
Update karya ini susah baget lolos review dari pihak NT, jadi harap sabar ya all kalau up telat.... Wkwkk... Padahal Ini udah Update sejak pagi loh hikss..
...*****...
Para abdi militer sudah membersihkan tempat persembunyian bawahan Big Wolf, mayat-mayat para penjahat sudah dibawa termasuk jasad Erren.
Eric dan para anggotanya sudah berada di kediaman markas mereka dengan beberapa para petinggi.
"Kita akan mengganti misi tempat kalian harus pergi, aku sudah memerintah kalian untuk mengejar Big Wolf dalam jalur perjalanan nya ke Negara berikutnya, yaitu Negara Barbados. Tapi kini setelah mengantongi markas Big Wolf, kalian akan langsung pergi ke Monako, kita akan membuat jaringan di negara itu merencanakan penangkapannya disana. Aku secara resmi membatalkan misi kalian untuk pergi ke Barbados, dan memerintahkan kalian dengan misi baru untuk pergi ke Negara Monako."
Eric dan ketiga anggotanya mengangguk, "Yes, Sir!"
Jenderal Kayle menatap satu-persatu wajah Agen tim khusus. "Ini adalah seperti misi bunuh diri, kalian tau kan?"
"Yes, Sir!"
"Aku memberikan kalian waktu 3 hari untuk menyelesaikan urusan kalian yang belum selesai, ingat! Misi ini tidak boleh terbongkar, ini menyangkut nyawa manusia, kehormatan Negara, kehormatan militer, juga kehormatan dan kebanggaan kita sebagai abdi negara! Mengerti!"
"Yes, Sir!"
"Bubar, dan kamu Eric kemarilah aku ingin bicara." Titah Jenderal Kayle.
Eric mematuhi Jenderal, ia mengikuti pria dengan jabatan paling tinggi di kemiliteran itu dengan patuh.
__ADS_1
"Aku sudah menerima laporan kamu ingin menceraikan istrimu? Apa penyebabnya karena menyangkut misi sebelumnya yang kami berikan agar kamu meraih kepercayaan Erren?"
"Itu adalah bagian dari resiko saat misi ini diturunkan. Sebenarnya aku memang ingin menceraikan istriku karena tidak ingin dia menunggu kedatanganku yang entah akan berhasil hidup atau tidak. Saat misi diturunkan untuk meraih kepercayaan Erren, itu hanyalah pendorong keputusan ku. Perceraian memang sudah saya putuskan sebelum misi itu, Sir."
"Hm," Jenderal mengangguk, "Apa ingin bercerai secara militer juga? Kau tau kan hukum dalam militer?"
Eric menghela nafas, "Bisakah saya menunda perceraian di militer, Sir?"
"Jadi kau ingin menunda perceraian secara militer?"
"Yes, Sir."
"Baik, aku akan menunda prosesnya."
"Ya, pergilah. Eric... meskipun ini seperti misi bunuh diri. Tapi jaga dirimu dan juga bawa semua anggotamu pulang dengan selamat."
"Yes, Sir."
***
Di tangannya Amber memegang surat cerai yang sudah ditanda tangani oleh Eric, tanpa berpikir lagi Amber menanda tangani atas nama Katlin.
"Ini, berikan pada Kaptenmu. Agnes, terimakasih untukmu yang pernah selalu menjagaku. Katakan pada Kapten bajingan mu itu, jangan pernah menghubungiku atau menampakkan wajahnya lagi di hadapanku."
__ADS_1
Agnes mengambil surat cerai lalu memasukkan dalam sebuah map, sudut matanya melihat ada dua orang pria di ruangan itu yang tidak dikenalnya.
"Jika sudah selesai, pergilah!" usir Amber.
Agnes berbalik sebentar menatap kedua pria yang duduk di sofa, lalu pergi dari ruangan rawat.
Steve langsung mendekati Amber, "Kamu gak apa-apa?"
Amber menggeleng, "Semua sudah keputusan kami, aku tidak bisa memaafkan pengkhianatan nya. Kini, semua sudah berakhir."
Steve memeluk sepupunya menguatkannya.
Pierre masih tak percaya apa yang dilihat dan di dengarnya, Katlin bercerai! Apa aku harus mengambil kesempatan ini?
Siangnya Rex datang, ia dikenalkan pada Pangeran dan meminta agar menerima Pangeran di rumah nya karena Amber ingin bebas menjadi dirinya saat bersama kedua orang tuanya jadi dia tak ingin membawa Pangeran ke rumahnya.
"Gue titip Pangeran ya, Rex! Ah, maksudnya titip Pierre."
"Beres." Jawab Rex.
"Pierre, hati-hati. Rex suka gigit pria tampan, haha..."
"Sialan lo, huh!"
__ADS_1
Siang itu Amber akhirnya keluar dari rumah sakit, menuju ke rumah keluarga aslinya.