
Setelah semua para penumpang kapal pesiar naik dan masuk ke dalam kapal, Nakhoda segera memberi intruksi untuk membawa benda berat yang bisa mengapung di atas air itu membelah lautan luas.
Amber sudah mengantongi pesan dari Eric, ia mendapatkan pesan itu dari seorang pelayan yang mengaku untuk memberikan padanya. Saat tadi membuka pesan surat itu, ia sangat terkejut. Itu pesan dari Eric, pria itu mengatakan sedang berada di Monaco dan ingin bertemu dengan nya. Dia kira Eric ada di Austria, tak menyangka pria itu ada di Monaco juga. Dia berpikir lebih dalam apa yang dilakukan Eric di Monaco setelah kematian Erren, hanya ada satu jawaban. Sepertinya Eric sedang mengejar orang-orang contohnya seperti orang yang mengendap datang ke kamarnya dan berbicara padanya malam kemarin.
Ia mengingat nomor kamar yang diminta Eric untuk bertemu, tapi dengan keberadaan Pierre dia harus berakting tanpa cela. Itu juga demi Pierre sendiri, jika aktingnya terbongkar nyawa pria itu juga akan dalam bahaya.
Malam ini ia memakai gaun hitam panjang tanpa lengan dengan punggung yang terbuka memperlihatkan kulit putihnya. Ia menggandeng tangan Pierre, sesekali tersenyum manis pada Pangeran ke -3 itu. Tapi sorot matanya menatap ke sekeliling berpura-pura tertarik akan furnitur dan orang-orang berkelas disana yang sedang berbaur. "Pierre, acara ini sangat mewah."
"Kamu senang?"
"Sangat senang, terima kasih. Ini karena kamu mempunyai kekuasaan, jadi aku bisa menikmati semua ini."
"Kamu suka kekuasaanku, Katlin?" tanya Pierre penasaran.
"Hm, mungkin iya mungkin tidak. Tergantung situasi..." Amber mengendikkan bahunya.
"Kamu sangat cantik malam ini," mata Pierre bercahaya saat menatap wanita yang menggandeng nya itu.
"Ini sudah ke 11 kalinya kamu mengatakan aku cantik, tapi terimakasih."
Senyuman wanita itu begitu mempesona, membuat jantung Pierre untuk kesekian kalinya berdegup kencang malam itu. Sial! Kenapa dia sangat cantik! Apa karena aku melihat wajah Katlin?! Apa aku terpengaruh?
Tiba-tiba wanita itu mengecup pipinya, tubuh Pierre membeku.
__ADS_1
"Kamu juga sangat tampan, semua wanita sedang menatapmu. Aku sudah memberimu cap tandaku di pipimu, jadi jangan sampai tanda dariku hilang," Amber tersenyum nakal.
Sial! Sial! Sial! Jantungku! Pierre benar-benar tak bisa menghentikan detak jantungnya yang berdebar.
Ia tersenyum puas melihat wajah Pierre memerah, jika ada yang sedang memperhatikan interaksi mereka berdua siapapun itu aktingnya yang seolah sedang bermesraan dan sangat menikmati kebersamaan nya dengan Pierre, sepertinya orang itu akan percaya.
Degh! Tubuhnya membeku, jari-jari tangan seseorang mengelus kulit punggung terbukanya. Eric! Tahan Amber, jangan mengacaukan semuanya seperti terakhir kali dan membuat kekacauan.
"Pierre, aku ingin ke kamar kecil. Tunggu sebentar, ya."
"Kamu tau dimana kamar kecilnya?"
"Banyak pelayan disini, aku akan bertanya." Amber lalu pergi dengan perlahan, bersikap dengan sewajarnya. Saat sudut matanya melihat kode dari tangan seseorang, dia terus berjalan mengikuti orang itu dari jauh.
"Hah?" pria itu memundurkan tubuhnya, menatap kebingungan tapi lebih ke wajah terkejut.
Kini di hadapannya, berjarak beberapa senti dari wajahnya ia melihat jelas wajah pria yang belum lama berpisah darinya tapi begitu ia rindukan, "Aku bilang aku merindukanmu," ia mengulurkan tangan mengelus rahang pipi, mengelus alis tebal pria itu, mata dan akhirnya berhenti di bibir sexy Eric.
"Amber, jangan bicara aneh-aneh. Aku sedang menahan amarahku padamu, sedang apa kau disini?! Kenapa kamu-"
Ia membungkam bibir Eric dengan bibirnya, sebelah tangannya berpegangan pada leher pria itu sebelah tangannya menelusuri tubuh kekar Eric. Ia terus mencium Eric tak ingin membiarkan pria itu berbicara, ia hanya ingin melepaskan rindu yang selama ini menyesakkan dadanya.
Pria itu mencoba mendorong tubuhnya menjauh tapi Amber tetap mempertahankan posisinya, akhirnya ia merasakan Eric melepaskan pertahan diri lalu membungkus tubuhnya dengan pelukan hangat, bahkan Eric membalas dengan semangat ciuman darinya.
__ADS_1
Eric mengangkat tubuh Amber memangkunya dalam pelukan, wanita itu melingkarkan kakinya di pinggang Eric. Pria yang sudah tersulut gairahnya itu, menempelkan tubuh Amber yang berada dalam gendongan nya ke pintu. "Kau membuatku gila, Amber... ahhh... aku juga merindukanmu... sangat merindukanmu sayang."
"Eric, tentang semua sandiwaramu, juga tentang Erren aku sudah tau. Eric... aku salah. Aku masih mencintaimu, jangan tinggalkan aku lagi." Mata Amber berkaca-kaca.
"Ahh, Amber... apa yang harus aku lakukan padamu? Aku sudah berusaha keras menjauhkanmu dariku, kamu akan selalu dalam bahaya jika terus bersamaku."
Amber menggeleng, "Asalkan kamu selalu jujur padaku, tentang pekerjaanmu semuanya. Aku akan berada di sampingmu, menemanimu dalam keadaan apapun meskipun itu sangat bahaya. Aku takkan melepaskanmu lagi, tak akan pernah. Eric, cintai aku."
"Amber... kenapa ada wanita sepertimu? Selalu menerjang bahaya, hah?"
"Aku akan menerjangnya bersamamu, asalkan kamu tak pernah lagi melepaskan tanganku. Ayo kita bersama lagi, Eric. Aku mencintaimu..."
"Ahhh Amber... aku juga mencintaimu."
Amber tersenyum bahagia, tiba-tiba ia mengingat tentang tujuannya bertemu dengan Eric, "Aku harus menceritakan sesuatu, kemarin malam..."
Amber lalu mulai menceritakan semua perkataan orang itu, dan mengatakan kecurigaan nya.
"Dugaanmu benar, itu adalah Pangeran ke -2 dan Kepala Sekertariat. Mereka yang memuluskan kejahatan Mafia disini sampai lolos ke Negara lain. Kami sudah mengantongi bukti-bukti kejahatan tapi masih mencari buku besar yang sangat memberatkan untuk mereka. Kami juga masih menunggu kedatangan Big Wolf si Bos Mafia. Amber, keluarlah dari Istana. Jangan membahayakan dirimu."
"Tapi Pierre juga akan berada dalam bahaya jika aku tergesa-gesa dan mencurigakan. Orang itu mengancamku akan membunuhku dan Pierre. Aku tak bisa membiarkannya begitu saja, bahkan aku sudah dekat dengan para anggota yang lain. Eric, mereka adalah orang-orang baik, aku takut terjadi apa-apa pada mereka. Bayangkan jika Pierre tau kejahatan kakak keduanya, dia akan mengatakan pada Yang Mulia dan kerusuhan akan terjadi di dalam Istana. Eric, aku tak bisa pergi sebelum kalian membuktikan kejahatan Pangeran ke -2 dan Kepala Sekretariat."
Eric menatap wajah cantik dari wanita yang begitu dicintainya. jiwa wanita itu terlalu lembut, pantas saja dia sangat mencintai Amber.
__ADS_1