Terjebak Dalam Tubuh Istri Yang Dibenci

Terjebak Dalam Tubuh Istri Yang Dibenci
Aku Mencintai Katlin, Bukan Kamu Amber.


__ADS_3

Sepasang mata menatap kepergian orang itu dari dalam kamar Katlin di tempat persembunyiannya. Lebih tepatnya bukan Katlin tapi Amber. Pierre merasa senang akhirnya umpannya berhasil memancing orang itu keluar, dia sengaja membawa wanita yang bernama asli Amber itu ke Istana. "Aku tau kau Amber, bukan Katlin. Aku bukan orang bodoh, aku mengulik kehidupanmu selama seminggu di negaramu, dan aku tau Katlin tidak lagi sama. Di awal aku memang percaya semua kata-katamu tapi setelah mencocokkan semua kebiasaan, hobimu, bahkan kebetulan di adopsi tapi keakrabanmu seperti anak kandung di depan orang tuamu, akhirnya aku tau itu kau Amber Broswel. Yang terjadi pada Katlin, aku ingin tau kebenarannya. Karena itu aku membawamu kesini sebagai umpan, Amber. Maaf... tapi aku mencintai Katlin bukan kamu Amber." Tatapan pria itu penuh emosi, rasa sakit, kehilangan, tekad balas dendam.


Pierre berjalan ke luar Istana, membawa mobilnya pergi melewati gerbang luar Istana.


Saat pintu gerbang Istana terbuka tengah malam, Eric langsung bersiaga. "Mobil siapa itu? Apa mobil target kita?"


"Bukan, Capt. Tapi sepertinya masih keluarga Kerajaan, mobil yang belum kita kenal." Jawab Robbin.


"Robbin, kau periksa. Kau Agnes, ikuti mobil itu." Perintah Eric.


"Siap, Capt." Jawab keduanya.


Tak lama terdengar tarikan nafas terkejut dari Robbin, "Capt!"


"Ada apa?" Eric merasakan firasat buruk mendengar keterkejutan Robbin.


"Pria Kerajaan pemilik mobil yang baru keluar adalah Pangeran ke -3, Pangeran Pierre."


"Lalu?" tanya Eric.

__ADS_1


"Dia adalah pria yang sama dengan pria yang bersama Nona Amber di dalam mobilnya saat kita bertemu di jalan. Shittt! Kenapa aku tak memeriksa datanya saat itu!" Robbin berteriak kesal.


Eric bangkit dari tanah, menatap ke arah mobil itu pergi. "Agnes, kau dengar itu! Jangan lepaskan Pria di dalam mobil, jika sudah mendapatkan tujuannya tahan posisimu disana."


"Siap, Capt!" Jawab Agnes di dalam mobil mengejar mobil yang ditumpangi Pierre.


"Aku harus bagaimana, Capt? Apa aku harus memeriksa keadaan Nona Amber di Austria?" tanya Robbin.


"Ya, sambungkan aku dengan Rex. Aku akan bertanya pada sahabatnya itu."


"Baik, Capt." Robbin mulai mengotak-ngatik laptopnya, menyambungkan telepon kepada ponsel Rex. "Anda sudah tersambung, Capt."


"Aku mempertaruhkan nyawaku, Capt. Saluran ini aman," Jawab Robbin tegas.


"Oke."


"Halo?" suara Rex.


"Halo, Rex. Aku Eric."

__ADS_1


"Bangsat! Beraninya kau meneleponku! Kau ingin menyakiti Amber lagi!" umpat Rex.


Eric tak memasukkan dalam hati umpatan dari Rex, "Aku hanya ingin bertanya, jawab saja pertanyaanku. Jawabanmu menyangkut keselamatan Amber."


"Apa perdulimu, bajingan?!"


"Re-x." Eric menggeram, menahan emosinya. "Apa Amber ada disana? Apa dia aman? Aku hanya ingin jawaban jujurmu, Rex. Ini benar-benar menyangkut nyawa Amber, sahabatmu!" Eric kehabisan kesabaran.


"Ada apa Eric? Apa terjadi sesuatu pada Amber? Hari ini dia berangkat ke Monaco dengan pria bernama Pierre, pria itu seorang Pangeran. Pierre bilang akan membawa Amber tinggal di Istana nya, mungkin sudah sampai disana sejak siang. Eric, ada apa?"


Tuttttttt.....


Eric mematikan sambungan, "Amber! Sial dengan segala hidupmu! Aku meninggalkanmu agar kau aman dan menjalani hidupmu! Tapi kau yang menantang kematian itu sendiri!" Eric menatap gerbang Istana, dia harus memastikan dengan matanya sendiri jika Amber benar-benar ada di dalam Istana. "Harris."


"Yes, Capt?" jawab Harris.


"Aku harus memastikan ke dalam Istana, gantikan penyamaranku disini."


"Ok, Capt."

__ADS_1


Eric menarik nafas kesal, "Sial kau Amber! Kenapa ada wanita sepertimu di dunia, selalu saja mendekati bahaya!"


__ADS_2