malam ini aku akan menyelesaikan hubunganku dengannya, hatiku sempat goyah melihat Amber menderita tapi jika diteruskan nyawa Amber akan benar-benar dalam bahaya, pikiranku sempat tak rasional, untung saja para perawat di ruangan sudah kau buat tutup mulut, aku percaya pada Dokter Swan. Kini, aku sudah berhasil mengantongi identitas orang yang berkomplot dengan Erren. Robbin sudah berhasil memulihkan data. Agnes, maaf. Erren adalah sahabatmu, tapi kita harus melakukan misi ini sampai tuntas."


"Aku mengerti, Capt. Erren pernah menjadi sahabatku tapi kini dia adalah bagian dari musuh."


"Oke, aku putus sambungan. Hambat sebisa mungkin Amber, aku akan mencoba membawa Erren ke rumah menuntaskan sandiwara ini."


***


Eric mematikan sambungan, dia sudah puas menyiksa Delon dan juga sudah mengantongi indentitas orang yang berkomplot dengan Erren. Sebenarnya dia sudah muak harus berpura-pura manis di depan wanita keji itu, tapi misi dari para petinggi adalah harus meraih kepercayaan Erren karena ternyata dia adalah pengkhianat yang membocorkan misi sebelumnya sampai menewaskan kelima agen rahasia.


Eric sempat terkejut ternyata Indentitas komplotan Erren adalah saudara lelaki kembaran wanita pengkhianat itu. Erren adalah mata-mata yang dikirim dari negaranya untuk mendekati dirinya selama ini, mengamati gerak gerik, kebiasaan, misi apapun. Wanita itu memakai identitas asli wanita yang bernama Erren, sampai saat ini belum diketahui siapa identitas asli Erren si pengkhianat.

__ADS_1


"Maaf Amber, aku harus melakukan misi ini. Aku tidak ingin melakukannya tapi..." Eric melempar belati ke arah sebuah foto yang tertempel di dinding, belati itu menancap pas di dahi Erren. "Saat aku bisa tau identitas Big Wolf, kau akan kubunuh dengan tanganku sendiri, Erren."


Eric menghela nafas, dia segera menelepon Erren yang berada di camp militer. "Halo, Erren, aku... uhukkk... bisakah kamu datang ke rumah. Tolong bawakan obat dari Dokter Swan. Tubuhku demam..."


"Eric, ada apa? Tunggu aku datang!"


Tuttt.... sambungan terputus.


Eric dengan cepat mengisi bathtub dengan es, setelah penuh dia masuk ke dalam nya berendam dengan air es agar tubuhnya demam.


Setelah 20 menit, Eric keluar dengan menggigil. Dia membuang sisa air es. Memeriksa suhu tubuhnya dengan termometer, suhu panas tubuhnya sangat tinggi.


Ting... Tong...


Eric memeriksa Cctv, itu Erren. Sepertinya Agnes berhasil menghambat Amber dijalan. Dia turun membuka pintu dengan tubuh bagian atasnya yang telanjang dan hanya dibalut selimut.


"Kamu tadi bilang demam." Erren meraba kening Eric, "Aww, panas sekali. Ini aku bawa obatnya, aku ambil minum."


"Aku tunggu di kamarku, aku sangat kedinginan."


"Pergilah, aku akan menyusul." Jawab Erren.


Erren pergi ke dapur, Eric naik menaiki tangga menuju kamarnya. Di undakan tangga atas, ia melirik ke bawah sebentar melihat Erren sudah berjalan menyusulnya.


Tubuh Eric benar-benar kedinginan, ia menggigil menyelimuti tubuhnya di atas ranjang.

__ADS_1


"Eric, minum dulu."


Eric bangun meminum obatnya, ia lalu menatap Erren, "Bisakah kamu jangan pergi, aku sangat kedinginan Erren."


Eric melihat mata Erren berbinar senang.


"Tentu saja, mau aku peluk agar tubuhmu hangat?" tawar wanita itu.


Eric mengangguk lemah.


Erren langsung naik ke atas ranjang, memasukkan tubuhnya ke dalam selimut memeluk tubuh Eric yang menggigil. "Kenapa kamu semakin tampan, Eric? Kau tau aku masih menunggumu, bukan? Kapan kamu akan memberiku jawaban?"


"Sekarang aku akan memberimu jawaban," telinga sensitif Eric mendengar langkah kaki diluar menuju kamarnya. Dengan cepat Eric memagut bibir Erren menciumnya.


Erren dengan semangat membalas ciuman Eric, tubuhnya bergerak ke atas tubuh Eric.


"ERIC!!!!"


Seketika Erren melepaskan ciumannya, tapi dia masih berada diatas tubuh Eric memeluknya membelakangi pintu kamar.


Eric menatap Amber di ambang pintu kamar, seketika hatinya sakit saat melihat tatapan benci Amber padanya. Sayang, maafkan aku.


.


.

__ADS_1


.


♡♡♡ Hari ini cukup 4 bab ya, huwaaa lanjoottt besok yua wkwk...


__ADS_2