Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia

Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia
Dia


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


"Semangat sekali seperti nya anak Mommy ini?" goda Zion sambil memasangkan pakaian anaknya.


"Iya dong Mommy. Ray kan, mau ikut Ayah dan Mommy," seru pria kecil itu tampak semangat dan sumringah.


Hubungan Zion dan Riley kembali membaik. Zion berhasil membujuk putranya itu dengan jurus andalan. Namun dengan persyaratan dan bujuk rayu tentunya.


"Mommy, siapa tahu ada Daddy disana," seru Riley.


Zion menghela nafas panjang. Ia berusaha untuk tidak emosi lagi. Zion tak mau bertengkar dengan putranya. Sudah cukup pertengkaran mereka selama ini. Anak kecil seperti Riley emosinya masih labil dan tidak akan paham apapun yang Zion katakan.


"Iya Son," jawab Zion mengusap kepala putranya. "Ayo, Ayah sudah menunggu," ajak Zion menggandeng tangan putranya keluar dari kamar.


Zion harus berdamai dengan masa lalu. Ia tak boleh egois dan mementingkan perasaan nya sendiri. Jika waktunya tiba ia dan Zoalva dipertemukan kembali. Maka Zion harus menyiapkan segala kemungkinan untuk menghadapi kenyataan.


"Ayah," Felix yang sudah menunggu keduanya sontak menoleh.


Tatapan Felix bukannya tertuju pada Riley yang memeluk kakinya. Ia malah menatap Zion dengan mata tak berkedip. Cantik sekali wanita ini. Felix tak yakin hatinya akan aman jika selalu berdekatan dengan Zion. Bagaimana pun ia memungkiri hatinya. Ia tetaplah pria normal yang tertarik pada wanita seperti Zion.


"Ayah," panggil Riley sekali lagi.


Felix langsung tersadar. "Ehh iya Son," lelaki itu tersenyum kaku.


"Ayo," ajak Riley menggandeng tangan Felix


"Ayo Son. Mari Nona," sambil mengajak Zion.


"Iya Kak,"


Ketiga orang itu masuk kedalam mobil.


Ariana melihat dari jauh. Dalam hati wanita itu berharap jika Zion dapat membuka hatinya untuk Felix. Jujur saja dia ingin Zion dan Felix bersatu agar Riley memiliki orang tua lengkap. Namun kedua orang itu malah menolak dan tidak mau. Terutama Felix, ia sadar bahwa ia takkan pantas bersanding dengan Zion yang cantik sempurna seperti bidadari khayangan.


"Ayah, tempatnya dimana?" seru Riley. "Apakah jauh dari sini? Apakah disana banyak orang Ayah?" tanya nya. Anak kecil ini memang memiliki keinginantahuan yang tinggi.


"Sangat ramai Son," tangan Felix terulur mengusap kepala Felix yang duduk dipangkuan Zion.

__ADS_1


Sekilas mereka terlihat seperti keluarga bahagia. Apalagi Zion yang cantik berpaduan dengan Felix yang tampan dan tentunya masih muda. Usia Felix baru menginjak 28 tahun sedangkan Zion, berusia 23 tahun. Namun keduanya tampak seperti pasangan romantis lainnya.


"Ayo Nona," ajak Felix saat mereka sudah sampai di hotel tempat acara di adakan.


Ketiga nya turun dari mobil. Tampak orang-orang sudah ramai berdatangan memenuhi ruangan. Zion dan Felix bukan tamu spesial, mereka hanya di undang sebagai perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan baru itu.


"Son, mau digendong Ayah atau jalan sendiri?" tanya Felix sambil menekan remote mobil


"Jalan saja Ayah. Tapi Ray menggandeng tangan Ayah dan Mommy," ucap Riley.


Ketiganya masuk. Riley menggandeng tangan Zion dan Felix. Riley tampak tersenyum bahagia. Ia mendambakan keluarga yang utuh seperti ini.


"Ray pelan-pelan jalannya Nak, jangan lari-lari tegur," tegur Zion sambil menggeleng.


Mereka masuk kedalam lift. Tampak senyum Riley tidak memudar.


"Son gendong saja ya," ucap Felix.


"Iya Ayah," Riley menurut dan menyambut uluran tangan Felix.


"Son, sini Mommy perbaiki dulu rambutnya," Zion merapikan rambut putranya yang berantakan. Putranya ini sangat nakal.


"Mommy, apakah disana banyak makanan?" seru Riley, tangannya melingkar dileher Felix.


"Sangat banyak Son. Ray mau makan apa saja ada," sahut Zion tersenyum simpul dan bahagia.


Kebahagiaan Zion hanyalah tentang Riley. Tidak ada yang lebih berarti dalam hidup Zion, selain Riley. Riley adalah segalanya. Ia takkan bisa hidup tanpa anaknya itu.


Ting


Pintu lift terbuka. Felix keluar bersama Zion dan Riley.


Sementara lelaki yang berdiri dibelakang mereka tadi, hanya terdiam membeku ditempat nya. Wanita itu? Bocah itu? Mereka, siapa?


"Tuan," panggil Robin. "Itu Nona Zion," ucap Robin.


Zoalva mengangguk. Lelaki itu tersandar di dinding lift sambil memegang dadanya. Sejak pedang itu tertusuk didadanya. Ia sering merasakan nyeri saat jantungnya berdebar-debar.

__ADS_1


"Tuan," Robin menahan tubuh Zoalva.


"Bin, siapa lelaki itu? Siapa bocah itu? Kenapa wajahnya mirip denganku?" cecar Zoalva. Mata lelaki itu berkaca-kaca.


Apakah Zion hamil anaknya sebelum menghilang?


"Siapa anak kecil itu, Bin?" ucap Zion. Ia masih bersandar di dinding lift.


"Tuan, saya yakin jika dia anak anda Tuan," jelas Robin.


"Bin, kita susul mereka,"


Zoalva keluar dari dalam lift dan mencari keberadaan Zion dan Riley yang dia temui di lift tadi. Jantungnya berdebar-debar. Begitu banyak yang dia lewatkan selama ini. Ia bahkan tidak tahu jika anaknya hadir didunia ini.


"Kemana mereka?" tanya Zoalva mencari keberadaan Zion ditengah kerumunan orang yang berjumlah ratusan orang itu.


"Selamat datang Tuan Zoalva," sambut para kolega bisnis nya.


Namun lelaki itu malah tak merespon sama sekali, ia terus berkeliling mencari keberadaan Zion dan anaknya seperti orang gila.


"Tuan," Robin berusaha menenangkan Zoalva. Namun lelaki itu masih saja mencari tanpa peduli dengan sapaan dan panggilan orang-orang dan Robin padanya.


"Zion," Zoalva mengusap kepalanya kasar.


"Tuan sadar," Robin mencengkram tangan Zoalva. "Anda harus sabar. Kita tidak bisa gegabah Tuan. Disini banyak munsuh yang mengawasi anda," bisik Robin.


Zoalva langsung tersadar. Ia mengangguk dan mengusap air matanya kasar. Namun hatinya masih berharap dipertemukan kembali dengan Zion dan anak kecil yang begitu mirip dengannya.


Zoalva yakin jika itu adalah anaknya karena hanya dirinya yang menyentuh Zion. Tidak ada lelaki lain dan Zoalva yakin hal itu.


"Selamat datang Tuan Zoalva," sapa Jaya, pemilik Adijaya Group. Perusahaan baru yang baru saja di bangun dan menjalin kerja sama dengan perusahaan milik Zoalva.


"Terima kasih Tuan," jawab Zoalva memaksakan senyum. Ia berusaha tenang meski hatinya sangat ingin mencari keberadaan Zion.


Zoalva ikut bergabung bersama rekan bisnis yang lainnya. Namun ia terus melirik sekitar nya. Barang kali ia menemukan Zion di antara ratusan manusia itu.


Benar saja, tatapan nya tertuju pada Zion yang tengah makan disalah satu meja bersama beberapa rekan bisnis nya.

__ADS_1


Tampak wanita itu berbincang-bincang dengan lincah. Tatapan Zoalva sama sekali tak beralih. Jantung nya berdebar kembali ketika melihat wajah yang dia rindukan selama lima tahun ini. Takdir Tuhan telah membawa nya kembali bertemu Zion. Apakah ini pertanda Zion akan kembali padanya?


__ADS_2