Terjebak Dalam Tubuh Istri Yang Dibenci

Terjebak Dalam Tubuh Istri Yang Dibenci
Bonchap - 2


__ADS_3

...Italia. 21+...


Samar-samar terdengar suara decitan dari ranjang yang sedang di invasi dua sosok agen rahasia dari Austria, tubuh si pria kelimpungan karena kalah power bahkan terdominasi oleh si wanita. Meskipun bertahun tahun tubuhnya ditempa di tempat-tempat berbahaya bahkan tangan yang seharusnya mulus karena ia seorang perempuan tapi tangan kasarnya tak elak masih membuat tubuh lelaki yang dielus bagian inti nya mengerrang penuh kepuasan.


"Achhh... Agnes... setiap kali kita bercinta kau membuatku tak berdaya. Jadi bisakah kita cepat mengakhirinya... ak--aku tak kuat lagi ingin menekan ular beracunku padamu." Harris terengah engah di tengah sensasi yang terus menggelenyar di seluruh tubuhnya. Nafasnya sudah menderu jari tangannya memainkan pucuk kecoklatan dada Agnes memilin pucuk itu hingga mengeras.


"Hhhhhh, aku masih menikmati tubuhmu Harris... Diamlah layaknya perempuan nikmatilah semua yang aku berikan atau aku akan meninggalkanmu saat tubuhmu meraung meminta dipuaskan." Geram Agnes di sela isapan nya di ular berbisa milik Harris yang semakin memanjang dan membesar.


"Ahhhh... Kau belum bosan selalu menghukumku karena sering meledekmu sayang... Agnes ahhh jangan menggigit disana! Ahhh..." tubuh Harris tak bisa diam terus bergerak liar apalagi sewaktu si ular miliknya digigit. Selanjutnya sesapan mulut Agnes dan permainan lidah wanita itu menutup rasa sakitnya sesaat tadi saat wanita itu mengigit ularnya.


"Agnes... "


"Memohonlah lagi... itu hukumanmu."


"Sayang... Aku mohon... Achhh..."


Tubuh Agnes merayap ke atas tubuh Harris mulutnya menyusuri tubuh Harris yang terpedaya di bawah kendalinya, akhirnya wanita ganas itu mengangkat tubuh bagian bawahnya ke atas lalu kembali ke bawah turun dengan perlahan menyatukan milik mereka berdua.


"Ahhhh~" errangan keduanya terdengar.


Tubuh Agnes mulai bergerak di atas tubuhnya, kepala Harris terangkat menempel di dada wanita itu... mulut dan lidahnya sibuk mengisap pucuk dada Agnes memberi semangat pada wanita militer itu untuk bergerak lebih lincah diatas tubuhnya. Tak lama tubuh mereka berdua bergetar hebat, kenikmatan menggelenyar ke sekujur tubuh... setelahnya keduanya terengah engah kehabisan nafas.


"Ahh Ag...nes, aku mencintaimu... setelah misi ini selesai ayo menikah. Aku akan mengajukan kita berdua untuk menjadi Ajudan pribadi Jenderal Eric, bagaimana?" ujar Harris lelaki itu menciumi wajah Agnes satu persatu.


"Hm," wanita itu hanya bergumam.


"Jawab," desak Harris.

__ADS_1


"Terserah," jawab Agnes sekenanya.


3 bulan kemudian setelah kembali dengan misi yang sukses dari Italy, mereka berdua melangsungkan pernikahan dan setelahnya mengajukan diri menjadi Ajudan pribadi Jenderal mereka, Eric.


.


.


.


...AUSTRIA....


7 tahun kemudian.


TAP!


TAP!


TAP!


Gadis kecil dengan bermata cyan berambut gelombang dibawah bahu itu berlari menuruni tangga. Gadis itu akan marah jika ada yang main-main dengan rambut gelombangnya, bahkan sang Mommy sekalipun akan ia pelototi saat ingin mengepang rambutnya menjadi dua. Gadis itu selalu bilang rambut gelombangnya adalah mahkota berharganya, tak boleh ada yang menyentuh sembarangan.


"Huh! Aku menamainya Danielle yang berarti mengadili dengan adil agar putri kita menjadi perempuan yang bijaksana. Apanya yang bijaksana, aku bosan dipanggil ke sekolah terus! Apa kamu tidak malu, Eric. Padahal kamu adalah seorang Jenderal besar tapi lihatlah kelakuan putrimu itu bertengkar tiap hari dengan anak laki-laki di sekolahnya," sang Ratu di Istana kediaman Eric Graham mulai mengomel padahal masih pagi.


Eric sudah selesai memakan sarapan nya, roti lapis dan waffle. Ia menyeruput kopi hitam nya sesekali memeriksa iPad-nya. Lelaki yang sudah semakin dewasa berusia hampir berkepala -4 itu sudah terbiasa dengan keributan di pagi hari, juga sudah tidak aneh lagi mendengar istrinya selalu dipanggil ke sekolah putrinya, Danielle.


"Dad, semalam aku kalah lagi. Senjata AN94 itu tak bermutu, andai aku bisa merakit senjata sendiri," bukan ucapan selamat pagi good morning atau menyapa dengan hangat kedua orang tuanya tapi gadis dengan wajah terlalu pias sampai seperti vampire itu malah membicarakan hobinya.

__ADS_1


"Kamu bermain Free Fire lagi? Sampai jam berapa?" timpal Eric, ia masih santai menyeruput kopinya dengan mata mengarah ke iPad dan me-scroll layar.


Amber menarik nafas terus menerus, menahan kesabaran pada putri nya itu. Apalagi Eric semakin hari malah semakin memanjakan Danielle, suaminya itu selalu mengatakan biarkan Danielle bebas dengan hidupnya sendiri. Tapi lihatlah putrinya kini, bakhan terlihat feminim pun tidak!


"Hanya sampai pukul 2, aku tidak mengantuk malam tadi. Dad, kapan aku boleh ke camp militer lagi? Aku ingin belajar menembak lagi."


"Danielle, minum su su mu dan serealnya," Amber manahan umpatan dari mulutnya.


"Aku bukan anak kecil lagi, aku ingin minum kopi seperti Daddy," tolak gadis kecil itu mengabaikan su su yang disodorkan Mommy-nya.


Eric menggeser cangkir kopi di depannya ke depan putrinya, "Minumlah punya Daddy."


Dengan cepat Danielle menyeruput kopi hitam sang Daddy, setelahnya ia nyengir menatap Mommy-nya dengan mata menantang seolah berkata 'Daddy lebih menyayangiku daripada Daddy menyayangi Mommy'.


Amber tak mengantakan apapun, dia tau apa yang dipikirkan putrinya tapi bukan Amber namanya jika ditantang seperti itu akan kalah. Apalagi dia mempunyai kabar baik dan pasti akan membuat Eric kembali berpaling padanya. Ia menatap mata cyan putrinya dengan senyum miring, suruh siapa berani menantangnya!


"Sayang..." Amber mulai mendekati Eric di kursi makannya. Ia menjauhkan iPad Eric dari tangan pria itu lalu mendudukkan tubuhnya di pangkuan suaminya merangkul leher pria itu.


"Ada apa? Hm?" tanya Eric merasa aneh dengan tingkah istrinya, sudah lama Amber tidak pernah manja lagi di hadapan putri mereka yang semakin besar.


"Pegang perutku, elus perlahan. Ada calon bayi kita sedang tumbuh disana, mungkin seorang Putra."


"Apa?!!" Danielle berteriak histeris, ini yang paling ditakutkan gadis kecil itu, mempunyai saudara! Oh tidak! Dia tak ingin semua miliknya yang ia miliki sekarang terbagi!


"Benarkah, sayang? Oh, Amber. Aku mencintaimu..." Eric mencium bibir istrinya dengan lembut mengelus perut rata Amber. Binar kebahagian pria itu terlihat jelas, ia juga sangat mengharapkan seorang putra untuk menjadi penerusnya. Meskipun Danielle selalu mengikuti jejaknya tapi sampai kapanpun ia tak akan mengijinkan putrinya menjadi agen sepertinya dulu.


"Aku benci dia yang di dalam perut Mommy!" Danielle pergi dengan cairan bening yang tumpah dari mata cyan cantiknya, gadis itu berlari keluar rumah dengan terisak.

__ADS_1


Setelah berhenti menjadi agen khusus, Agnes menjadi Ajudan putri dari Jenderalnya. Dia sedang bersandar di mobil dinasnya, dengan putrinya yang berusia 6 tahun di dalam mobil sedang menunggu kedatangan Daniella dan saat melihat gadis itu keluar dari rumah Agnes dengan sigap membuka pintu mobil. Setelah putri Jenderal-nya itu masuk dan duduk, ia melihat Danielle seperti sedang terisak menangis tapi ia menutup mulutnya seperti biasa tak ingin mencampuri urusan siapapun jika tidak diperintah.


__ADS_2