Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia

Terjerat Cinta Balas Dendam Sang Mafia
Informasi


__ADS_3

**Happy Reading 🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡🍡**


"Bagaimana Bin?" tanya Zoalva sambil meringgis memegang dadanya. Bekas tancapan pedang didadanya masih terasa sakit dan perih jika ia terlalu banyak bergerak.


"Tuan, Nona Zion tidak pernah menikah. Laki-laki itu adalah asisten Tuan Vincent yang ditugaskan untuk menjaga Nona," jelas Robin dengan iPad.


"Sudah ku duga," Zoalva tersenyum devil. "Dia tidak mungkin menikah. Dia milikku. Hanya aku yang boleh memiliki nya," ucap Zoalva terkekeh pelan. Seperti yang dia katakan Zion adalah miliknya dan ia yakin jika Zion akan kembali padanya meski ia sendiri tidak yakin hal itu akan terjadi.


"Lalu anak laki-laki itu?" tanya Zoalva lagi


"Tuan, seperti nya....." Robin tampak menghela nafas panjang.


"Seperti nya apa Robin?" lelaki itu menatap asisten nya.


"Dia adalah anak anda," jawab Robin.


Deg


Zoalva menatap asisten nya tak percaya. Benarkah anak kecil itu adalah putranya? Putra kandungnya.


"Kau sedang tidak mengajakku bercanda kan Bin?" tanya Zoalva dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Saya sudah melakukan beberapa penyelidikan Tuan. Nona tidak pernah menjalin hubungan dengan siapapun kecuali anda. Jadi saya yakin jika anak itu adalah putra Tuan," jelas Robin


Zoalva memejamkan matanya. Tanpa sadar air mata lelaki itu luruh di pipinya. Jantungnya lagi-lagi berdenyut sakit. Bagaimana bisa ia sama sekali tidak menyadari kehadiran anak nya itu? Lima tahun berlalu, semua seperti mimpi. Semua berlalu sangat cepat.


"Atur pertemuan ku dengan mereka Bin," titah Zoalva. "Utus sebanyak-banyaknya pengawal untuk menjaga mereka. Barry Schwartz berada di negara ini. Aku takut dia menargetkan Zion dan putraku sebaik titik kelemahan ku," sambungnya.


"Baik Tuan,"


Robin keluar dari ruangan Zoalva. Asisten yang satu ini selalu bisa diandalkan dalam segala hal. Tak heran jika ia mampu bertahan bersama Zoalva hingga sekarang. Ia memiliki kinerja yang bagus dan displin.


"Zion," lelaki itu menangis lagi. "Terima kasih Sayang. Terima kasih kau bertahan disaat aku tidak ada disisi mu. Terima kasih sudah melahirkan seorang putra yang sangat tampan. Aku berjanji akan menyerahkan hidup dan matiku untuk menjaga kalian berdua. Aku mencintai kalian," ucap Zoalva.


Zoalva merasakan jantung berdegup kencang. Rasanya tak sabar ingin menemui anaknya. Namun ia sadari bahwa ia tak boleh gegabah. Dia tak mau karena ketidaksabaran nya membuat ia kehilangan Zion dan anaknya lagi. Semoga saja, Tuhan kali ini mengizinkan ia bahagia.


"Zo,"


Myron dan Grabielle menghampiri Zoalva. Tampak Zoalva setengah membaringkan punggung nya di sofa. Tangannya memegang dada dan sesekali mengusap dadanya yang terasa perih.


"Kak. Bielle," ia menyambut kedua orang itu dengan senyuman.

__ADS_1


Myron dan Grabielle memang tinggal di Indonesia selama ini. Keduanya membangun perusahaan dan mengembangkan perusahaan tersebut di Indonesia.


"Bagaimana keadaanmu?" Myron duduk disamping Zoalva.


"Seperti yang kau lihat Kak," jawab Zoalva lemes. Memang selama lima tahun terakhir ini dia merasa tubuhnya tak baik-baik saja.


"Apa yang bisa kamu bantu Kak?" tanya Grabielle. Ia ikut meringgis kesakitan saat melihat Zoalva.


Zoalva menggeleng. "Tidak perlu Bielle. Aku bisa atasi sendiri," sahut Zoalva tersenyum. Ia bersyukur setidaknya masih ada orang yang peduli padanya.


"Zo, aku dengar pengiriman senjata mu ke China bermasalah. Apa kau tahu?" ucap Myron.


Zoalva terkejut. Ia sama sekali tidak tahu masalah pengagalan senjata itu. Anak buahnya yang di New York tidak mengabari nya tentang hal tersebut.


"Aku tidak tahu Kak," jawab Zoalva.


"Kau tenang saja. Kakak sudah memerintahkan Kenzie dan Dave untuk mengurus nya. Fokuslah mencari anakmu,"


Zoalva lagi-lagi terkejut. Dari mana Myron tahu tentang anaknya.


"Kakak tahu dari mana?" tanya Zoalva tak menyangka jika Myron tahu masalah anaknya.


Myron tersenyum. "Jangan lupakan siapa istriku, Zo," Myron terkekeh pelan.


Zoalva mengangguk. Ia cukup terharu. Setidaknya selama ia jauh ada orang yang melindungi anak dan wanita nya.


"Hati-hati. Barry seperti nya sedang menargetkan Zion dan Riley untuk memancing mu. Saranku segera bawa mereka tinggal bersama mu," saran Myron


"Tapi Kak..." Zoalva menggeleng. "Zion sama sekali tidak mau Kak. Bahkan menatapku saja dia tidak mau," lirih Zoalva menunduk.


"Tenang, nanti istri kami yang akan urus Kak," ucap Grabielle bangga sambil menepuk pundak Zoalva.


"Terima kasih Bielle,"


Zoalva tak sabar jika menantikan Zion dan anaknya tinggal bersama nya. Semoga saja ini awal dari hubungan mereka. Semoga saja hidupnya setelah ini baik-baik saja.


.


.


"Kak yakin ini rumah Zion?" tanya Zie celinggak-celinguk saat turun dari mobil.

__ADS_1


"Hem alamatnya tidak mungkin salah Zie," sahut Zevanya.


"Kak, aku masih penasaran. Bagaimana bisa Kak Zo punya anak sama Zion tapi belum menikah?" ujar Zie. Kecerewetan wanita anak satu itu masih tak hilang.


"Ck, jangan bertanya pada Kakak. Bukankah kau sudah dengar cerita Kak Myron," Zevanya memutar bola matanya malas.


"Sudah ayo kita masuk,"


Kedua istri Sultan itu berjalan masuk kedalam gerbang rumah mewah Zion.


"Selamat malam Nona. Maaf anda ingin bertemu dengan siapa?" tanya satpam sopan sambil membungkuk hormat.


"Malam Paman. Perkenalkan aku Zevanya dan ini adik iparku, Zie," keduanya berkenalan dengan kedua satpam yang berjaga didepan rumah mewah itu.


"Iya Nona," keduanya malah tersenyum.


"Paman, apakah Nona Zion ada. Kami ingin bertemu dengannya?" ucap Zevanya.


"Ohh silahkan masuk Nona," sahut kedua satpam itu.


"Terima Paman Tampan," goda Zevanya sambil mengedipkan matanya.


Zie mendelik. Kakak iparnya itu sudah tua juga masih saja genit.


Keduanya masuk kedalam. Zie menelisik interior rumah Zion. Rumah ini mewah dan tertata rapi.


"Maaf kalian siapa?" tanya Felix menatap penuh selidik kedua wanita yang berjalan sambil mengendap-endap seperti seorang pencuri.


"Ehem, maaf Tuan kami Kakak ipar ehh salah maksudnya kami teman dari Nona Zion," jelas Zie tersenyum sambil menampilkan rentetan gigi putihnya.


"Teman?" kening Felix berkerut heran. Setahu dia Zion tidak memiliki teman orang Indonesia selain Chole dan juga Lina.


"Iya Tuan. Kami teman Nona Zion," sambung Zevanya sambil menampilkan senyum semanis mungkin.


Felix menatap curiga kedua wanita ini. Terlihat mereka bukan orang biasa. Dari cara bicara serta pakaian yang mereka kenakan. Tapi siapa mereka? Apa tujuan mereka datang kesini.


"Siapa Kak?" Zion keluar karena mendengar suara orang. Sebelum nya tidak ada tamu yang datang kerumah mereka. Karena Felix memang menjaga keamanan Zion dan Riley.


"Hai Zion," sapa Zevanya dan Zie bersamaan sambil melambaikan tangan mereka.


Zion mendelik. Siapa mereka? Kenapa kenal padanya? Perasaan ia tidak mengenal kedua wanita ini. Wajah mereka juga asing. Bahkan dalam mimpi pun Zion tak pernah melihat keduanya

__ADS_1


**Bersambung... **


__ADS_2