Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia

Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia
Kekalahan


__ADS_3

Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺


Prang prang prang prang


Zoalva dan Vincent masih saling serang menyerang satu sama lain. Dua-duanya kompak meluapkan emosi dan kemarahan.


"Jangan pernah bermimpi Zoalva. Dia tidak akan kembali pada mu lagi," ejek Vincent. "Dia sudah menjadi milikku dan kau tahu, dia sekarang menggandung anakku," ucapnya sengaja memanas-manasi Zoalva.


Prang prang prang prang prang


Namun Zoalva bukan lah orang yang mudah dikelabui dengan ucapan seorang. Tak mungkin Zion hamil anak Vincent karena dia tahu dia adalah orang pertama yang menyentuh gadis itu dan akan menjadi orang terakhir karena Zoalva takkan membiarkan siapapun. Hanya ia yang boleh menyentuh tubuh wanita itu.


"Perlu kau ketahui Zoalva. Bahwa Zion takkan kembali lagi padamu, aku sudah membawanya pergi sejauh mungkin," Vincent tersenyum miring sambil terus menghindari serangan Zoalva.


"Brengsek.....," Zoalva menyerang dengan membabi buta.


Prang prang prang prang prang


Prang prang prang prang prang


Vincent kewalahan menyeimbangi kekuatan Zoalva dalam menyerang nya. Ia akui jika jika serangan Zoalva mampu menebus kubu pertahanan.


Sretttttttttttttttttt


"Arghhhhhhhhhhhhh,"


Prangggggggggg


Zoalva meringgis saat pedang itu mengenai bagian perut nya dan pedang nya terjatuh di tanah. Darah segar mengalir dibagian perut nya dengan deras hingga muncrat seperti air.


"Tuan," teriak Robin.


Namun Zoalva menahan dengan tangannya dan memberi kode agar Robin tak menghampiri nya. Ia baik-baik saja.


"Hahaha hanya segini kemampuan mu, raja Mafia?" ledek Vincent sambil tertawa menggema.


"Ehem, yaa seperti nya aku harus mengucapkan selamat tinggal padamu," ia tersenyum smirk lalu berjalan sambil menyeret pedangnya yang sudah berlumuran darah.


Zoalva tersenyum licik meski pandangan nya mulai kabur karena darah keluar begitu banyak. Apakah setelah ini ia akan mati? Tapi jika boleh jujur Zoalva belum ingin. Ia ingin bertemu Zion dan mengucapkan kata maaf karena sudah salah paham dan menyiksa wanita yang tak bersalah itu. Semoga masih ada kesempatan bagi nya untuk memperbaiki semua kesalahan yang ia perbuat.


"Arghhhhhhhhhhh," Vincent menusuk Zoalva tepat mengenai dada lelaki itu.


"Arghhhhhhhhhhhhh," teriak Zoalva kesakitan.


"Selamat tinggal kawan,"


DOR

__ADS_1


Zoalva menempelkan pistolnya dijantung Vincent hingga membuat lelaki itu terdiam dan darah keluar dari mulut nya.


"Kita impas kawan," ledek Zoalva.


DOR


Sekali lagi ia menembakkan pistol yang menggandung racun itu di jantung Vincent.


Darah juga mengalir di mulut Zoalva. Tatapan mulai kabur


BRAKKKKKKKKKKKKKK


Keduanya jatuh tergelatak ditanah dengan bersimbah darah.


"Zion," gumam Vincent sebelum akhirnya menutup mata.


Tubuh Vincent langsung membiru racun yang terkandung di peluru Zoalva membuat seluruh tubuh Vincent melumpuh seketika.


Sedangkan Zoalva tersenyum penuh kemenangan meski keadaan nya sekarat ia masih sempat mengejek Vincent yang sudah kaku ditanah.


"Zion, aku hanya melihat mu Sayang. Sekali saja,"


Zoalva pun memejamkan matanya bersama Vincent. Kedua pria itu tergeletak dalam kekalahan yang sama.


Suara tembakkan masih saling bersahutan. Belum ada yang menyadari jika kedua ketua Mafia itu tergeletak ditanah dengan keadaan yang menggenaskan.


Dor dor dor dor dor dor dor


"Ayo cepat," Darwin dan Norton membawa Zoalva masuk kedalam Helikopter diikuti oleh Robin, John dan Remnick.


DORRRRRRRRRR


Pulau tersebut meledak oleh bom yang dibawa Zoalva.


Sedangkan helikopter Zoalva mengudara tepat saat bom itu meledak dan menghanguskan pulau pribadi Vincent yang ia beli selama puluhan tahun terakhir.


"Bagaimana keadaan nya?" tanya John panik.


"Dia kehilangan banyak darah. Mustahil jika dia bertahan hidup," sahut Remnick.


.


.


.


Prang.....

__ADS_1


"Awwwwwwww," gelas yang Zion pegang langsung terjatuh dilantai. Wanita itu meringgis.


"Nona, anda baik-baik saja?" Felix segera menghampiri Zion. "Astaga, Nona ini luka," Felix segera menghisap darah yang keluar dari jari Zion.


"Zion, kenapa?" Ariana tampak panik dan menghampiri Zion dan Felix.


"Tidak apa-apa Bu. Tangan tadi kena pecahan kaca," jawab Zion.


"Ya sudah sini Ibu obati," ucap Ariana. "Felix, panggilkan pelayan untuk membersihkan nya," suruh Ariana.


"Baik Bik," sahut Felix.


Ariana menuntun Zion duduk di sofa. Tak lupa ia meminta para pelayan untuk mengambilkan kotak P3K.


"Kau sedang memikirkan sesuatu?" tanya Ariana sambil mengobati luka kecil ditangan Zion.


Zion mengangguk. "Iya Bu. Aku sedang memikirkan Kak Vincent Bu. Aku tidak Kakak kenapa-kenapa," jawab Zion sambil menghela nafas panjang.


"Jangan khawatir dia bisa jaga diri," sahut Ariana tersenyum. Ariana senang jika akhirnya ada yang mengkhawatirkan Vincent. Meski perasaan Zion sama sekali tak ada untuk putra angkatnya itu tapi setidaknya ada rasa empati dihati Cia untuk Vincent.


Zion tampak melamun. Sejak menjadi wanita hamil ia lebih mudah lelah padahal tidak melakukan aktivitas yang berat. Wanita itu mengusap perut nya yang sudah setengah membuncit. Usia kehamilan nya memasuki bulan keempat. Semoga bayi nya baik-baik sama.


Meski tak pernah terbayang kan bagi Cia hamil diluar nikah dan usia muda. Entah apa yang akan ia katakan nanti pada anaknya ketika anak nya sudah dewasa. Pasti anak nya itu akan bertanya dimana Ayah nya, lamban laun pun Zion akan menjawab pertanyaan yang sebenarnya tak ingin ia jawab sama sekali.


"Bagaimana dengan kandungan mu?" tanya Ariana memecahkan keheningan.


Sejak pertama datang kesini Zion memang sering melamun. Walau begitu ia tetap ramah senyum. Zion hanya sedang meratapi nasibnya. Nasib hidupnya yang tak sama dan berbeda dari orang lain. Kehilangan Ibu sejak ia lahir. Kehilangan sang Kakak saat ia kecil. Dan ia sekarang hamil diluar nikah. Hamil anak pria yang begitu ia benci. Ia bahkan tak ingin menyebut dan mengenal pria itu lagi.


"Dia baik-baik saja Bu," jawab Zion. "Terkadang aku merasa mereka ada dua atau tiga perut ku berat sekali. Tapi terkadang juga aku merasa dia sendiri didalam sini, mungkin karena aku kelelahan sehingga berpikir jika dia lebih dari satu," Zion terkekeh dengan ucapannya sendiri.


Ariana pun tersenyum. "Semoga saja dia menjadi mereka," sambung Ariana.


"Aku juga berharap begitu Bu," senyum Zion manis sekali.


Wajahnya yang dulu ceria kini berubah menjadi dingin. Entahlah begitu banyak proses dan masalah yang ia hadapi sehingga menjadikan dia wanita yang tak tersentuh.


"Nona ini susu nya,"


"Terima kasih Bik," Ariana menyambut segelas susu dari tangan salah satu pelayan.


"Ayo Nak. Minum dulu susu nya,"


Sesuai perintah Vincent. Ariana merawat Zion seperti anak nya sendiri. Menjadi Ibu yang baik untuk Zion meski semua itu tidak cukup mengobati luka yang sudah mengangga dihati Zion sejak ia lahir. Tapi setidaknya kehadiran nya bisa menutup sedikit luka di hati Zion.


"Terima kasih Bu," Zion tersenyum hangat. "Aku merasakan kasih sayang Ibu," mata Zion berkaca-kaca.


"Kau boleh anggap Ibu, seperti Ibu kandung mu sendiri," Ariana mengusap air mata Zion. "Ibu berjanji akan menemani mu hingga nanti," ucapnya tulus lalu menarik wanita itu kedalam pelukannya. Di masa tua nya Ariana ingin sekali Vincent menikah namun seperti nya, putra angkat nya itu tidak berniat sama sekali membangun kehidupan rumah tangga yang bahagia.

__ADS_1


**Bersambung... **


__ADS_2