
Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
Zion membuka matanya perlahan. Ia menelusuri keliling ruangan yang terasa asing. Sejenak wanita itu kembali memejamkan matanya. Menetralisir emosi yang tertahan dalam sana.
Ia duduk, matanya yang dilingkari rambut mata kian menelisik setiap sudut ruangan. Ia melepaskan segala pikiran yang tidak seperti biasanya. Ia hanya berharap semuanya akan baik-baik saja. Mungkin karena masih pada masa patah hati karena dianggap tak berharga. Ia memikirkan hal yang menurutnya aneh. Aneh jika ia tak patah hati ketika sesuatu yang ia jaga hilang dan diambil oleh orang yang begitu ia benci. Ia menanamkan pada dirinya. Bahwa ia akan mengingat semua yang lelaki itu lakukan padanya. Rasa sakit dan kebencian yang Zoalva ciptakan membuat ia tak percaya pada takdir baik.
Zion menyimak selimut yang menutupi tubuhnya. Lagi hatinya teriris sakit ketika mendapatk dirinya tanpa sehelai benang. Bercak darah kering terlihat jelas diatas sprei tempat yang ia tiduri.
Wanita itu turun dari ranjang sambil memunggut gaunnya yang sudah tak berbentuk dan berserakan dilantai. Ia sudah tak bisa menangis. Air mata nya sudah bosan mengejeknya. Tanpa di ejek pun ia sudah kalah oleh takdir yang membawanya pada kehancuran.
Ia berjalan tertatih sambil menyeret kakinya. Tubuhnya terasa hancur dan terpatah-patah.
Percikkan air yang keluar dari shower membasahi tubuhnya. Gemercikkan air terdengar menggema didalam kamar mandi. Bersamaan dengan air mengalir itu, air mata yang ia anggap sudah kering mengalir menetes dengan deras. Entah bagaimana membedakan air mata dan air shower karena mereka jatih secara bersamaan.
"Pakai pakaian mu dan tutupi bekas itu," Zoalva melemparkan paper bag pada wanita yang sudah membungkus tubuhnya dengan handuk itu.
Zion tak merespon apapun ia mengambil paper bag itu lalu memakai pakaian yang ada didalamnya. Sangat, Zion sangat membenci Zoalva. Sampai kapan pun ia tidak akan pernah memaafkan dan melupakan kejahatan lelaki itu padanya.
Zoalva duduk di sofa sambil menunggu Zion yang tengah berganti pakaian. Bayangan kejadian panas semalam membuat ia ingin mengulang permainan panas mereka. Belum waktunya, gadis itu harus hancur sesuai harapannya meski sekarang dia sudah menghancurkan nya. Namun, ia masih belum puas. Ia ingin bermain-main lagi sampai semua perasaan dendamnya terbalaskan.
Zion keluar dari kamar mandi dengan gaun selutut dan leher yang tertutup. Ia bernafas lega saat bagian dada nya tidak terbuka karena bekas kemerahan tanda cinta lelaki itu terlukis disana.
Zoalva menatap Zion licik. Dia melirik wanitabitu dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Bagaimana hukumanku? Apa kau suka?" ia tersenyum meledek.
Zion mengepalkan tangannya kuat. Dadanya naik turun, nafasnya memburu. Wajahnya merah.
"Haha, kau marah Sayang?" Zoalva tertawa mengejek. "Bukankah semalam kau juga menikmati permainan ku? Atau ingin mengulangnya kembali?" Zoalva berdiri dan menghampiri Zion.
"Kenapa?" ia menyingkirkan rambut basah Zion. "Jangan marah Sayang, kau tenang saja. Jika kau mau kita bisa mengulangnya lagi," ucapnya.
"Bunuh aku Tuan," pinta Zion. Ia menarik tangan Zoalva dan meletakkan dilehernya. "Bunuh aku. Aku tidak mau hidup lagi. Jika dengan membunuhku bisa membuat rasa dendammu lakukanlah. Aku, aku sudah lelah dengan hidupku," ucap Zion memegang tangan Zoalva memaksa lelaki itu mencekik lehernya.
__ADS_1
"Atau kau mau menggoreng ku seperti yang kau lakukan kemarin pada mereka? Aku tidak memilih ingin mati dengan cara apa. Asal aku bisa lepas dari semua rasa sakit ini," wanita ini sudah pasrah dan tak lagi berangan-angan untuk bisa terbebas.
Zoalva malah menatap dalam mata biru Zion. Konon, menurut sebagian ilmuan orang berkata biru itu memiliki kecerdasan yang tinggi, baik dalam bidang akademik maupun bidang lain nya.
"Jika membunuhmu itu mudah, aku sudah melakukan nya sejak lama," jawab Zoalva. "Sekali lagi aku tegaskan. Aku tidak akan membunuh mu tapi aku akan menjadikan mu sebagai pemuas nafsuku. Kau paham," ucap nya penuh penekanan.
Air mata Zion semakin luruh. Sebegitu tidak berharga nya dia di mata lelaki itu. Sehingga ia hanya dianggap sebagai pemuas nafsu saja.
"Ayo," Zoalva menarik tangan Zion keluar.
Mereka masuk kedalam markas mewah yahh menyerupai mansion mewah itu.
"Robin, masukkan dia kedalam kandang San," titah Zoalva.
"Baik Tuan,"
Zion menatap Zoalva. Tatapan wanita itu seolah meminta agar dirinya jangan dimasukkan kedalam kandang ular sanca itu. Jika kematian ia berani maka sekarang dia adalah wanita yang penakut.
"Mari Nona,"
"Kak," panggil Zion pada Robin.
"Iya Nona," sahut Robin.
"Kak, kalau misal nya aku pergi nanti. Aku bisa titip sesuatu tidak pada Kakak?"
"Apa Nona?" tanya Robin penasaran.
"Ini Kak," Zion memberikan jam tangan nya pada Robin. "Jika bertemu Ayah ku berikan pada nya ya Kak," ucap Zion.
Robin mengambil jam tangan itu dan mengangguk. Lalu ia membuka kunci kandang San. Tampak ular itu tengah terlelap dan tidak mengetahui kedatangan Zion.
.
__ADS_1
.
.
Zoalva melempar asal jas nya. Nafasnya memburu dan tampak marah. Ia melonggarkan dasi yang terasa mencekik lehernya.
"Tidak. Tidak. Aku pasti bisa melepaskan gadis itu. Perasaan ini tidak benar. Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya," Zoalva menepis semua perasaan yang ada didadanya.
Ia menyangkal dirinya bahwa ia tidak menyukai gadis yang sudah dia ambil kesucian nya itu. Ia tidak mungkin memiliki perasaan pada Zion. Perasaan nya pasti salah dan tidak benar.
"Permisi Tuan," Robin masuk kedalam ruangan Zoalva.
"Ada apa?" ketus pria itu.
"Tuan Darwin meminta anda untuk segera ke pelabuhan Tuan. Katanya ada penyusup yang akan masuk kedalam sistem keamanan kita," jelas Robin.
"Apa?" pekik Zoalva.
Ia segera keluar dari ruangan nya dengan langkah lebar. Padahal tadi baru saja dia sampai ke Markas dan harus meninggalkan Markas itu lagi
"Heru, perintah kan Darwin untuk memasang sistem keamanan disana," titah Zoalva.
"Baik Tuan," sahut Robin.
Zoalva menghembuskan nafasnya kasar. Ia masih terbayang-bayang pada wajah rapuh Zion saat meminta ampun padanya. Tak bisa hilang sama sekali. Wajah wanita itu masih melekat dibayangannya.
Zoalva menyenderkan kepalanya. Ia gelisah. Dan tadi ia meminta Robin agar memasukkan Zion kedalam kandang San. Agar ular berbisa itu mencabik-cabik tubuh Zion.
"Bagaimana keadaan gadis itu Robin?"
"Saya sudah memasukan Nona kedalam kandang San, Tuan. Sesuai dengan perintah anda," jelas jawab Robin.
Bersambung.....
__ADS_1
Makasih buat kalian yang masih ikutin kisah seru nya Zoalva. jangan lupa dukungan nya buat author