
**Happy Reading 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺**
Hari ini Zoalva sudah di perbolehkan pulang oleh dokter. Kondisi nya sudah mulai membaik. Dia hanya perlu istirahat total dan tidak boleh banyak bergerak.
Selama Zoalva sakit, Zion menjadi wanita siaga menjaga lelaki yang berstatus Ayah dari anak nya itu meski tanpa ikatan pernikahan. Zion merasa bersalah karena dia sudah mengabaikan Zoalva. Dia tahu lelaki ini pasti melewati sesuatu yang sangat berat saat berpisah dari nya.
"Pelan-pelan, Tuan," Zion membantu lelaki itu masuk ke dalam mobil.
"Terima kasih," senyum Zoalva.
Zion mengangguk dan tersenyum. Rasa benci dan ketakutan yang dulu menjadi pelipur lara, kini perlahan mulai memudar. Tidak ada lagi benci atau takut. Yang ada perasaan kasihan. Bagaimana pun, lelaki ini adalah Ayah dari anaknya. Zion tak boleh egois yang mementingkan dirinya sendiri. Di banding putra semata wayangnya.
"Ray, di mana?" tanya Zoalva. Selama dia sakit dia tidak pernah melihat putra kecil itu. Dia ingin sekali memeluk Riley.
"Ada di rumah Tuan, nanti dia akan menemui mu," sahut Zion.
Zoalva mengenggam tangan wanita ini dengan erat. Seakan takut jika Zion pergi lagi dari hidupnya. Tidak mudah menemukan Zion. Bahkan ia sudah mengerahkan semua kemampuan nya agar bisa bertemu dengan wanita ini. Dan akhirnya takdir kembali mempertemukan mereka.
"Jangan panggil aku Tuan. Sebentar lagi kita akan menikah," ucap Zoalva tersenyum lembut.
"Aku harus panggil apa?" gumam Zion seperti sedang berpikir namun masih bisa didengar oleh Zoalva.
"Terserah, asal jangan Tuan. Akh bukan majikkanmu dan kau bukan pelayan ku," jelas Zoalva terkekeh. Sejak dirumah sakit ditemani oleh Zion, luka yang dulunya mengangga dan terbuka lebar kini perlahan menutup dirinya.
Zion mengetuk-ngetuk pelipisnya seolah sedang berpikir keras.
"Ah," pekik Zion berjingkrak setelah menemukan nama panggilan untuk lelaki yang ada disampingnya.
"Astaga, jangan teriak-teriak," omel Zoalva terkejut sambil mengelus dadanya.
"Heheh maaf, apa kau mengejutkan mu?" Zion menampilkan wajah imutnya. Setelah sekian lama senyum itu memudar baru kali ini, Zion menampilkan senyum manisnya.
Zoalva benar-benar gemes. Kalau sampai dia tidak menemukan Zion, dia akan menjadi pria paling menyedihkan didunia.
"Kau ini....." Zoalva menciumi wajah Zion dengan gemes nya.
"Hahahaha Kakak geli. Geli Kak," Zion tertawa lepas didalam mobil.
Robin yang menyetir hanya tersenyum sambil menggeleng. Sudah lama Zoalva tak tersenyum, sejak kehilangan kedua orang tua nya dan ditambah dengan perpisahan nya bersama Zion. Ia semakin murung dan menutup diri.
__ADS_1
Tapi sekarang lelaki itu tampak bahagia bersama Zion. Robin berharap ini awal yang baik untuk mereka berdua. Semoga saja kedua orang ini dipersatukan tanpa ada lagi kata pisah.
Sampai di kediaman Myron dan Zevanya, mobil yang Robin kendarai berhenti disana. Meski selama dirumah sakit banyak yang bertanya-tanya mereka siapa, apalagi terlihat jelas perbedaan antara orang Indonesia dan orang Amerika.
"Mommy," teriak Riley dari luar bersama ketiga anak Zevanya dan putra Zie.
"Riley," Zion tersenyum hangat.
Mata Zoalva berkaca-kaca menatap kedatangan putra kecil nya itu. Hatinya langsung hangat melihat wajah polos yang tidak pernah ia sadari kehadiran nya.
"Mommy, Ray rindu sama Mommy. Kata Ayah Mommy pergi," ucap nya sendu sambil memeluk Zion.
Riley memang tidak tahu kemana Zion pergi. Sebab anak nya itu akan panik jika tahu Ibu nya kerumah sakit. Ingin mengatakan siapa yang sakit, Riley pasti akan lebih terkejut lagi.
"Mom, dia siapa?" Riley menatap Zoalva penuh selidik. Apalagi lelaki ini menatapnya tak berkedip.
"Ayo kita masuk dulu. Nanti Mommy jelaskan ya Nak," bujuk Zion. Riley memiliki jiwa ingin tahu yang tinggi. Jika pertanyaan nya belum di jawab. Ia takkan berhenti bertanya.
"Ray, bisa jalan sendiri kan Son?" ujar Zion karena ia harus menbantu Zoalva.
"Ray di gendong Ayah saja," Riley mengulurkan tangannya pada Felix.
Kenapa hati Zoalva sakit sekali melihat putranya akrab dengan lelaki lain, apalagi panggilan Ayah tersebut membuat hatinya berdenyut. Ia merasa banyak hal yang telah ia sia-siakan dalam pertumbuhan putranya selama ini.
Mereka masuk kedalam. Myron dan Zevanya, Grabielle dan Zie juga menyembuat kedatangan mereka dengan senyum. Harapan dalam hati mereka sama. Semoga Zoalva dan Zion dipersatukan dalam cinta yang abadi. Apalagi mereka sudah memiliki anak meski tanpa hubungan pernikahan.
"Son," Zion memangil Riley.
"Iya Mom, kenapa?" pria kecil itu menatap Ibu nya.
"Sini dekat Mommy," Zion melambaikan tangannya agar Riley mendekat padanya.
Riley mengangguk lalu turun dari gendongan Felix. Dia pikir Zion kemana? Karena Ibu nya itu sama sekali tak memberinya kabar.
Ariana ikut tersenyum. Akhir nya Rilet bertemu Ayah kandungnya. Meski dalam hati ia sedikit takut jika pertemuan Zoalva dan Riley akan membuat dia kehilangan pria kecil itu. Namun, Ariana tak mau egois. Ia yakin Zion dan Riley akan tetap bersama nya hingga nanti.
"Ray, ingin bertemu Daddy?" tanya Zion sambil mengusap dengan sayang kepala putra kecilnya.
Riley mengangguk dengan polos nya. "Ray sangat ingin bertemu Daddy, Mom," sahut nya.
__ADS_1
"Apa yang akan Ray lakukan kalau bertemu Daddy?" tanya Zion lagi dengan senyuman hangat nya. Wanita ini memang sangat cantik di paras dan hatinya
"Ray, akan peluk Daddy sepuasnya!" seru lelaki kecil itu.
Mereka semua terkekeh. Riley tidak tahu saja jika lelaki yang dia rindukan itu, kini masih menatapnya dengan sendu. Tatapan penuh kerinduan yang belum juga tersematkan. Semoga segera terbayarkan dengan pertemuan yang tak terduga ini.
"Rindu yaaa sama Daddy?" goda Zion terkekeh.
"Rindu sekali Mommy," jawab Riley cepat. Anak mana yang takkan merindukan sosok kedua seorang Ayah. Walau ia anak yang lahir dari sebuah kesalahan, namun dia benar-benar merindukan Ayah kandungnya.
"Son," panggil Zion.
"Iya Mom?" Riley mengangkat kepalanya dan menatap kearah Zion.
"He's your Daddy," sambil menunjuk Zoalva yang duduk disamping nya.
Riley terkejut. Dia menelisik wajah Zoalva yang memang mirip dengannya. Kenapa dari tadi dia tidak memperhatikan wajah lelaki ini.
"Maksud Mommy, dia Daddy Mom?" ulang Riley sekali lagi. Barang kali dia salah dengar.
"Iya Son. Dia Daddy mu. Ayo peluk Daddy, Nak," suruh Zion.
Namun Riley malah diam. Dia menatap Zoalva dari ujung kaki sampai rambut. Ini kah lelaki yang dia rindukan selama ini.
"Kenapa Son?" tanya Zion heran melihat anaknya yang terdiam saja.
Sementara Zoalva menahan lelehan bening di pipi nya. Apa sang anak akan menolak dirinya dan marah karena dulu ia pernah menyia-nyiakan kedua orang ini.
Robin menata Zoalva kasihan. Baru kali ini, ia melihat titik kerapuhan dari seorang Zoalva.
"Daddy," panggil Riley.
Zoalva langsung mengangkat kepalanya.
"Son,"
"Daddy,"
Kedua pria itu saling berpelukan dan bertangisan. Zoalva memeluk Riley dengan erat. Sangat erat. Ya Tuhan, seperti bermimpi saja. Pria kejam dan Mafia terkenal seperti nya memiliki anak setampan Riley.
__ADS_1
Bersambung...