
Setelah ditangani dan dibawa masuk ke ruang rawat, Amber menelepon Rex. Tak disangka sahabat nya itu datang bersama kakak sepupunya. "K-kak Steve, hikss..."
"Ini benar kamu Amber?!"
Amber mengangguk, "Aku adikmu yang selalu kau jahili, kau selalu menempelkan permen karet di rambutku sampai Mama mengunduliku dulu."
Kakak sepupunya itu menatapnya tak percaya, air mata lolos dari kedua matanya. Dia memeluk erat tubuh adiknya itu. "Maafkan kakak, saat kejadian pun kakak iparmu masih dalam keadaan darurat. Untung saja bayi kami lahir dengan selamat, tapi aku malah kehilanganmu."
Amber menggeleng, "Aku mengerti kak Steve harus mengurus kak Feli, aku ngerti. Sekarang aku membutuhkanmu, kak. Aku ingin kembali menjadi Amber lagi, hiks..."
"Di jalan Rex sudah menjelaskan semuanya, apa tentara itu sudah menyakitimu? Iya?! Dia yang membuatmu kesakitan seperti ini?"
Amber menangis terisak, "Sejak awal Eric bukan milikku, dia milik pemilik tubuh ini. Tapi... mungkin si pemilik tubuh ini juga bukan wanita yang dicintai Eric."
Steve melirik Rex, sahabat adik sepupunya itu malah mengangkat bahu.
"Hahhh..." Steve menghela nafas. "Sekarang fokus dulu merawat tubuhmu, kamu baru saja keguguran. Jangan khawatir, kakak ada disini sekarang. Ah, mau lihat bayi kakak?"
Seketika Amber tersenyum, "Ya, pasti lucu."
Kemudian mereka bertiga saling berkelakar menertawakan masa-masa kecil mereka, dan kenakalan-kenakalan saat masa remaja. Usia Steve hanya berbeda 4 tahun dari Amber, sejak kecil mereka selalu bersama termasuk Rex.
***
Eric terlambat pergi mengejar Erren karena harus menunggu Agnes. Ia mengikuti Erren dengan arahan dari Robbin dan Harris yang sudah lebih dulu pergi. Setelah sampai ia memarkirkan mobilnya jauh dari titik keberadaan tempat musuh. Mereka berempat berkumpul, setelah arahan dari Eric mereka berpencar kecuali Harris yang masih bersamanya.
Setelah berpencar Eric memberi aba-aba untuk merengsek maju, ia memegang senjata Revolver di tangan nya. Robbin adalah seorang penembak jitu, ia berada di atap gedung dengan senjata semi-otomatis berteleskop. Agnes adalah seorang Sniper, wanita militer satu-satunya itu memegang senjata Remington dengan jarak tembak 1,5 km jauhnya. Harris memegang MP40, ia adalah penembak jarak dekat.
Harris merengsek maju, Robbin meneropong sekitar area musuh ia memijit alat komunikasinya. "Kiri aman, maju!"
"Berapa orang diluar?" tanya Eric.
"Sekitar 20 orang Capt, di dalam mungkin lebih." jawab Robbin.
"Kau dengar Agnes, bunuh mereka sekaligus. Singkirkan mereka dari jalanku!" perintah Eric pada Agnes si penembak runduk.
"Yes, Capt!"
Desinngggg ! Dsingggg! Dsinggggg!
Agnes menembakkan senjata dari jarak 800 meter, peluru - peluru terbang menembus angin.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, sampai 12. Musuh-musuh tertembus peluru.
__ADS_1
"12 tumbang, Capt!"
"Oke, Harris maju."
Harris mengangguk, ia membidik dengan senjata jarak dekat. Berlari ke belakang pohon, lalu maju membidik dan menembak.
Dorrrr! Dorrrr! Satu, dua, tiga. Tumbang.
Eric maju, Harris dan Agnes melindungi Kapten mereka.
Eric berhasil masuk ke dalam rumah, dia mengangkat senjata Revolver-nya.
Dorrrr Dorrrrrr
Ia menghindar saat sebuah peluru mengarah padanya, lalu melompati meja menembak. Dorrr Dorrrr Dorrrr
Eric Berguling ke bawah lalu bersembunyi menempelkan tubuhnya di dinding. Dari sudut matanya ia melihat Harris masuk, Eric mengacungkan 4 jari menunjuk ke kanan.
Harris mengganguk, dia merengsek masuk ke koridor kanan. Eric ke arah berlawanan, ia melangkah maju.
Dugh!
Seseorang memukul wajahnya, Eric mengangkat lengannya saat orang itu ingin memukul wajahnya lagi. Ia menendang perut penyerangnya, wajah orang itu tertutup topeng.
Mata penyerangnya terbelalak terkejut, dia akhirnya membuka topengnya. Wajah versi laki-laki dari Erren tersenyum tipis, " Wah, wah... aku sempat meragukan ketenaranmu, cerita tentangmu yang sudah melegenda. Bravo... Bravo... Bahkan adikku bisa kau bongkar. Padahal dia sudah ditempa sejak kecil sama sepertiku. Ah... Bicara tentang adikku, dia bahkan tak keberatan saat tubuhnya dibakar dan disayat saat dihukum Bos besar, kau tau kenapa dia menerima hukuman itu dari Bos kami? Karena adikku benar-benar menyukaimu? Aku membencimu karena membuat adikku menjadi bodoh karena cinta! Dia diperintahkan untuk membunuhmu langsung tapi dia menolak, dia bahkan rela dirinya tertembak menghalangi peluru menembusmu! Sekarang bahkan penyamaran nya sudah terbongkar, jika adik kembarku itu tidak mati di tanganmu maka dia akan mati di tangan Bos-ku. Kau tau itu!!!"
Eric terdiam mendengar pengakuan dari pria di depannya, tapi musuh tetaplah musuh meskipun Erren telah melindunginya.
"Lalu kau? Bukankah kini penyamaranmu juga sudah terbongkar. Tapi sepertinya kau akan menerima hukuman dari kami, karena aku akan menangkapmu."
"Hahaha... aku tidak akan tertangkap olehmu, aku takkan membiarkan itu terjadi, Kapten Eric."
"Kau terlalu percaya diri, siapa identitas aslimu dan Erren? Aku bertanya hanya karena penasaran," Eric mengangkat bahunya tak perduli. "Karena saat aku menyiksamu nanti, sudah pasti kau akan mengatakannya. Kau pasti tau metode penyiksaan kami, bukan? Aku bahkan pernah memotong lidah seorang pembunuh bayaran. Kau tau apa penyiksaan paling ringan untukmu? Mematahkan tempurung lututmu dengan besi dan tidak mengobatinya... lalu aku akan melelehkan kulit tubuhmu dengan api dan menarik kulit terbakarmu sedikit demi sedikit dan menusuk-nusuk daging terbakarmu dengan besi." Eric menarik belati lalu memainkannya di tangannya. Menggores-gores tangannya sendiri sampai berdarah.
Saudara kembar Erren itu seketika mundur, tubuhnya bergidik ngeri. "Pria gila!"
Eric menggeleng, "Tidak, tidak... kau salah. Aku bukan pria gila, tapi aku adalah pencabut nyawa orang-orang seperti mu. Apa kau tau berapa jumlah penjahat yang aku hukum langsung dengan tanganku ini? Itu lebih banyak daripada yang aku serahkan pada pihak yang berwenang. " Eric tersenyum sadis. "Tapi dalam kasusmu... aku akan meminta keringanan jika kau mengatakan siapa identitas asli Big Wolf, mungkin hanya dipenjara tanpa penyiksaan. Kau boleh memilih..." Ujar Eric dengan wajah terserah.
"Hahahaha, kau pikir aku takut. Sialan! Sebentar tadi aku menjadi bodoh, penyiksaanmu tak seberapa dibandingkan penyiksaan dari orang di atasku. Kau belum mengenalnya, Kapten Eric. Aku lebih baik mati daripada membocorkan identitasnya," tiba-tiba penjahat itu tersenyum. "Selamat tinggal, Eric. Tembak!"
Sial, aku lengah! Selagi dia mengajakku bicara, ada yang membidikku! Eric baru saja ingin melompat menghindar tiba-tiba seseorang memeluknya.
Dorrr!
__ADS_1
"Ahhhhh..." Erren menjerit kesakitan.
"Bryana!"
"Ahh, kakak pergilah! Cepat..."
"Kenapa? Aku bilang aku akan membunuh tentara sialan ini!"
Wanita yang bernama asli Bryana itu tersenyum, "Aku juga pernah bilang, lebih baik aku mati daripada dia mati, bukan? Uhukk..." ia menyemburkan darah.
"E-ric... hahhhh... aku tidak akan meminta maaf karena menjadi orang jahat. Aku... hahhhh..." Erren terengah-engah. "Aku harus melindungi kakakku, sejak kecil... k-kami hanya hidup berdua. Orang tua kami dulu sama sepertimu seorang tentara, mereka meninggal di medan pertempuran tapi kami bahkan tidak diberikan hidup yang layak... negara melupakan kami. Sejak kecil kami kelaparan... ak-ku... uhuuk..." wanita itu menyemburkan darah lagi.
"Bryana..." lirih Barnes, kembaran Erren.
"Eric... lepaskan kakakku... aku mohon..."
"Bos, ayo pergi," ucap salah satu anak buah Barnes.
"Eric aku mohon... "
"Bos!"
Barnes menatap pilu pada adik kembarnya Bryana, "Maaf..." pria itu berlari pergi.
"Capt? Tembak?" tanya Robbin saat melihat beberapa penjahat yang berhasil kabur.
"Er-ric, jika kamu melepaskan kakakku... aku akan mengatakan identitas orang itu... Eric... waktuku tidak banyak... hahhhhh...."
"Capt?" tanya Robbin lagi.
"Jangan tembak! Tahan! Biarkan mereka! Identitas Big Wolf lebih penting!"
Eric menatap Erren yang berada dalam pangkuannya, "Jadi namamu Bryana?"
Dengan lemah Erren mengangguk, "Aku tidak berhak.. hahh... untuk mencintaimu bukan?" wanita yang sudah kehabisan nafas itu tersenyum menyedihkan. "Men... dekatlah..."
Eric mendekatkan telinganya ke bibir Erren, "Nama... nya... uhukk... Durant Chevalier, markasnya di... Monako... itu... hahhh... Er..." suara Erren semakin hilang, nafasnya tiba-tiba terhenti. Jantung wanita itu berhenti berdetak, tubuhnya seketika terkulai mati di pangkuan Eric, pria yang dicintainya.
.
.
.
__ADS_1
NOTE : Banyak typo gk papa ya, aku lagi sibuk guys, wkkwk. Ini nyempetin.